Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sampah Campur dan Kondisi Geografis Bikin Biaya Daur Ulang di RI Membengkak

Kompas.com, 27 November 2025, 11:07 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Biaya perluasan tanggung jawab produsen (extended producer responsibility/EPR) semakin mahal akibat kondisi persampahan di Indonesia yang tidak terkelola dengan baik. Biaya EPR bertambah untuk kegiatan memilih-memilah sampah yang dapat didaur ulang.

"Jadi, memang kalau kita buang sampah itu dijadikan satu, baik itu yang bisa didaur ulang atau tidak, sehingga hal tersebut sebetulnya sudah membuat harganya lebih mahal dalam konteks EPR karena sampah harus dipilah lagi," ujar Community Coordinator National Plastic Action Partnership, Bunga Karnisa Goib di Jakarta, Rabu (26/11/2025).

Kondisi persampahan di Indonesia berisiko merusak bahan baku untuk daur ulang karena tercampur dengan berbagai jenis limbah lainnya. Imbasnya, biaya EPR untuk mendaur ulang akan akan membengkak.

Baca juga: Sampah Jadi Energi, Namun Tata Kelola Masih Berantakan

Ini diperparah dengan kebiasaan masyarakat Indonesia membuang sampah sembarangan. Sampah yang hanyut ke sungai atau laut sudah sangat sulit untuk didaur ulang.

Infrastruktur untuk daur ulang sampah di Indonesia juga belum merata. Kata dia, infrastruktur untuk daur ulang sampah hanya terkonsentrasi di kota-kota Jawa.

"Beberapa waktu lalu, tim kami mengunjungi Raja Ampat, di sana banyak sampah yang bisa didaur ulang. (Tapi karena) Hampir semua pabrik untuk daur ulang itu ada di Jawa, akhirnya yasudah dibuang saja ke TPA (tempat pembuangan akhir). Untuk mengirim (sampah) dari Raja Ampat ke Jawa biayanya sangat mahal, enggak ke tutup," tutur Bunga.

General Manager Indonesia Packaging Recovery Organization (IPRO), Reza Andreanto mengatakan, kondisi geografis sebagai negara kepulauan menjadi tantangan berat dalam pengumpulan sampah untuk daur ulang di Tanah Air.

“Kita (mempunyai) 17 ribu pulau dan beberapa pulau-pulau besar atau kecil itu ranging geographical challenge-nya luar biasa. So then, paling tipikal sebagai challenge di Indonesia itu adalah collection cost. Itu yang paling tipikal bottleneck-nya itu di situ," ucapnya.

Untuk mengatasi mahalnya biaya tersebut, kata dia, perlu kontribusi dari industri melalui skema EPR dengan membangun infrastruktur maupun menyediakan insentif bagi upaya pengumpulan sampah. Ia berharap pemerintah menjadikan skema-skema tersebut sebagai mandatori berlandaskan peraturan melalui melalui Peraturan Presiden (Perpres) terkait pelaksanaan EPR yang dijadwalkan diterbitkan pada akhir tahun ini.

"Saat ini terkesan voluntary (sukarela) karena hanya industri itu-itu saja yang aktif. Tetapi, industri yang lain belum tentu komplit," ujar Reza.

Sementara itu, Director of Public Affairs, Communications and Sustainability The Coca-Cola Company Indonesia, Trijono Prijosoesilo menggarisbawahi pentingnya mengedukasi konsumen demi memudahkan pengumpulan sampah untuk daur ulang.

The Coca-Cola Company Indonesia, kata dia, mendorong konsumennya untuk mengantarkan botol-botol kemasan produknya ke pusat pengumpulan (Collection Center) yang sudah menjadi mitranya. The Coca-Cola Company Indonesia memberikan insentif atas pengumpulan sampah oleh konsumen, yang dikirimkan melalui e-wallet.

Baca juga: KLH: Indonesia Darurat Sampah, Tiap Tahun Ciptakan Bantar Gebang Baru

Selain itu, The Coca-Cola Company Indonesia juga mendesain kembali botol kemasan produk-produknya agar menjadi ramah daur ulang. “Kami mencoba mengurangi penggunaan plastik dari awal. Jadi, desainnya juga kami kelola,” tutur Trijono.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau