Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Limbah Produksi Garam Berpotensi untuk Industri Farmasi, tapi..

Kompas.com, 1 Januari 2026, 14:39 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Limbah produksi garam berpotensi sebagai sumber bahan baku obat yang dibutuhkan industri farmasi di Indonesia. Namun, pengolahannya belum maksimal sehingga mencemari lingkungan. 

Lantas, apa saja limbah yang dimaksud dan bagaimana potensinya? Simak selengkapnya.

Baca juga:

Mengenal limbah produksi garam di Indonesia

Peluang baru untuk industri farmasi

Limbah produksi garam menyimpan mineral penting untuk bahan baku obat. Sayangnya, pengelolaannya belum maksimal dan mencemari lingkungan.SHUTTERSTOCK/BADNEWS86DUPS Limbah produksi garam menyimpan mineral penting untuk bahan baku obat. Sayangnya, pengelolaannya belum maksimal dan mencemari lingkungan.

Limbah cair dari proses desalinasi atau pemurnian air laut, reject brine, sampai saat ini masih belum dimanfaatkan. Reject brine disebut dibuang begitu saja ke laut sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan.

Volume reject brine secara global tergolong besar atau diperkirakan mencapai 141,5 juta meter kubik per hari. Reject brine merupakan tantangan serius keberlanjutan lingkungan.

Pemanfaatan reject brine sebagai bahan baku obat dapat mengubah limbah menjadi sumber daya bernilai sekaligus mengurangi dampak pencemaran lingkungan yang merugikan.

Reject brine mengandung konsentrasi garam dan mineral tinggi. Komposisi kimia reject brine terdiri dari natrium klorida (NaCI) sebagai kandungan utama, dengan total dissolved solids (TDS) 30.000-50.000 mg/L (miligram per liter). Unsur penting lainnya adalah magnesium, kalsium, kalium, sulfat, lithium, ribidium, dan cesium.

Kandungan mineral tersebut dinilai relevan dengan bahan baku garam farmasi dan senyawa kimia obat. Dengan demikian, pengelolaan limbah dari produksi garam dapat membuka peluang baru untuk industri farmasi.

"Ada keuntungan dari ekonomi sirkular yang nanti didapatkan dari produk samping bernilai tinggi (kandungan mineral dari reject brine) seperti magnesium hidroksida dan kalium karbonat," ujar peneliti Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional (PRBBOOT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bambang Srijanto dalam webinar Pemanfaatan Sumber Daya Alam Lokal sebagai Bahan Baku Obat dan Suplemen Kesehatan di akun YouTube resmi BRIN Indonesia, Rabu (31/12/2025).

Industri farmasi di Indonesia masih bergantung dengan impor

Limbah produksi garam menyimpan mineral penting untuk bahan baku obat. Sayangnya, pengelolaannya belum maksimal dan mencemari lingkungan.PIXABAY/JAN Limbah produksi garam menyimpan mineral penting untuk bahan baku obat. Sayangnya, pengelolaannya belum maksimal dan mencemari lingkungan.

Industri farmasi di Indonesia disebut masih sangat bergantung dengan bahan baku impor untuk memproduksi obat-obatan. 

Hal ini disebabkan hulu dari industri farmasi dalam negeri masih belum berkembang, yang menyebabkan tidak bisa memasok bahan baku yang diperlukan untuk hilirnya.

Selain itu, industri kimia di Indonesia juga tidak berkembang karena kecilnya volume kebutuhan untuk bahan baku obat. Bahkan, pemanfaatan reject brine dapat menghasilkan bahan baku obat berkualitas, yang memenuhi standar farmakope nasional dan internasional.

"Kalau dikaitkan dengan kemandirian nasional, membangun industri ini (farmasi dan kimia) dari sisi bahan baku kita tidak tergantung lagi pada impor karena rejected brine ada, air laut ada, bittern ada. Kita perlu investasi dan riset, makanya di tahun 2026 kami mencoba mengajukan proposal riset, mudah-mudahan lolos," jelas Bambang.

Untuk mengurangi limbah berbahaya sekaligus menghasilkan magnesium hidroksida berkualitas tinggi, kata dia, reject brine dapat diolah menggunakan metode presipitasi kimia.

Metode tersebut merupakan cara paling umum dan ekonomis, yang prosesnya melibatkan reaksi sederhana antara ion magnesium dengan ion hidroksida.

Prosesnya relatif sederhana, dengan biaya produksi rendah dan mudah ditingkatkan untuk skala industri.

Baca juga: 

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
LSM/Figur
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Swasta
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau