Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mahasiswa Sulap Sampah Jadi Karya Seni sebagai Pengingat Jaga Lingkungan

Kompas.com, 28 November 2025, 09:02 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Dwi Siti Qurrotu Aini, mahasiswi Institut Teknologi Bandung, menyulap sampah menjadi karya seni untuk mengingatkan masyarakat menjaga alam.

Karya seni yang dinamai Beautiful Raja Ampat itu tampak menjulang setinggi hampir dua meter dengan material sampah berwarna-warni berbentuk terumbu karang.

Siti bercerita, alasan pembuatan karya karena kecintaannya terhadap pantai. Ia pun ingin melihat langsung keindahan Raja Ampat. Namun kondisi terumbu karang yang semakin terancam membuatnya merasa perlu menyampaikan pesan lingkungan melalui karya.

"Jadi karya aku ini semacam reminder juga bahwa kalau misalkan kita enggak menjaga Raja Ampat ini bakal jadi kayak cuma fiksi buat generasi selanjutnya," kata Siti ditemui di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, Kamis (27/11/2025).

Baca juga: Sampah Campur dan Kondisi Geografis Bikin Biaya Daur Ulang di RI Membengkak

Mahasiswi Kriya ITB itu memanfaatkan sampah bekas penugasan kuliah antara lain botol plastik, kain, benang, hingga dakron yang kemudian diolah menjadi replika terumbu karang. Proses pengerjaan membutuhkan waktu sekitar dua pekan.

"Aku kayak sempet kepikiran apa buat instalasi ya, terus akhirnya lahirlah si karya ini dari si bahan-bahan enggak terpakai tersebut," ucap dia.

Siti berharap karyanya dapat menggugah kesadaran masyarakat akan dampak sampah terutama sampah plastik terhadap lingkungan. Ia menilai tanpa perubahan perilaku, kekayaan alam Indonesia berpotensi hanya tinggal cerita bagi generasi mendatang.

Siti sendiri beberapa kali mengikuti lomba bertema daur ulang dan sempat meraih juara dalam Eco Craft Competition. Di tahun ini, dia meraih juara satu Vir-ART-lity, kompetisi instalasi seni yang dihasilkan dari proses upcycling botol plastik PET.

Baca juga: Sampah Jadi Energi, Namun Tata Kelola Masih Berantakan

Kompetisi digelar Aqua bersama TMII, yang dengan tiga seniman nasional sebagai dewan juri dan 15 instalasi seni pilihan dari mahasiswa seni dari berbagai universitas.

“Pesan aku buat anak muda, tetap jaga lingkungan supaya alam Indonesia bisa terus dinikmati bukan cuma sama kita, tapi sama generasi setelahnya juga," papar Siti.

Mahasiswa UNJ menyulap sampah menjadi instalasi pengingat jaga laut, Kamis (27/11/2025). KOMPAS.com/ZINTAN Mahasiswa UNJ menyulap sampah menjadi instalasi pengingat jaga laut, Kamis (27/11/2025).

Ditemui di lokasi yang sama, Bagus Sesar Eko Jaenuri, mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Jakarta menjadi juara kedua kompetisi itu.

Karyanya bertajuk Sangga Murka di Palung Nirwana menceritakan sosok wayang Batara Baruna sang penguasa laut yang terganggu karena rumahnya kini dipenuhi sampah.

"Aku gambarin lama-kelamaan si sosok penguasa ini pun juga pada akhirnya akan tunduk jika kita enggak mengolah limbah-limbah ini dengan benar. Dan lama-kelamaan juga bakal menyatu dengan si limbah itu sendiri, jadi sesuatu hal yang buruk lah," jelas Bagus.

Proses pengerjaan karyanya memakan waktu 20 hari, disertai banyak percobaan dan kegagalan teknis. Bagus menggunakan berbagai potongan plastik yang dipanaskan menjadi pelat, kemudian disusun untuk instalasi.

Lalu dilengkapi modul teknologi berupa arduino dan servo yang menggerakkan elemen tertentu sembari menyuarakan pesan lingkungan melalui kalimat yang tertulis di atas pelat.

“Bagian tersulit itu teknologinya. Aku pakai modul untuk menggerakkan karya, dan sempat beberapa kali terjadi trial and error, bahkan sampai ada komponen yang kebakar,” ungkap dia.

Melalui karyanya, Bagus berharap mahasiswa maupun publik bisa lebih peduli terhadap isu lingkungan khususnya sampah plastik.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau