Penulis
"Diplomasi ini terjadi bukan karena kainnya saja, tetapi melalui proses komunikasinya, tutur adat, dokumentasi digital, hingga representasi di ruang fashion global," terangnya.
Ketika tokoh adat menjelaskan makna motif kepada wisatawan, wisatawan menanggapi dengan pengalaman, dokumentasi, atau pembelian. Respons ini kembali memengaruhi bagaimana komunitas menenun, bercerita, atau memposisikan nilai budaya mereka.
"Jika komunikasi ini terputus, misalnya narasi wisata lebih dominan dari narasi adat, maka makna budaya bisa melemah. Karena itu, komunikasi antara tokoh adat, pengrajin, dan wisatawan menentukan apakah nilai budaya tetap hidup atau bergeser menjadi sekadar komoditas," jelas Laely yang menyelesaikan studi hanya dalam 2 tahun 2 bulan.
Dia juga menyampaikam, model komunikasi ini dapat diterapkan pada warisan budaya lain karena prinsipnya universal.
"Setiap budaya memiliki nilai dasar (Tanah), praktik mewujud atau mengejawantakan (Tangan), dan narasi pelestarian (Tutur)," terangnya.
"Pada Reog Ponorogo; Tanah adalah kosmologi Jawa, Tangan adalah praktik tari, topeng, dan musik, Tutur adalah kisah dan ritus yang menyertainya. Pada subak Bali; Tanah adalah filosofi Tri Hita Karana, Tangan adalah praktik mengatur air, Tutur adalah ritus dan narasi harmoni," jelas Laely menyontohkan.
"Yang berbeda adalah isi dan konteks tiap elemen, namun hubungan antarelemen tetap sama yakni saling menghidupi dalam menjaga ekologi makna," tambahnya.
Oleh karenanya, dia mendorong rekomendasi terpenting dengan penyusunan Kebijakan Tata Kelola Narasi Budaya.
"Pemerintah perlu memastikan bahwa narasi warisan budaya yang keluar ke publik adalah narasi yang disepakati komunitas lokal, bukan narasi pasar atau promosi semata," tegas Laely mengingatkan.
Kedua, perlu pembentukan Unit Pengelola Narasi Digital di daerah, sebuah tim profesional yang bertugas memproduksi konten budaya yang etis, konsisten, dan berbasis nilai.
Baca juga: Ramaikan MotoGP 2025, Museum NTB Gelar Pameran Sejarah dan Budaya Lokal
Ketiga, pemerintah perlu memperkuat infrastruktur digital di desa budaya agar generasi muda dapat terlibat langsung sebagai duta narasi.
"Dan terakhir, perlu insentif kebijakan untuk riset berbasis epistemologi lokal agar warisan budaya Indonesia memiliki kerangka ilmiah yang kuat dan berkelanjutan," pungkasnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya