Limbah dari produksi garam lainnya, bittern, juga dinilai belum dimanfaatkan secara optimal di Indonesia.
Bittern merupakan cairan pekat yang tersisa usai kristalisasi garam. Bittern menjadi sumber magnesium yang melimpah.
Pemanfaatan bittern bisa menciptakan nilai tambah ekonomi, sekaligus mengurangi dampak lingkungan akibat hipersalinitas laut dan toksisitas.
Namun, harga bittern semakin mahal dan teknik pencucian dalam pengelolaannya lebih kompleks karena terbentuknya beberapa senyawa ikutan.
Dari segi keekonomian, harga bittern yang cukup mahal tidak akan menarik untuk digunaan sebagai bahan baku obat, terutama magnesium hidroksida, sekali pun dari sisi kandungan mineralnya lebih tinggi daripada rejected brine.
"Dulu bittern ini tidak berharga, tetapi sekarang karena masyarakat sudah tahu bittern itu bisa digunakan untuk produk yang lain maka sekarang harganya semakin mahal. Informasi yang saya terima terakhir, per liternya sudah mencapai hampir kurang lebih Rp 15.000," ujar Bambang.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya