Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mikroplastik Cemari Pakan Ternak, Bisa Masuk ke Produk Susu dan Daging

Kompas.com, 3 Desember 2025, 19:35 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Mikroplastik telah menyusup ke seluruh sistem pertanian dan mencemari pakan ternak, menurut studi terbaru di Journal of Hazardous Materials. Akibatnya, ternak pun menelan mikroplastik dalam jumlah yang tak disadari saat memakan pakan mereka.

Studi ini juga ingin mengetahui apa yang terjadi ketika mikroplastik ini masuk ke dalam rumen atauu lambung sapi.

Baca juga:

"Penelitian kami merupakan langkah pertama untuk memahami konsekuensi biologis dari paparan mikroplastok pada hewan ternak," kata rekan penulis studi tersebut, Daniel Brugger dari Universitas Zurich, dilansir dari Earth, Rabu (3/12/2025). 

Mikroplastik disebut memasuki ekosistem pertanian melalui berbagai sumber, seperti bungkus silase, lumpur, kemasan, atau ban yang aus. Ukuran partikelnya yang sangat kecil memungkinkannya menembus tanah dan mencemari tanaman atau pakan ternak, yang akhirnya akan dikonsumsi oleh sapi, dilansir dari Earth, Rabu (3/12/2025). 

Lantas, apa yang peneliti temukan? 

Baca juga:

Mikroplastik dalam pakan ternak

Mikroba di lambung sapi bereaksi terhadap mikroplastik

Studi mengungkap, mikroba di rumen tidak hanya mencerna pakan, tetapi juga bereaksi terhadap partikel plastik. Beberapa partikel kemungkinan kehilangan massa atau terfragmentasi menjadi potongan-potongan yang lebih kecil.

Para ilmuwan juga berpendapat bahwa gesekan mekanis dari pakan, bersama dengan enzim mikroba, dapat mulai merusak permukaan plastik.

Namun, mikroplastik jelas-jelas mengganggu ekosistem pencernaan sapi. Misalnya saja mikroplastik mengurangi protein yang digunakan untuk metabolisme karbohidrat dan asam amino pada sapi.

Semakin kecil ukuran partikel mikroplastik, semakin besar dampaknya karena peningkatan kontak fisik dan luas permukaan untuk interaksi dengan mikroba rumen.

Selain itu, mikrobioma di usus yang tertekan karena mikroplastik juga dapat mengurangi efisiensi pakan. Hal ini melemahkan kinerja hewan dan meningkatkan biaya produksi.

"Studi kami menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa mikroplastik tidak hanya melewati saluran pencernaan hewan ternak. Sebaliknya, mereka berinteraksi dengan mikrobioma usus, mengubah proses fermentasi, dan sebagian terurai,” terang peneliti di Universitas Hohenheim, Jana Seifert. 

Selain itu, tak hanya berdampak pencernaan ternak, mikroplastik dapat menyebar ke luar rumen. Partikel yang lebih kecil dari 100 mikrometer dapat melewati penghalang usus. Begitu berada di dalam jaringan, partikel tersebut dapat terakumulasi di organ.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran tentang keamanan pangan karena daging, susu, dan produk hewani lainnya dapat mengandung fragmen kecil tersebut.

Baca juga: Krisis Iklim Perburuk Kualitas Ternak, Rasa Susu dan Keju Berubah

Meningkatkan risiko perpindahan plastik lewat rantai makanan

Mikroplastik telah menyusup ke sistem pertanian dan mencemari pakan ternak. Apa dampaknya? Simak penelitian terbaru ini. freepik Mikroplastik telah menyusup ke sistem pertanian dan mencemari pakan ternak. Apa dampaknya? Simak penelitian terbaru ini.

Pada hewan muda atau yang stres, serpihan plastik dapat lebih mudah masuk ke jaringan. Hal ini meningkatkan risiko perpindahan plastik melalui rantai makanan yang lebih luas.

"Polusi plastik bukan hanya masalah lingkungan 'di luar sana'. Polusi plastik memiliki konsekuensi biologis langsung bagi hewan ternak dan berpotensi bagi manusia melalui rantai makanan," kata Cordt Zollfrank dari Universitas Teknik München.

Para peneliti menyerukan pengendalian yang lebih baik atas penggunaan plastik di pertanian. Membatasi plastik ini dapat membantu melindungi hewan dan manusia yang bergantung ternak.

Studi ini pada akhirnya memberikan bukti baru kepada regulator dan dokter hewan bahwa mikroplastik mengubah aktivitas mikroba dan dapat menyusut ukurannya selama proses pencernaan. Interaksi ini harus dipertimbangkan ketika menetapkan batas aman untuk kontaminasi pakan.

Baca juga: Menteri LH: Bagaimana Tidak Hujan Mikroplastik, Semua Sampah Ditumpuk

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau