KOMPAS.com - Kondisi panas dan lembap bisa memengaruhi anak dalam kandungan, khususnya terkait perkembangan mereka nantinya, menurut studi terbaru dari University of California, Santa Barbara, Amerika Serikat.
"Paparan terhadap kondisi panas dan lembap di dalam rahim berbahaya bagi kesehatan anak, dan lebih berbahaya daripada hanya suhu panas," kata penulis utama studi tersebut, sekaligus mahasiswa doktoral di bawah bimgingan Kathy Baylis di Departemen Geografi, Katie McMahon, dilansir dari Down to Earth, Rabu (24/12/2025).
Baca juga:
Kombinasi panas dan lembap merupakan kondisi yang berbahaya bagi ibu hamil.
Tubuh manusia mendinginkan diri dengan cara berkeringat. Namun, dalam kondisi yang sangat lembap, keringat tidak bisa menguap dan membuat tubuh ibu hamil tak bisa mendinginkan tubuh mereka.
Adapun hasil studi didapat setelah peneliti melihat efek paparan prenatal terhadap kondisi yang sangat panas dan lembap pada kesehatan anak-anak di Asia Selatan.
Sebagai informasi, studi ini diterbitkan dalam jurnal Science Advances, dengan judul "Does Humidity Matter? Prenatal Heat and Child Health in South Asia".
Selain McMahon, penulis studi ini adalah Kathy Baylis, Stuart Sweeney, dan Chris Funk.
Studi terbaru menemukan, panas dan kelembapan saat hamil dapat mengganggu pertumbuhan janin dan berdampak serius pada tinggi badan anak.Lantas, seperti apa sebenarnya dampak kondisi panas dan lembap pada janin?
Untuk mengetahuinya, penulis studi melihat tinggi badan berdasarkan usia yakni rasio tinggi badan anak dibandingkan dengan rata-rata untuk usia mereka.
Rasio ini merupakan indikator umum yang digunakan untuk status kesehatan kronis pada anak-anak di bawah usia lima tahun.
Para peneliti mengumpulkan data kesehatan anak dari Survei Demografi dan Kesehatan (DHS), survei rumah tangga skala besar dan komprehensif tentang kesehatan masyarakat dan demografi.
Sementara itu, data cuaca harian mereka dihasilkan oleh Pusat Bahaya Iklim University of California, Santa Barbara.
Baca juga:
Sebagian besar pekerjaan melibatkan pengaitan data demografi dan survei dengan data panas dan kelembaban untuk mengidentifikasi paparan panas prenatal.
Setelah itu, para penulis menjalankan data tersebut melalui model statistik mereka dengan ambang batas suhu, kelembaban, dan pertumbuhan yang dipilih dengan cermat.
Ambang batas tersebut adalah 35 derajat celsius untuk suhu udara dan 29 derajat celsius untuk wet bulb globe temperature (ukuran tingkat stres panas di bawah sinar matahari langsung), yang memperhitungkan empat faktor yang memengaruhi stres panas yaitu suhu udara, kelembapan, sumber panas radiasi, dan aliran udara.
"Kami membutuhkan ambang batas panas dan panas-lembab yang dapat dibandingkan dan pendekatan ini membawa kami pada dua ambang batas yang terjadi dengan frekuensi hampir sama di Asia Selatan," kata McMahon.
Studi terbaru menemukan, panas dan kelembapan saat hamil dapat mengganggu pertumbuhan janin dan berdampak serius pada tinggi badan anak.Para ilmuwan menemukan bahwa paparan panas ekstrem berdampak buruk, tapi kelembapan membuat hasilnya jauh lebih parah.
Sebagai contoh, pengamatan pada paparan selama kehamilan trimester ketiga mengungkapkan, dampak kombinasi panas dan kelembapan kira-kira empat kali lebih buruk daripada dampak panas saja.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa seorang anak yang mengalami peningkatan suhu atau kelembapan yang cukup signifikan pada tahun sebelum kelahiran akan memiliki tinggi badan 13 persen lebih pendek dari yang diperkirakan untuk usia mereka.
Sebaliknya, peningkatan satu standar deviasi pada paparan panas ekstrem saja hanya menyebabkan penurunan tinggi badan sebesar satu persen untuk usia tersebut.
Temuan tersebut menunjukkan adanya gangguan pertumbuhan yang serius akibat stres panas yang dialami janin.
Baca juga:
Menurut para penulis, tak sedikit pakar yang mungkin meremehkan dampak sebenarnya dari cuaca ekstrem dengan hanya berfokus pada efek suhu.
Hal ini sangat mengkhawatirkan mengingat kondisi panas dan lembap diprediksi akan menjadi lebih sering dan ekstrem akibat perubahan iklim.
"Terlebih lagi, beberapa wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi di Bumi adalah daerah panas dan lembap di sepanjang sungai dan garis pantai," catat para peneliti.
Para penulis mengklaim bahwa pemahaman tentang peran kelembapan dalam meningkatkan efek merusak dari panas dapat membantu memandu intervensi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya