Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

AS Bidik Minyak Venezuela, Importir Terbesar Justru Fokus Transisi Energi

Kompas.com, 10 Januari 2026, 10:12 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Amerika Serikat (AS) disebut tengah membidik pasokan minyak di Venezuela, usai penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Dilansir dari CNN, Kamis (8/1/2026), niat AS dinilai tak akan berpengaruh besar terhadap China, salah satu importir terbesar minyak Venezuela.

Pasalnya, kebutuhannya minyak China kian berkurang seiring keberhasilan negaranya dalam transisi energi di sektor transportasi dari kendaraan berbahan bakar ke kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). Perusahaan riset Inggris Rho Motion mencatat, China menguasai pasar kendaraan listrik.

Lebih dari 11 juta terjual di China, dari 18,5 juta kendaraan yang dijual secara global tahun lalu. 

“Ini sangat menentukan, tidak akan kembali seperti semula (memakai BBM)," ujar Direktur Pusat Iklim China di Asia Society Policy Institute, Li Shuo.

Baca juga: AS Keluar dari UNFCCC, RI Perlu Cari Alternatif Pembiayaan Transisi Energi

Dibandingkan dengan peluncuran kebijakan kendaraan listrik yang tersendat-sendat di AS, kendaraan listrik mengakar kuat di China. Berbagai perusahaan gencar menjual kendaraan listrik ke negara lain di seluruh dunia.

BYD, misalnya, baru-baru ini menggusur posisi Tesla sebagai penjual EV terbesar di dunia.

“Sekarang kita melihat kisah kendaraan listrik China direplikasi di bagian lain dunia, dan yang sangat menarik lebih banyak terjadi di negara-negara selatan global daripada di AS dan negara-negara Eropa,” ucap Shuo.

Di sisi lain, para ahli juga memperkirakan China telah mencapai puncak produksi minyak atau akan segera mencapainya.

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump memberi tahu Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, untuk memutuskan hubungan dengan China, Iran, Rusia, dan Kuba. Venezuela diminta bermitra secara eksklusif dengan AS dalam produksi minyak.

Namun, Kementerian Luar Negeri China menyebut hubungan bisnis antara negaranya dengan Venezuela sah dan sesuai kepentingan kedua belah pihak.

Baca juga: AS Keluar dari UNFCCC, PBB Ingatkan Dampak Kebijakan Trump

"Kerja sama kedua negara tidak terkait dengan pihak ketiga mana pun, dan tidak tunduk pada campur tangan pihak ketiga," beber Kementerian Luar Negeri China.

Ketergantungan China pada minyak bumi sangat penting, karena bisa berdampak luas ke seluruh pasar minyak global.

Peningkatan Bahan Bakar Pesawat

Kendati permintaan minyak dari sektor transportasi China telah mencapai puncaknya, sektor lain termasuk petrokimia dan bahan bakar jet diproyeksikan akan terus meningkat.

Wakil Presiden Riset Pasar Komoditas di Norwegia Rystad, Janiv Shah mengungkap 400.000-500.000 barel minyak Venezuela per hari mengalir ke China. Venezuela menyumbang sebagian kecil dari total impor minyak China.

“Intervensi AS apa pun dapat memaksa angka ini turun drastis karena kami melihat langkah ini sebagai serangan simbolis terhadap China di skala dunia,” ujar Shah.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau