Penulis
KOMPAS.com - Saat ini, dunia bergerak sangat cepat karena perkembangan globalisasi dan teknologi digital. Akibatnya, budaya lokal daerah menghadapi masalah besar. Kearifan lokal seringkali hanya dianggap sebagai komoditas sehingga makna pentingnya menjadi hilang.
Cara pandang menyempit ini berbahaya karena bisa merusak identitas dan cara berpikir asli masyarakat dengan segala kekayaan dan kearifannya.
Keprihatinan ini mengemuka dalam penelitian Laely Indah Lestari dalam disertasi doktor Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (27/11/2024) bertajuk “Tanah, Tangan, dan Tutur: Etnografi Komunikasi Representasi Budaya dalam Ekosistem Pariwisata Tenun Ikat Sumba Timur”.
Dalam risetnya, Laely merumuskan Model Komunikasi Budaya Tanah–Tangan–Tutur sebagai sebuah kerangka baru yang dinilai dapat mengubah cara Indonesia memahami dan mengelola warisan budaya.
Model ini menegaskan bahwa budaya bukan sekadar artefak pariwisata, tetapi ekologi makna yang terbentuk melalui tiga dimensi utama: tanah sebagai nilai kosmologis, tangan sebagai tindakan budaya yang meewujud, serta tutur sebagai narasi dan ritus yang menjaga kesinambungan identitas.
"Pandangan artefak melihat budaya sebagai benda yang selesai entah itu kain, motif, atau upacara yang bisa ditampilkan atau dipromosikan. Masalahnya, pendekatan ini cenderung membekukan budaya dan menjadikannya komoditas tanpa melihat proses hidup di baliknya," ungkap Laely.
"Model Tanah–Tangan–Tutur memandang budaya sebagai ekologi makna, yaitu jaringan nilai, praktik, dan narasi yang bergerak secara dinamis. Dengan pendekatan ini, budaya tidak hanya dilihat dari hasilnya, tetapi dari relasi dan proses komunikasi yang membuatnya bertahan," jelasnya.
Dia menyampaikan, model ini memperbaiki kelemahan model sebelumnya yang terlalu fokus pada output, dengan menggeser perhatian pada kolaborasi antarnilai, perilaku, dan tutur adat yang menjaga keberlanjutan budaya dalam jangka panjang.
Baca juga: Usung Budaya Lokal, Ini Makna di Balik Desain Gerbang Tol Sinaksak
Mengangkat studi tenun ikat Sumba Timur, kearifan lokal ini semestinya bukan hanya dipandang sebagai komoditas pariwisata, tetapi juga instrumen diplomasi budaya dan medium representasi identitas masyarakat Sumba Timur.
Laely menunjukkan bagaimana komunikasi antara penenun, tokoh adat, wisatawan, pemerintah daerah, dan media membentuk arus komunikasi sirkular yang menentukan hidup-matinya makna budaya di tengah globalisasi.
"Dalam konteks globalisasi, ancaman paling nyata adalah hilangnya Tutur, karena narasi lokal sering diganti narasi pasar. Ketika salah satu dimensi terganggu, ekologi makna menjadi timpang dan budaya mudah mengalami komodifikasi yang mereduksi nilai aslinya," tuturnya.
“Budaya kita kaya, tetapi membutuhkan kerangka komunikasi yang kuat. Tanah–Tangan–Tutur adalah upaya saya untuk menghadirkan kerangka itu,” ujar Laely yang meraih predikat Summa Cum Laude dengan IPK sempurna (4,0) melalui disertasinya.
Model Tanah–Tangan–Tutur menawarkan cara pandang lain di mana komunikasi sebagai proses merawat nilai dan identitas.
Dalam model ini, jelas Laely, tenun ikat berfungsi sebagai diplomasi budaya karena membawa bahasa simbolik yang dapat dibaca oleh siapa pun, bahkan tanpa penerjemah. "Melalui motif, warna, dan teknik, ia (tenun ikat) menyampaikan kisah kosmologi dan identitas Sumba Timur," tegasnya.
Di tingkat nasional, diplomasi ini muncul dalam pameran, festival wastra, dan interaksi antara penenun dan publik. Di tingkat internasional, tenun menjadi medium naratif yang memperkenalkan Indonesia lewat produk budaya yang otentik.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya