Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perubahan Iklim Berpotensi Mengancam Kupu-kupu dan Tanaman

Kompas.com, 22 Desember 2025, 17:35 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber EOS

KOMPAS.com - Kupu-kupu sering dinilai sebagai indikator bagi perubahan iklim. Jika populasi kupu-kupu berubah atau menghilang, itulah tanda awal ada yang salah dengan kesehatan ekosistem di suatu wilayah.

Untuk beradaptasi dan melanjutkan siklus hidupnya, kupu-kupu biasanya akan berpindah habitat dan pola migrasi ke wilayah yang lebih tinggi demi mencari udara dingin. Namun, di sinilah letak permasalahannya.

Baca juga:

Sebuah penelitian menemukan, dari 24 kupu-kupu Asia Tenggara yang diteliti, 17 di antaranya berisiko mengalami penurunan area habitat yang mereka bagikan dengan tanaman inang mereka, khususnya ketika terjadi perubahan iklim.

"Kami ingin memilih spesies kupu-kupu yang paling mewakili di Asia tropis. Kami hanya menggunakan data iklim sebagai faktor prediktif. Kami ingin melihat, dalam skenario terburuk, apa yang terjadi pada mereka," jelas peneliti utama riset tersebut dan mahasiswa doktoral di Universitas Helsinki, Jin Chen, dilansir dari Eos, Senin (22/12/2025).

Perubahan iklim memengaruhi perilaku kupu-kupu

Kupu-kupu jadi tanda awal masalah ekosistem

Kupu-kupu bisa mengalami pengurangan habitat akibat perubahan iklim. Simak selengkapnya, termasuk bagaimana simbiosisnya dengan tanaman.SHUTTERSTOCK/SMARKO Kupu-kupu bisa mengalami pengurangan habitat akibat perubahan iklim. Simak selengkapnya, termasuk bagaimana simbiosisnya dengan tanaman.

Kupu-kupu membutuhkan tanaman yang menjadi inang bagi larva dan menyediakan makanan bagi mereka.

Namun, ketika kupu-kupu berpindah ke wilayah yang lebih tinggi, belum tentu tanaman yang mereka butuhkan untuk bertahan sudah tersedia di lokasi itu, atau belum jelas juga apakah tanaman mengubah habitat dengan kecepatan dan arah yang sama dengan kupu-kupu.

Untuk membandingkan apakah kecepatan pindah kupu-kupu setara dengan kecepatan pindah tanaman, peneliti menyimulasikan bagaimana kupu-kupu Asia dan tanaman inang mereka akan mengalami migrasi habitat sebagai respons terhadap skenario perubahan iklim emisi tinggi.

Baca juga:

Para peneliti memilih 24 spesies kupu-kupu yang jangkauan wilayahnya membentang dari hutan hujan dataran rendah yang lebat hingga dataran tinggi pegunungan.

Beberapa spesies memiliki jangkauan wilayah yang luas, sedangkan yang lain sempit. Ada yang hanya bergantung pada satu tanaman inang, dan ada pula yang dapat memanfaatkan beberapa jenis tanaman.

Penelitian tersebut menemukan, dari 24 jenis kupu-kupu Asia Tenggara yang diperiksa, sekitar 71 persen atau 17 kupu-kupu di antaranya berpotensi mengalami pengurangan luas habitat yang mereka bagi bersama tanaman inangnya.

Beberapa spesies kupu-kupu mungkin kehilangan hampir 40 persen area habitat yang mereka bagikan saat mereka berpindah ke daerah yang lebih sejuk.

Artinya kondisi ini bisa memicu kepunahan massal dan memutus hubungan ekosistem. Tanpa tanaman yang tepat, ulat kupu-kupu tidak bisa makan, dan siklus hidup mereka akan terputus.

"Titik-titik panas dari pemutusan hubungan ini sebagian besar berada di wilayah pegunungan Asia tropis, termasuk Kalimantan serta perbatasan Laos, Vietnam, dan Kamboja. Selain itu juga bagian utara Myanmar yang dekat dengan Pegunungan Himalaya," ujar Chen.

Baca juga: Studi Ungkap, Ruang Hijau di Tepi Jalan Tingkatkan Keragaman Kupu-Kupu

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau