Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Katak Langka Dilaporkan Menghilang di India, Diduga Korban Fotografi Tak Bertanggungjawab

Kompas.com, 22 Desember 2025, 21:08 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sekelompok galaxy frog atau katak galaxy (Melanobatrachus indicus) yang langka dikabarkan menghilang dari habitatnya di hutan Ghats Barat di Kerala, India, diduga akibat fotografer yang tidak bertanggung jawab.

Katak gelap kebiruan dengan bintik kuning atau putih ini sepintas terlihat beracun, padahal sebaliknya. Di hutan tersebut, mereka tinggal di bawah batang kayu. Namun, saat ini batang kayu tersebut telah dirusak.

Baca juga: 

"Batang kayu besar dan indah yang ada di sana telah hancur total dan tergeletak di tempat yang salah," ucap anggota dan peneliti dari Zoological Society of London, Rajkumar K P, dilansir dari The Guardian, Senin (22/12/2025).

Katak langka menghilang dari habitat, diduga akibat fotografer

Amfibi kecil sensitif terhadap sentuhan, suhu, dan flash

Dalam studi yang dipublikasikan di Herpetology Notespara peneliti mengingatkan bahwa spesies katak tersebut menghilang. 

Studi tersebut menemukan, praktik fotografi yang tak beretika adalah penyebab utama yang menimbulkan gangguan, perubahan perilaku, dan perkembangbiakan katak galaksi.

Adapun praktik fotografi tak beretika merujuk pada fotografer yang masuk ke hutan tanpa pengawasan ahli atau tak mematuhi perlindungan alam. Mereka sering hanya mengejar foto bagus alih-alih memerhatikan kelestarian satwa, dilansir dari CNN

Misalnya, fotografer memindahkan satwa dari tempat persembunyiannya ke tempat yang lebih terbuka agar mendapatkan cahaya dan latar belakang indah.

Bagi amfibi kecil, termasuk katak galaksi yang ukurannya tak sampai ujung jari manusia ini, hal tersebut bisa berakibat fatal. Paparan suhu yang berbeda, sentuhan tangan manusia, dan stres akibat lampu flash bisa membahayakan hidup mereka.

Baca juga:

Kronologi hilangnya katak galaksi yang langka

Sekelompok katak langka yaitu galaxy frog (Melanobatrachus indicus) dilaporkan menghilang dari habitatnya di India akibat fotografer tidak bertanggung jawab. Simak kronologinya.Dok. Wikimedia Commons/Ben tapley Sekelompok katak langka yaitu galaxy frog (Melanobatrachus indicus) dilaporkan menghilang dari habitatnya di India akibat fotografer tidak bertanggung jawab. Simak kronologinya.

Sebagai informasi, katak galaksi biasanya hidup berlindung di celah-celah lembap di bawah bebatuan, dedaunan yang gugur, dan batang kayu yang membusuk di hutan tersebut.

Pada awal tahun 2020, Rajkumar, yang memimpin studi tersebut, menemukan tujuh katak galaksi bersarang di bawah batang kayu di hutan Ghats Barat. Namun, ia tidak bisa langsung mengunjunginya lagi akibat pandemi Covid-19. 

Ketika ia kembali ke lokasi tersebut beberapa waktu kemudian, kelompok katak ini sudah menghilang dan habitat mereka sudah dirusak. 

Awalnya ia mencurigai musang coklat sebagai penyebabnya, tapi mereka tidak cukup kuat untuk menggulingkan batang kayu. Ia pun bertanya ke tracker (pemandunya) apakah dia melihat orang lain mendatangi lokasi itu. 

"Dia menyebutkan ada beberapa fotografer yang mengunjungi lokasi tersebut. Beberapa kelompok kecil. Jadi kemudian saya menghubungi pemandu saya yang lain, dan mereka mulai menceritakan segala hal yang terjadi," jelas Rajkumar. 

Para peneliti kemudian menemukan, selama dua musim panas berikutnya, sekelompok fotografer yang terdiri dari enam orang dikabarkan mendatangi lokasi tersebut.

Mereka menginjak-injak lokasi itu dan meninggalkan batang kayu yang bergeser demi mendapatkan foto yang sempurna. Mereka juga dikatakan bersemangat memotret katak galaksi sehingga memindahkan satwa kecil itu ke lumut atau batang kayu agar latar belakangnya lebih "indah".

Selama proses pemotretan itu, para katak galaksi juga bersentuhan langsung dengan tangan manusia berulang-ulang, ditambah lampu milik para fotografer yang menyinari area tersebut selama sekitar empat jam dalam setiap sesi.

Kontak dengan tangan kosong, kurangnya hidrasi, dan tidak adanya protokol biosekuriti membuat katak rentan terhadap stres, panas, dan potensi penyakit.

Baca juga: Krisis Amfibi Global, 788 Spesies dalam Bahaya Kepunahan

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau