JAKARTA, KOMPAS.com - Dwi Siti Qurrotu Aini, mahasiswi Institut Teknologi Bandung, menyulap sampah menjadi karya seni untuk mengingatkan masyarakat menjaga alam.
Karya seni yang dinamai Beautiful Raja Ampat itu tampak menjulang setinggi hampir dua meter dengan material sampah berwarna-warni berbentuk terumbu karang.
Siti bercerita, alasan pembuatan karya karena kecintaannya terhadap pantai. Ia pun ingin melihat langsung keindahan Raja Ampat. Namun kondisi terumbu karang yang semakin terancam membuatnya merasa perlu menyampaikan pesan lingkungan melalui karya.
"Jadi karya aku ini semacam reminder juga bahwa kalau misalkan kita enggak menjaga Raja Ampat ini bakal jadi kayak cuma fiksi buat generasi selanjutnya," kata Siti ditemui di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, Kamis (27/11/2025).
Baca juga: Sampah Campur dan Kondisi Geografis Bikin Biaya Daur Ulang di RI Membengkak
Mahasiswi Kriya ITB itu memanfaatkan sampah bekas penugasan kuliah antara lain botol plastik, kain, benang, hingga dakron yang kemudian diolah menjadi replika terumbu karang. Proses pengerjaan membutuhkan waktu sekitar dua pekan.
"Aku kayak sempet kepikiran apa buat instalasi ya, terus akhirnya lahirlah si karya ini dari si bahan-bahan enggak terpakai tersebut," ucap dia.
Siti berharap karyanya dapat menggugah kesadaran masyarakat akan dampak sampah terutama sampah plastik terhadap lingkungan. Ia menilai tanpa perubahan perilaku, kekayaan alam Indonesia berpotensi hanya tinggal cerita bagi generasi mendatang.
Siti sendiri beberapa kali mengikuti lomba bertema daur ulang dan sempat meraih juara dalam Eco Craft Competition. Di tahun ini, dia meraih juara satu Vir-ART-lity, kompetisi instalasi seni yang dihasilkan dari proses upcycling botol plastik PET.
Baca juga: Sampah Jadi Energi, Namun Tata Kelola Masih Berantakan
Kompetisi digelar Aqua bersama TMII, yang dengan tiga seniman nasional sebagai dewan juri dan 15 instalasi seni pilihan dari mahasiswa seni dari berbagai universitas.
“Pesan aku buat anak muda, tetap jaga lingkungan supaya alam Indonesia bisa terus dinikmati bukan cuma sama kita, tapi sama generasi setelahnya juga," papar Siti.
Mahasiswa UNJ menyulap sampah menjadi instalasi pengingat jaga laut, Kamis (27/11/2025). Ditemui di lokasi yang sama, Bagus Sesar Eko Jaenuri, mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Jakarta menjadi juara kedua kompetisi itu.
Karyanya bertajuk Sangga Murka di Palung Nirwana menceritakan sosok wayang Batara Baruna sang penguasa laut yang terganggu karena rumahnya kini dipenuhi sampah.
"Aku gambarin lama-kelamaan si sosok penguasa ini pun juga pada akhirnya akan tunduk jika kita enggak mengolah limbah-limbah ini dengan benar. Dan lama-kelamaan juga bakal menyatu dengan si limbah itu sendiri, jadi sesuatu hal yang buruk lah," jelas Bagus.
Proses pengerjaan karyanya memakan waktu 20 hari, disertai banyak percobaan dan kegagalan teknis. Bagus menggunakan berbagai potongan plastik yang dipanaskan menjadi pelat, kemudian disusun untuk instalasi.
Lalu dilengkapi modul teknologi berupa arduino dan servo yang menggerakkan elemen tertentu sembari menyuarakan pesan lingkungan melalui kalimat yang tertulis di atas pelat.
“Bagian tersulit itu teknologinya. Aku pakai modul untuk menggerakkan karya, dan sempat beberapa kali terjadi trial and error, bahkan sampai ada komponen yang kebakar,” ungkap dia.
Melalui karyanya, Bagus berharap mahasiswa maupun publik bisa lebih peduli terhadap isu lingkungan khususnya sampah plastik.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya