Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kebun Kelapa Sawit Tak Bisa Gantikan Fungsi Hutan, Daya Serap Karbon Rendah

Kompas.com, 29 Desember 2025, 16:35 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Hutan menyerap karbon 10-11 kali lebih tinggi daripada kebun kelapa sawit, menurut Guru Besar Ilmu Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU), Muhammad Basyuni.

Temuan tersebut berdasarkan hasil risetnya yang membandingkan penyerapan karbon antara hutan mangrove dengan perkebunan kelapa sawit di Lubuk Kertang dan Pulau Sembilan, Sumatera Utara.

Baca juga:

"(Kelapa) Sawit juga menyimpan karbon, tetapi kan carbon stock-nya rendah," ujar Basyuni dalam webinar, Sabtu (27/12/2025).

Ia mengkritik guru besar di fakultas kehutanan IPB yang menyarankan kategori kelapa sawit diubah menjadi pohon atau tanaman hutan.

Basyuni menilai, usulan tersebut melawan kodrat dari kelapa sawit sebagai tanaman perkebunan atau komersial.

"Semua yang punya batang dianggap pohon. Itu ya salah, karena bukan itu definisi yang benar tentang pohon," tutur Basyuni.

Kebun kelapa sawit tak bisa gantikan fungsi hutan

Alih fungsi lahan jadi kebun kelapa sawit hilangkan fungsi hutan

Kebun sawit tak bisa gantikan fungsi hutan. Hutan menyerap karbon 10-11 kali lipat lebih tinggi daripada perkebunan kelapa sawit.Pexels/ Mikhail Nilov Kebun sawit tak bisa gantikan fungsi hutan. Hutan menyerap karbon 10-11 kali lipat lebih tinggi daripada perkebunan kelapa sawit.

Sebagai sistem monokultur, perkebunan kelapa sawit disebut tidak dapat menggantikan fungsi hutan.

Kanopi pepohonan di hutan mampu menahan hingga 35 persen air hujan agar tidak langsung jatuh ke tanah. Akar pepohonan di hutan juga bisa membantu penyerapan air puluhan sampai ribuan liter air.

Pepohonan di hutan mencegah terjadinya erosi dan limpasan air (run-off) hujan mengalir ke permukaan secara cepat ke sungai.

Alih fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit menghilangkan fungsi hutan sebagai spons berukuran besar.

"Kalau hanya satu jenis (tanaman atau) monokultur tidak bisa (mengembalikan fungsi hutan). Faktanya, kita lihat banjir Sumatera. Itu tidak mampu menahan air, menyimpan dan menyerap air juga tidak bisa," jelas Basyuni.

Kebun sawit tak bisa gantikan fungsi hutan. Hutan menyerap karbon 10-11 kali lipat lebih tinggi daripada perkebunan kelapa sawit.canva.com Kebun sawit tak bisa gantikan fungsi hutan. Hutan menyerap karbon 10-11 kali lipat lebih tinggi daripada perkebunan kelapa sawit.

Selain itu, hutan juga bersifat heterogen, berbeda dengan perkebunan kelapa sawit yang homogen. Ekosistem atau sistem ekologi yang terbentuk dari hubungan timbal baik antara makhluk hidup dengan lingkungannya di dalam hutan tidak akan bisa digantikan oleh perkebunan kelapa sawit.

"Flora, fauna, dan interaksinya sebenarnya itu ada di dalam hutan. Kalau (di perkebunan kelapa sawit yang) monokultur malah kurang berkembang dengan baik," ujar Basyuni.

Di sisi lain, banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat juga disebabkan alih fungsi tutupan hutan menjadi usaha ekstraktif lainnya, di antaranya, pertambangan, proyek energi, serta hutan tanaman industri (HTI).

Menurut Basyuni, perlu komitmen kuat pemerintah Indonesia dalam merestorasi atau merehabilitasi lahan dengan menanam berbagai jenis pohon untuk mengembalikan fungsi hutan.

"Ini kesempatan emas bagi akademisi kehutanan untuk menyampaikan bahwa terjadi deforestasi yang nyata, tata kelola yang keliru, kemudian bagaimana ke depannya agar tidak terjadi kembali," tutur Basyuni.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau