KOMPAS.com - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengangkut ratusan gelondongan kayu dengan total volume 1.272 meter, dari lokasi terdampak banjir Sumatera. Kayu-kayu itu digunakan untuk membangun hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak di Aceh dan Sumatera Utara.
“Kayu hanyutan ini kami arahkan langsung untuk mendukung pembangunan hunian sementara dan kebutuhan pemulihan masyarakat,” kata Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Subhan dalam keterangannya, Jumat (9/1/2026).
Dia memerinci 87 petugas Kemenhut dikerahkan dilengkapi 38 alat berat di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara. Kegiatan difokuskan pada pemilahan kayu di halaman rumah warga agar bisa dimanfaatkan kembali.
Baca juga: Desa Terdampak Banjir Sumatera Disebut Lebih Banyak dari yang Dilaporkan
Subhan mengatakan, Balai Pengelolaan Hutan Lestari (BPHL) bersama Dinas Linhkungan Hidup dan Kehutanan Aceh telah mengukur 769 batang kayu yang terkumpul dengan volume 1.260 meter kubik per 8 Januari 2026.
"Pemanfaatan kayu di Aceh Utara telah digunakan oleh lembaga Rumah Zakat untuk pembangunan sembilan unit huntara, dengan rincian delapan unit masih dalam proses pembangunan dan satu unit telah selesai," jelas dia.
Selain itu, 54 personel Kemenhut dan Saka Wanabakti juga membersihkan gelondongan kayu di fasilitas pendidikan, termasuk SDN 14 Langkahan.
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani mencatat penanganan kayu hanyutan dilakukan di Desa Garoga, Huta Godang, dan Aek Ngadol secara bertahap.
“Pemilahan kayu hanyutan hampir rampung dan diarahkan sepenuhnya untuk bahan pembangunan hunian sementara,” ucap Novita.
Baca juga: Guru Besar Unpad Sebut Banjir Sumatera Tak Cuma Dipicu Hujan Ekstrem
Pada 8 Januari 2026, pemilahan kayu di wilayah Garoga mencapai 100 persen. Sementara, lanjut Novita, 80 persen kayu telah terangkut dari jalur Desa Garoga-Huta Godang-Aek Ngadol.
"Hasil pengolahan kayu hari itu mencapai 228 keping dengan volume 3,15 meter kubik, sehingga total akumulasi menjadi 793 keping dengan volume 12 meter kubik, yang diperuntukkan bagi pembangunan huntara di Desa Batu Hula, Kecamatan Batang Toru," tutur dia.
Selain pemanfaatan kayu, pemerintah daerah juga menata lingkungan dan membersihkan area untuk pembangunan huntara maupun hunian tetap di areal PT Perkebunan Nusantara IV Desa Aek Pining seluas 15 hektare. Realisasi pembukaan lahannya hingga kini baru mencapai 1,02 hektare.
Kini, Kemenhut tengah menginvestigasi 11 entitas yang disinyalir menyebabkan banjir di Daerah Aliran Sungai (DAS) di Kabupaten Tapanuli Utara dan Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Direktur Jenderal Penegakan Hukum (Gakkum) Kemenhut, Dwi Januanto Nugroho menyebut dari ke-11 subjek hukum tersebut, Pemegang Hak Atas Tanah (PHAT) milik JAM telah naik ke tingkat penyidikan.
"Seluruh subjek hukum tersebut telah dipanggil untuk tahap penyelidikan, dan beberapa subjek hukum tersebut terdapat kemungkinan akan naik ke tingkat penyidikan," ungkap Dwi saat dikonfirmasi, Rabu (7/1/2026).
Penyidik mengembangkan penyelidikan terhadap dua PHAT lainnya, yakni M dan AR. Dwi menyebut, M berkaitan langsung dengan kasus JAM. Sementara, AR diduga kuat melakukan penebangan di luar batas peta areal konsesinya. Kemenhut turut menggandeng ahli dalam penyelidikan tersebut.
"Direktorat Jenderal Gakkum Kehutanan saat ini telah mengundang ahli hidrometeorologi, DAS, spasial, dan ahli kayu untuk menguatkan proses penyelidikan yang sedang berjalan," tutur Dwi.
Operasional ketiga entitas tersebut telah dihentikan sementara.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya