KOMPAS.com - Polusi udara secara diam-diam mendorong sistem kekebalan tubuh menjadi autoimun, jauh sebelum penyakit muncul.
Hal tersebut terungkap setelah peneliti melakukan studi terhadap 3.548 orang dewasa.
Peneliti menemukan bahwa paparan polusi udara partikulat halus yang lebih tinggi dikaitkan dengan peningkatan antibodi antinuklear (ANA), penanda darah yang sering dikaitkan dengan penyakit autoimun seperti lupus.
ANA adalah protein kekebalan yang secara keliru menargetkan sel-sel tubuh sendiri. Meskipun bukan diagnosis tersendiri, kadar yang lebih tinggi dapat menandakan perubahan kekebalan dini.
“Hasil ini mengarahkan kita ke arah baru untuk memahami bagaimana polusi udara dapat memicu perubahan sistem kekebalan,” kata Dr. Sasha Bernatsky, seorang profesor kedokteran di Universitas McGill, yang memimpin penelitian ini, dikutip dari Earth, Rabu (17/12/2025).
Temuan ini menambah bukti yang berkembang bahwa polusi udara dapat memengaruhi sistem kekebalan, bukan hanya paru-paru dan jantung.
Baca juga: Polusi Udara dari Kendaraan Diprediksi Picu 1,8 Juta Kematian Dini Pada 2060
“Partikel-partikel halus dalam polusi udara ini cukup kecil untuk mencapai aliran darah, berpotensi memengaruhi seluruh tubuh,” kata Bernatsky.
Partikel halus atau PM2,5 ini bisa dihasilkan asap, knalpot kendaraan, dan pembakaran industri.
Lalu lintas merupakan sumber utama partikel halus, tetapi bukan satu-satunya alasan orang menghirup udara yang tercemar.
Asap kebakaran hutan dan pembakaran kayu dapat mendorong kualitas udara ke tingkat yang tidak sehat di daerah pinggiran kota dan pedesaan, terkadang bertahan selama berhari-hari.
Peristiwa asap musiman juga membentuk kembali pola paparan, artinya orang yang jarang mengalami kabut asap perkotaan masih dapat menghirup partikel dalam kadar tinggi selama musim kebakaran.
Ketika terhirup, partikel dapat mengiritasi jaringan paru-paru dan memicu stres oksidatif, yaitu kelebihan bahan kimia reaktif yang merusak sel.
Sel-sel imun merespons dengan melepaskan sitokin, protein kecil yang mengoordinasikan alarm imun, yang dapat masuk ke aliran darah.
Genetika memang bisa menjadi penyebab penyakit autoimun, tetapi paparan lingkungan dapat menambah tekanan ekstra pada sistem kekebalan tubuh dari waktu ke waktu.
Dengan latar belakang ini, penelitian menemukan tingkat positif ANA yang lebih tinggi pada wanita dan di berbagai kelompok ras dan etnis, bahkan setelah memperhitungkan faktor-faktor lain.
Baca juga: Vitamin C Bantu Lindungi Paru-paru dari Dampak Polusi Udara
Studi yang dipublikasikan di jurnal Rheumatology ini juga mengungkapkan solusi untuk mengurangi paparan polusi udara.
Moda transportasi yang lebih bersih, kontrol industri yang lebih ketat, serta ventilasi bangunan yang lebih baik dapat mengurangi paparan partikel.
Orang dapat menurunkan kadar partikel di dalam ruangan dengan menghindari merokok, menggunakan filter yang efektif, dan membatasi penggunaan lilin atau dupa.
Selama hari-hari berasap, menutup jendela dan menggunakan pembersih udara berdaya tinggi dapat mengurangi paparan, terutama untuk anak-anak dan orang dewasa yang lebih tua.
Mengurangi partikel halus dapat menjadi bagian dari perencanaan pencegahan, terutama untuk orang yang sudah berisiko lebih tinggi terkena penyakit autoimun.
Lebih lanjut, dalam studi berikutnya peneliti ingin menguji apakah kadar ANA yang tinggi dapat memprediksi penyakit autoimun di kemudian hari pada orang-orang yang tinggal di daerah berpolusi tinggi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya