Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tanah, Tangan, dan Tutur: Model Komunikasi Budaya Lokal Melawan Komodifikasi

Kompas.com, 3 Desember 2025, 13:10 WIB
Yohanes Enggar Harususilo

Penulis

KOMPAS.com - Saat ini, dunia bergerak sangat cepat karena perkembangan globalisasi dan teknologi digital. Akibatnya, budaya lokal daerah menghadapi masalah besar. Kearifan lokal seringkali hanya dianggap sebagai komoditas sehingga makna pentingnya menjadi hilang.

Cara pandang menyempit ini berbahaya karena bisa merusak identitas dan cara berpikir asli masyarakat dengan segala kekayaan dan kearifannya.

Keprihatinan ini mengemuka dalam penelitian Laely Indah Lestari dalam disertasi doktor Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (27/11/2024) bertajuk “Tanah, Tangan, dan Tutur: Etnografi Komunikasi Representasi Budaya dalam Ekosistem Pariwisata Tenun Ikat Sumba Timur”.

Dalam risetnya, Laely merumuskan Model Komunikasi Budaya Tanah–Tangan–Tutur sebagai sebuah kerangka baru yang dinilai dapat mengubah cara Indonesia memahami dan mengelola warisan budaya.

Model ini menegaskan bahwa budaya bukan sekadar artefak pariwisata, tetapi ekologi makna yang terbentuk melalui tiga dimensi utama: tanah sebagai nilai kosmologis, tangan sebagai tindakan budaya yang meewujud, serta tutur sebagai narasi dan ritus yang menjaga kesinambungan identitas. 

"Pandangan artefak melihat budaya sebagai benda yang selesai entah itu kain, motif, atau upacara yang bisa ditampilkan atau dipromosikan. Masalahnya, pendekatan ini cenderung membekukan budaya dan menjadikannya komoditas tanpa melihat proses hidup di baliknya," ungkap Laely.

"Model Tanah–Tangan–Tutur memandang budaya sebagai ekologi makna, yaitu jaringan nilai, praktik, dan narasi yang bergerak secara dinamis. Dengan pendekatan ini, budaya tidak hanya dilihat dari hasilnya, tetapi dari relasi dan proses komunikasi yang membuatnya bertahan," jelasnya.

Dia menyampaikan, model ini memperbaiki kelemahan model sebelumnya yang terlalu fokus pada output, dengan menggeser perhatian pada kolaborasi antarnilai, perilaku, dan tutur adat yang menjaga keberlanjutan budaya dalam jangka panjang.

Baca juga: Usung Budaya Lokal, Ini Makna di Balik Desain Gerbang Tol Sinaksak

Mengangkat studi tenun ikat Sumba Timur, kearifan lokal ini semestinya bukan hanya dipandang sebagai komoditas pariwisata, tetapi juga instrumen diplomasi budaya dan medium representasi identitas masyarakat Sumba Timur.

Laely menunjukkan bagaimana komunikasi antara penenun, tokoh adat, wisatawan, pemerintah daerah, dan media membentuk arus komunikasi sirkular yang menentukan hidup-matinya makna budaya di tengah globalisasi.

"Dalam konteks globalisasi, ancaman paling nyata adalah hilangnya Tutur, karena narasi lokal sering diganti narasi pasar. Ketika salah satu dimensi terganggu, ekologi makna menjadi timpang dan budaya mudah mengalami komodifikasi yang mereduksi nilai aslinya," tuturnya.

“Budaya kita kaya, tetapi membutuhkan kerangka komunikasi yang kuat. Tanah–Tangan–Tutur adalah upaya saya untuk menghadirkan kerangka itu,” ujar Laely yang meraih predikat Summa Cum Laude dengan IPK sempurna (4,0) melalui disertasinya.

Menjelaskan makna lewat tutur

Model Tanah–Tangan–Tutur menawarkan cara pandang lain di mana komunikasi sebagai proses merawat nilai dan identitas.

Dalam model ini, jelas Laely, tenun ikat berfungsi sebagai diplomasi budaya karena membawa bahasa simbolik yang dapat dibaca oleh siapa pun, bahkan tanpa penerjemah. "Melalui motif, warna, dan teknik, ia (tenun ikat) menyampaikan kisah kosmologi dan identitas Sumba Timur," tegasnya.

Di tingkat nasional, diplomasi ini muncul dalam pameran, festival wastra, dan interaksi antara penenun dan publik. Di tingkat internasional, tenun menjadi medium naratif yang memperkenalkan Indonesia lewat produk budaya yang otentik.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau