KOMPAS.com - Spons cuci di dapur dianggap sebagai sumber potensial mikroplastik di rumah tangga, namun sebagian besar belum banyak diteliti.
Sebuah studi yang dipublikasikan di Environmental Advances pun meneliti seberapa banyak partikel mikroplastik yang dilepaskan dari spons selama penggunaan dan dampak lingkungan apa yang ditimbulkannya.
Tujuannya adalah untuk menghitung jumlah pelepasan mikroplstik yang sebenarnya dalam kondisi penggunaan serta menilai dampak lingkungannya menggunakan analisis siklus hidup (LCA).
Melansir Phys, Sabtu (21/3/2026) studi ini menggabungkan sains warga (citizen science) di mana masyarakat umum ikut serta secara aktif melakukan eksperimen, dengan pengujian laboratorium.
Baca juga: Beban Perempuan Global, Habiskan 250 Juta Jam Setiap Hari demi Air
Sejumlah rumah tangga sukarelawan di Jerman dan Amerika Utara diminta menggunakan salah satu dari tiga jenis spons yang berbeda dalam rutinitas harian mereka dan mendokumentasikan penggunaannya.
Spons-spons tersebut ditimbang sebelum dan sesudah digunakan untuk menentukan tingkat pengurangan bahan dan pelepasan mikroplastik.
Selain itu, eksperimen laboratorium juga dilakukan menggunakan perangkat uji otomatis yang menyimulasikan tekanan mekanis yang dialami spons saat mencuci piring.
Hasilnya, semua spons yang diteliti mengalami penyusutan bahan selama penggunaan dan dengan demikian melepaskan mikroplastik.
Pelepasan tahunannya berkisar antara kurang lebih 0,68 hingga 4,21 gram mikroplastik per orang per tahun, tergantung pada jenis sponsnya.
Spons dengan kandungan plastik yang lebih rendah melepaskan mikroplastik yang jauh lebih sedikit.
Walaupun sebagian besar partikel ini tersaring di instalasi pengolahan air limbah, beberapa ton tetap masuk ke lingkungan perairan atau tanah setiap tahunnya.
Namun, peneliti menggarisbawahi pula bahwa konsumsi air selama mencuci piring secara manual juga memberikan kontribusi paling besar terhadap dampak lingkungan.
Penilaian lingkungan menunjukkan bahwa sekitar 85 persen hingga 97 persen dari total dampak lingkungan dari mencuci piring disebabkan oleh konsumsi air, sementara emisi mikroplastik memberikan kontribusi yang jauh lebih kecil terhadap kerusakan ekosistem secara keseluruhan.
Baca juga: Penelitian Ungkap Mikroplastik Bisa Ganggu Sistem Kekebalan Tubuh
Citizen science memainkan peran sentral karena para peserta sukarelawan menggunakan spons tersebut dalam kondisi kehidupan nyata.
Hal ini memungkinkan penangkapan pola penggunaan yang realistis dan kebiasaan mencuci piring yang umum. Data ini memungkinkan estimasi pelepasan mikroplastik yang jauh lebih realistis dibandingkan dengan studi yang murni berbasis laboratorium.
Lebih lanjut, studi mengidentifikasi beberapa cara untuk mengurangi dampak lingkungan dari aktivitas mencuci.
Peneliti menyarankan untuk menggunakan lebih sedikit air saat mencuci piring, karena hal ini memberikan pengaruh yang paling besar.
Selanjutanya, pilih spons dengan kandungan plastik yang lebih rendah untuk mengurangi pelepasan mikroplastik.
Lalu gunakan spons untuk jangka waktu yang lebih lama, karena masa pakai yang lebih lama akan mengurangi konsumsi sumber daya secara keseluruhan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya