Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dampak Panas Ekstrem di Tempat Kerja, Tak Hanya Bikin Produktivitas Turun

Kompas.com, 7 Desember 2025, 18:35 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Euronews

KOMPAS.com - Panas ekstrem yang dipicu oleh perubahan iklim bisa jadi ancaman kesehatan kerja global yang serius. Diperkirakan satu miliar pekerja terpapar panas ekstrem di tempat kerja, yang mengakibatkan kerugian kesehatan cukup besar.

Petugas kebersihan berusia 51 tahun bernama Montse Aguilar pingsan di jalanan Barcelona, Spanyol, pada Juni lalu setelah menjalani shift kerja di tengah suhu panas 35 derajat celsius. Sementara itu, kota tersebut berada dalam status siaga tinggi.

Baca juga: 

Aguilar tak bisa diselamatkan. Kematiannya pun memicu protes dari ratusan rekan petugas kebersihan jalan dan warga yang peduli di pusat kota Barcelona.

Mereka membawa spanduk bertuliskan: "Panas ekstrem juga merupakan kekerasan di tempat kerja".

Panas ekstrem mengancam pekerja di tempat kerja

Panas ekstrem akibat perubahan iklim meningkatkan risiko kesehatan fisik dan mental pekerja. Diperlukan aturan baru untuk melindungi pekerja.SHUTTERSTOCK/Berke Panas ekstrem akibat perubahan iklim meningkatkan risiko kesehatan fisik dan mental pekerja. Diperlukan aturan baru untuk melindungi pekerja.

Laporan baru dari International SOS mengidentifikasi panas ekstrem yang dipicu oleh perubahan iklim sebagai salah satu risiko utama yang mengancam tempat kerja.

Laporan tersebut mengutip studi terbaru dari Lancet Countdown, yang menemukan bahwa hampir separuh populasi global dan lebih dari satu miliar pekerja terpapar episode panas tinggi.

Sepertiga dari seluruh pekerja yang terpapar mengalami dampak negatif terhadap kesehatan.

Laporan tersebut berpendapat, mengukur suhu lingkungan tanpa memperhitungkan faktor-faktor, seperti angin dan kelembapan, yang dapat membuat suhu terasa jauh lebih panas daripada yang sebenarnya tidak lagi menjadi cara yang memadai untuk menilai risiko yang ditimbulkan bagi tenaga kerja.

Itulah mengapa, laporan kemudian menyebut bahwa perlu lebih banyak peraturan yang ditetapkan di masa mendatang.

"Pengusaha harus berhenti hanya mengandalkan suhu udara saat menilai risiko panas di tempat kerja. Perlu penggunaan metode pengukuran yang lebih akurat untuk menentukan kapan tindakan pencegahan harus diambil guna melindungi pekerja dari panas yang berbahaya," tulis laporan itu, dilansir dari Euronews, Jumat (5/12/2025).

“Perusahaan harus memiliki kebijakan terkait panas ekstrem dan tindakan terkait yang mematuhi peraturan yang terus berkembang ini,” tambah laporan tersebut.

Di sisi lain, adaptasi di tempat kerja dapat menimbulkan serangkaian tantangan keselamatan.

Misalnya, bekerja pada malam hari dengan lampu sorot, misalnya untuk industri pertanian, dapat membantu pekerja menghindari panas ekstrem tetapi visibilitas yang lebih rendah dan silau dari lampu dapat menjadi berbahaya.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau