KOMPAS.com - Amerika Serikat (AS) disebut tengah membidik pasokan minyak di Venezuela, usai penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Dilansir dari CNN, Kamis (8/1/2026), niat AS dinilai tak akan berpengaruh besar terhadap China, salah satu importir terbesar minyak Venezuela.
Pasalnya, kebutuhannya minyak China kian berkurang seiring keberhasilan negaranya dalam transisi energi di sektor transportasi dari kendaraan berbahan bakar ke kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). Perusahaan riset Inggris Rho Motion mencatat, China menguasai pasar kendaraan listrik.
Lebih dari 11 juta terjual di China, dari 18,5 juta kendaraan yang dijual secara global tahun lalu.
“Ini sangat menentukan, tidak akan kembali seperti semula (memakai BBM)," ujar Direktur Pusat Iklim China di Asia Society Policy Institute, Li Shuo.
Baca juga: AS Keluar dari UNFCCC, RI Perlu Cari Alternatif Pembiayaan Transisi Energi
Dibandingkan dengan peluncuran kebijakan kendaraan listrik yang tersendat-sendat di AS, kendaraan listrik mengakar kuat di China. Berbagai perusahaan gencar menjual kendaraan listrik ke negara lain di seluruh dunia.
BYD, misalnya, baru-baru ini menggusur posisi Tesla sebagai penjual EV terbesar di dunia.
“Sekarang kita melihat kisah kendaraan listrik China direplikasi di bagian lain dunia, dan yang sangat menarik lebih banyak terjadi di negara-negara selatan global daripada di AS dan negara-negara Eropa,” ucap Shuo.
Di sisi lain, para ahli juga memperkirakan China telah mencapai puncak produksi minyak atau akan segera mencapainya.
Pemerintahan Presiden AS Donald Trump memberi tahu Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, untuk memutuskan hubungan dengan China, Iran, Rusia, dan Kuba. Venezuela diminta bermitra secara eksklusif dengan AS dalam produksi minyak.
Namun, Kementerian Luar Negeri China menyebut hubungan bisnis antara negaranya dengan Venezuela sah dan sesuai kepentingan kedua belah pihak.
Baca juga: AS Keluar dari UNFCCC, PBB Ingatkan Dampak Kebijakan Trump
"Kerja sama kedua negara tidak terkait dengan pihak ketiga mana pun, dan tidak tunduk pada campur tangan pihak ketiga," beber Kementerian Luar Negeri China.
Ketergantungan China pada minyak bumi sangat penting, karena bisa berdampak luas ke seluruh pasar minyak global.
Kendati permintaan minyak dari sektor transportasi China telah mencapai puncaknya, sektor lain termasuk petrokimia dan bahan bakar jet diproyeksikan akan terus meningkat.
Wakil Presiden Riset Pasar Komoditas di Norwegia Rystad, Janiv Shah mengungkap 400.000-500.000 barel minyak Venezuela per hari mengalir ke China. Venezuela menyumbang sebagian kecil dari total impor minyak China.
“Intervensi AS apa pun dapat memaksa angka ini turun drastis karena kami melihat langkah ini sebagai serangan simbolis terhadap China di skala dunia,” ujar Shah.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya