KOMPAS.com - Studi yang dilakukan oleh para peneliti di Universitas Gothenburg di Swedia menunjukkan orang-orang cenderung menilai risiko diri mereka lebih rendah terkena dampak perubahan iklim dibandingkan risiko yang dihadapi orang lain.
Persepsi ini dapat mengurangi kesediaan individu untuk bertindak dan memperlambat langkah-langkah penanganan iklim yang diperlukan.
Studi yang dipublikasikan di Nature Sustainability ini melakukan meta analisis dari 83 studi yang melibatkan lebih dari 70.000 peserta dari 17 negara.
Melansir Phys, Jumat (9/1/2026) hasil studi kemudian menunjukkan bahwa risiko terkait iklim secara sistematis diremehkan dan dianggap lebih mungkin memengaruhi orang lain daripada diri sendiri.
Sebanyak 65 peserta menilai risiko mereka sendiri terkena dampak perubahan iklim lebih rendah daripada risiko orang lain.
Baca juga: Hampir Sebagian Pantai Dunia Terancam Hilang akibat Perubahan Iklim
“Studi yang telah kami kumpulkan tidak mengukur risiko aktual orang. Kami tidak dapat menentukan apakah penilaian risiko individu terlalu optimis, tetapi pada tingkat kelompok, kami jelas melihat bahwa mayoritas menganggap risiko mereka sendiri lebih rendah daripada orang lain,” kata Magnus Bergquist, Dosen Senior Psikologi di Universitas Gothenburg.
Pertanyaan utama dalam penelitian ini juga berkaitan dengan siapa perbandingan tersebut dilakukan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemilihan kelompok referensi memainkan peran penting dan penilaian risiko menjadi paling menyimpang ketika orang membandingkan diri mereka sendiri dengan 'orang lain secara umum', seperti sesama warga negara atau umat manusia secara keseluruhan, serta di negara-negara dengan risiko iklim keseluruhan yang lebih rendah.
Para peneliti mengamati efek ini di Eropa, Amerika Serikat, dan Asia, tetapi perbedaan tersebut paling menonjol di antara orang Eropa.
Lebih lanjut, sebanyak 81 dari 83 studi yang dianalisis menunjukkan bahwa peserta menilai risiko mereka sendiri lebih rendah daripada orang lain atau lebih rendah daripada rata-rata, baik dalam kaitannya dengan peristiwa cuaca ekstrem maupun risiko terkait iklim yang lebih umum.
Baca juga: Ahli Lingkungan Sebut Perubahan Iklim Langgar Hak Asasi Manusia
“Kami menemukan efek tersebut di semua studi kecuali dua studi, di mana partisipannya adalah petani di China dan Korea Selatan yang telah terpapar langsung pada konsekuensi perubahan iklim. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman langsung mengurangi efek tersebut," jelas Pär Bjälkebring, Dosen Senior Psikologi di Universitas Gothenburg.
Secara keseluruhan, hasil studi menunjukkan pemahaman kita terhadap risiko iklim terbatas dan keliru, yang mana hal ini dapat menunda tindakan-tindakan yang diperlukan.
"Sekalipun orang-orang mengakui risiko nyata yang ditimbulkan oleh perubahan iklim, banyak yang tampaknya memandang risiko-risiko tersebut terutama hanya berdampak pada orang lain. Ini adalah bias psikologis yang, dalam kasus terburuk, dapat memperlambat upaya adaptasi maupun mitigasi iklim," ujar Bergquist.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya