Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi: Mayoritas Percaya Perubahan Iklim Hanya Berdampak pada Orang Lain

Kompas.com, 10 Januari 2026, 16:54 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Studi yang dilakukan oleh para peneliti di Universitas Gothenburg di Swedia menunjukkan orang-orang cenderung menilai risiko diri mereka lebih rendah terkena dampak perubahan iklim dibandingkan risiko yang dihadapi orang lain.

Persepsi ini dapat mengurangi kesediaan individu untuk bertindak dan memperlambat langkah-langkah penanganan iklim yang diperlukan.

Studi yang dipublikasikan di Nature Sustainability ini melakukan meta analisis dari 83 studi yang melibatkan lebih dari 70.000 peserta dari 17 negara.

Melansir Phys, Jumat (9/1/2026) hasil studi kemudian menunjukkan bahwa risiko terkait iklim secara sistematis diremehkan dan dianggap lebih mungkin memengaruhi orang lain daripada diri sendiri.

Sebanyak 65 peserta menilai risiko mereka sendiri terkena dampak perubahan iklim lebih rendah daripada risiko orang lain.

Baca juga: Hampir Sebagian Pantai Dunia Terancam Hilang akibat Perubahan Iklim

“Studi yang telah kami kumpulkan tidak mengukur risiko aktual orang. Kami tidak dapat menentukan apakah penilaian risiko individu terlalu optimis, tetapi pada tingkat kelompok, kami jelas melihat bahwa mayoritas menganggap risiko mereka sendiri lebih rendah daripada orang lain,” kata Magnus Bergquist, Dosen Senior Psikologi di Universitas Gothenburg.

Pertanyaan utama dalam penelitian ini juga berkaitan dengan siapa perbandingan tersebut dilakukan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemilihan kelompok referensi memainkan peran penting dan penilaian risiko menjadi paling menyimpang ketika orang membandingkan diri mereka sendiri dengan 'orang lain secara umum', seperti sesama warga negara atau umat manusia secara keseluruhan, serta di negara-negara dengan risiko iklim keseluruhan yang lebih rendah.

Para peneliti mengamati efek ini di Eropa, Amerika Serikat, dan Asia, tetapi perbedaan tersebut paling menonjol di antara orang Eropa.

Lebih lanjut, sebanyak 81 dari 83 studi yang dianalisis menunjukkan bahwa peserta menilai risiko mereka sendiri lebih rendah daripada orang lain atau lebih rendah daripada rata-rata, baik dalam kaitannya dengan peristiwa cuaca ekstrem maupun risiko terkait iklim yang lebih umum.

Baca juga: Ahli Lingkungan Sebut Perubahan Iklim Langgar Hak Asasi Manusia

“Kami menemukan efek tersebut di semua studi kecuali dua studi, di mana partisipannya adalah petani di China dan Korea Selatan yang telah terpapar langsung pada konsekuensi perubahan iklim. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman langsung mengurangi efek tersebut," jelas Pär Bjälkebring, Dosen Senior Psikologi di Universitas Gothenburg.

Secara keseluruhan, hasil studi menunjukkan pemahaman kita terhadap risiko iklim terbatas dan keliru, yang mana hal ini dapat menunda tindakan-tindakan yang diperlukan.

"Sekalipun orang-orang mengakui risiko nyata yang ditimbulkan oleh perubahan iklim, banyak yang tampaknya memandang risiko-risiko tersebut terutama hanya berdampak pada orang lain. Ini adalah bias psikologis yang, dalam kasus terburuk, dapat memperlambat upaya adaptasi maupun mitigasi iklim," ujar Bergquist.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of
Baca tentang


Terkini Lainnya
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Pemerintah
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Pemerintah
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Pemerintah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau