Penulis
KOMPAS.com - Lubang lapisan ozon di Antartika dilaporkan menyusut. Para ilmuwan dari Eropa menyampaikan, ukuran lubang tersebut menjadi yang paling kecil dan paling singkat sejak tahun 2019.
Temuan ini dianggap sebagai "tanda yang meyakinkan" bahwa lapisan ozon mulai pulih setelah mengalami tekanan panjang akibat polusi. Informasi ini berdasarkan data dari Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS).
Baca juga:
"Penutupan yang lebih awal dan ukuran yang relatif kecil dari lubang ozon tahun ini merupakan tanda yang menggembirakan," kata Direktur CAMS, Laurence Rouil, dilansir dari The Guardian, Rabu (3/12/2025).
Rouil melanjutkan, hal tersebut mencerminkan kemajuan konsisten dari tahun ke tahun berkat larangan penggunaan bahan perusak ozon (ozon-depleting substances atau ODS).
Sebagai informasi, lapisan ozon dikenal sebagai "tabir surya planet" karena melindungi makhluk-makhluk di bumi dari bahaya sinar ultraviolet (UV) dari matahari.
Bila lapisan ozon menipis maka lebih banyak sinar UV berbahaya mencapai permukaan bumi. Kondisi ini dapat merusak tanaman, serta meningkatkan risiko kanker kulit dan katarak pada manusia.
Baca juga:
Lubang ozon di Antartika menyusut ke ukuran terkecil sejak 2019. Apakah ini tanda pemulihan bumi? Simak penjelasannya.Menurut laporan tersebut, lubang ozon mencapai luas maksimum 21 juta kilometer persegi pada September lalu. Ukuran tersebut jauh lebih kecil dibandingkan ukuran lubang ozon tahun 2023 yang mencapai 26 juta kilometer persegi.
CAMS menyebut lubang tersebut semakin menyusut hingga akhirnya menutup lebih cepat dari biasanya.
Peristiwa ini adalah tahun kedua berturut-turut ketika lubang ozon menunjukkan ukuran yang lebih kecil setelah periode dari 2020 hingga 2023 yang mencatat lubang lebih besar dan lebih lama.
Para ilmuwan masih mencari tahu mengapa ukuran lubang ozon pada periode tersebut begitu ekstrem. Salah satu faktor yang dicurigai adalah letusan gunung api Hunga Tonga pada 2022 yang menyemburkan uap air dan abu ke stratosfer, yang memicu lubang besar tahun 2023.
Sejak diberlakukannya Protokol Montreal 1987, penggunaan bahan perusak ozon, contohnya CFC, mulai dihentikan di seluruh dunia. Dampaknya mulai terlihat melalui tren pemulihan lapisan ozon.
Adapun studi dari Nature Climate Change tahun 2024 menunjukkan, penurunan emisi bahan perusak ozon berhasil menurunkan dampak pemanasan lebih cepat dari yang diperkirakan.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan bahwa lapisan ozon di Antartika dapat pulih hingga ke tingkat tahun 1980 pada tahun 2066, bila tren positif terus berlangsung.
Meski begitu, para ilmuwan mengingatkan bahwa pemulihan penuh masih membutuhkan waktu panjang.
CAMS menyampaikan, lubang besar dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan betapa seriusnya kondisi yang mungkin terjadi jika tidak ada kerja sama global.
"Kemajuan ini patut dirayakan sebagai pengingat yang tepat waktu tentang apa yang dapat dicapai ketika komunitas internasional bekerja sama untuk mengatasi tantangan lingkungan global," kata Rouil.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya