KOMPAS.com - Perempuan, anak-anak, dan masyarakat miskin jadi kelompok paling terdampak bencana iklim yang melanda dunia sepanjang 2025, menurut laporan World Weather Attribution (WWA).
Kesimpulan tersebut didapat setelah peneliti menganalisis 22 bencana yang dipicu oleh iklim dalam 12 bulan terakhir.
Baca juga:
“Pendidikan sangat terdampak oleh panas ekstrem. Penutupan sekolah yang berkepanjangan meningkatkan risiko kehilangan pembelajaran, memperkuat ekspektasi rumah tangga yang berdasar pada gender, dan meningkatkan risiko pernikahan dini sehingga membuat kembalinya siswa ke sekolah menjadi lebih sulit bagi perempuan," tulis laporan tersebut, dilansir dari Euronews, Jumat (2/1/2026).
WWA menemukan, perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia telah membuat panas ekstrem yang dulunya peristiwa sangat langka menjadi sesuatu yang umum, yang mana saat ini diperkirakan terjadi setiap dua tahun sekali.
Studi ini pun menjadi bukti bahwa emisi yang memerangkap panas mendorong kenaikan suhu global dan memicu peristiwa cuaca yang merusak di setiap benua.
Perempuan, anak-anak, dan masyarakat miskin jadi kelompok paling terdampak bencana iklim yang melanda dunia sepanjang 2025.WWA membahas kehidupan masyarakat, termasuk perempuan dan anak-anak, di Sudan selatan di Afrika timur dan kaitannya dengan krisis iklim.
Di wilayah tersebut, suhu yang cukup tinggi, bahkan bisa mencapai lebih dari 40 derajat celsius, memengaruhi perempuan yang mayoritas bekerja di sektor informal, seperti pertanian atau pekerjaan perawatan tanpa bayaran, yang terpapar panas tinggi.
Para perempuan menghabiskan sekitar 60 persen waktu mereka untuk pekerjaan perawatan tanpa bayaran, seperti mengambil air dan memasak di lingkungan yang sangat panas.
Hal tersebut berisiko menimbulkan berbagai efek kesehatan jangka panjang, seperti tekanan kardiovaskular dan kerusakan ginjal, sekaligus semakin rentan terhadap kelelahan akibat panas.
Tidak hanya itu, pendidikan juga dipengaruhi panas ekstrem. Pada Februari 2025 lalu, gelombang panas melanda Sudan yang membuat puluhan anak pingsan karena serangan panas. Sekolah pun ditutup selama dua minggu.
Masyarakat diimbau untuk berada di dalam rumah dan tetap terhidrasi. Namun, rumah-rumah mereka beratapkan besi tanpa dilengkapi sistem pendingin. Hal itu diperparah dengan akses ke air bersih dan listrik yang tidak memadai.
Baca juga:
WWA pun menyerukan transisi mendesak dari bahan bakar fosil ke energi bersih.
Selain itu, WWA juga mendorong adanya investasi dalam langkah adaptasi untuk membantu memerangi peningkatan frekuensi cuaca ekstrem. Pasalnya, WWA menyebut adaptasi terhadap bencana iklim terkadang terbatas.
"Hal ini menggarisbawahi bahwa adaptasi saja tidak cukup. Pengurangan emisi yang cepat tetap penting untuk menghindari dampak terburuk dari perubahan iklim," tulis laporan WWA.
Sebagai informasi, bahan bakar fosil selama ini disebut sebagai pendorong utama pemanasan global yang menyumbang sekitar 68 persen emisi gas rumah kaca global, serta hampir 90 persen dari seluruh emisi karbon dioksida.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya