Para ilmuwan menemukan bahwa paparan panas ekstrem berdampak buruk, tapi kelembapan membuat hasilnya jauh lebih parah.
Sebagai contoh, pengamatan pada paparan selama kehamilan trimester ketiga mengungkapkan, dampak kombinasi panas dan kelembapan kira-kira empat kali lebih buruk daripada dampak panas saja.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa seorang anak yang mengalami peningkatan suhu atau kelembapan yang cukup signifikan pada tahun sebelum kelahiran akan memiliki tinggi badan 13 persen lebih pendek dari yang diperkirakan untuk usia mereka.
Sebaliknya, peningkatan satu standar deviasi pada paparan panas ekstrem saja hanya menyebabkan penurunan tinggi badan sebesar satu persen untuk usia tersebut.
Temuan tersebut menunjukkan adanya gangguan pertumbuhan yang serius akibat stres panas yang dialami janin.
Baca juga:
Menurut para penulis, tak sedikit pakar yang mungkin meremehkan dampak sebenarnya dari cuaca ekstrem dengan hanya berfokus pada efek suhu.
Hal ini sangat mengkhawatirkan mengingat kondisi panas dan lembap diprediksi akan menjadi lebih sering dan ekstrem akibat perubahan iklim.
"Terlebih lagi, beberapa wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi di Bumi adalah daerah panas dan lembap di sepanjang sungai dan garis pantai," catat para peneliti.
Para penulis mengklaim bahwa pemahaman tentang peran kelembapan dalam meningkatkan efek merusak dari panas dapat membantu memandu intervensi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya