Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lubang Ozon di Antartika Menyusut, Tanda Bumi Mulai Pulih?

Kompas.com, 3 Desember 2025, 14:40 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

KOMPAS.com - Lubang lapisan ozon di Antartika dilaporkan menyusut. Para ilmuwan dari Eropa menyampaikan, ukuran lubang tersebut menjadi yang paling kecil dan paling singkat sejak tahun 2019.

Temuan ini dianggap sebagai "tanda yang meyakinkan" bahwa lapisan ozon mulai pulih setelah mengalami tekanan panjang akibat polusi. Informasi ini berdasarkan data dari Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS).

Baca juga:

"Penutupan yang lebih awal dan ukuran yang relatif kecil dari lubang ozon tahun ini merupakan tanda yang menggembirakan," kata Direktur CAMS, Laurence Rouil, dilansir dari The Guardian, Rabu (3/12/2025).

Rouil melanjutkan, hal tersebut mencerminkan kemajuan konsisten dari tahun ke tahun berkat larangan penggunaan bahan perusak ozon (ozon-depleting substances atau ODS).

Sebagai informasi, lapisan ozon dikenal sebagai "tabir surya planet" karena melindungi makhluk-makhluk di bumi dari bahaya sinar ultraviolet (UV) dari matahari. 

Bila lapisan ozon menipis maka lebih banyak sinar UV berbahaya mencapai permukaan bumi. Kondisi ini dapat merusak tanaman, serta meningkatkan risiko kanker kulit dan katarak pada manusia. 

Baca juga:

Lubang ozon di Antartika menyusut

Bukti kerja sama internasional yang konsisten bisa berdampak besar

Lubang ozon di Antartika menyusut ke ukuran terkecil sejak 2019. Apakah ini tanda pemulihan bumi? Simak penjelasannya.SHUTTERSTOCK/sirtravelalot Lubang ozon di Antartika menyusut ke ukuran terkecil sejak 2019. Apakah ini tanda pemulihan bumi? Simak penjelasannya.

Menurut laporan tersebut, lubang ozon mencapai luas maksimum 21 juta kilometer persegi pada September lalu. Ukuran tersebut jauh lebih kecil dibandingkan ukuran lubang ozon tahun 2023 yang mencapai 26 juta kilometer persegi.

CAMS menyebut lubang tersebut semakin menyusut hingga akhirnya menutup lebih cepat dari biasanya.

Peristiwa ini adalah tahun kedua berturut-turut ketika lubang ozon menunjukkan ukuran yang lebih kecil setelah periode dari 2020 hingga 2023 yang mencatat lubang lebih besar dan lebih lama.

Para ilmuwan masih mencari tahu mengapa ukuran lubang ozon pada periode tersebut begitu ekstrem. Salah satu faktor yang dicurigai adalah letusan gunung api Hunga Tonga pada 2022 yang menyemburkan uap air dan abu ke stratosfer, yang memicu lubang besar tahun 2023.

Sejak diberlakukannya Protokol Montreal 1987, penggunaan bahan perusak ozon, contohnya CFC, mulai dihentikan di seluruh dunia. Dampaknya mulai terlihat melalui tren pemulihan lapisan ozon.

Adapun studi dari Nature Climate Change tahun 2024 menunjukkan, penurunan emisi bahan perusak ozon berhasil menurunkan dampak pemanasan lebih cepat dari yang diperkirakan.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan bahwa lapisan ozon di Antartika dapat pulih hingga ke tingkat tahun 1980 pada tahun 2066, bila tren positif terus berlangsung.

Meski begitu, para ilmuwan mengingatkan bahwa pemulihan penuh masih membutuhkan waktu panjang.

CAMS menyampaikan, lubang besar dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan betapa seriusnya kondisi yang mungkin terjadi jika tidak ada kerja sama global. 

"Kemajuan ini patut dirayakan sebagai pengingat yang tepat waktu tentang apa yang dapat dicapai ketika komunitas internasional bekerja sama untuk mengatasi tantangan lingkungan global," kata Rouil.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Pemerintah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Pemerintah
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
LSM/Figur
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
LSM/Figur
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari 'Paman Sam'
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari "Paman Sam"
LSM/Figur
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
LSM/Figur
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
LSM/Figur
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
LSM/Figur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Pemerintah
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
LSM/Figur
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
LSM/Figur
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Swasta
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Pemerintah
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau