MALUKU UTARA, KOMPAS.com - United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) berpendapat, kawasan industri menjadi kunci hilirisasi serta transisi hijau di Indonesia.
Managing Director of the Directorate of Technical Cooperation and Sustainable Industrial Development UNIDO, Ciyong Zou menuturkan, hal tersebut berkaitan dengan besarnya potensi mineral kritis di dalam negeri.
Baca juga:
"Dalam kasus Indonesia, saya pikir pemerintah Anda menaruh banyak penekanan pada industri hilir karena Anda memiliki mineral kritis yang melimpah. Tetapi Anda ingin nilai tambahnya dibuat di sini di dalam negeri," kata Zou dalam diskusi di Wisma Tsingshan, Halmahera Tengah, Maluku Utara, Sabtu (17/1/2026).
Presidir IWIP, Kevin He (kiri) dan Managing Director of the Directorate of Technical Cooperation and Sustainable Industrial Development UNIDO, Ciyong Zou (kanan), dalam diskusi di Maluku Utara, Jumat (16/1/2026).Zou menjelaskan, kebijakan hilirisasi memberikan insentif bagi investor membangun rantai pasok dan ekosistem industri, khususnya baterai kendaraan listrik atau battery electric vehicle (BEV).
Pabrik BEV di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), misalnya, tengah dibangun sebagai bagian dari hilirisasi nikel.
Kawasan industri, menurut Zou, turut menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat, sekaligus mendorong penerapan pembangunan berkelanjutan.
Dalam kesempatan yang sama, Director Division of Circular Economy and Green Industry UNIDO, Smail Alhilali menyatakan bahwa kawasan industri merupakan lokasi yang tepat untuk menarik investor.
"Kawasan industri bukan hanya area di mana kita memiliki industri penyewa, tetapi juga tentang infrastruktur, akses, energi, utilitas, serta hubungan antara kawasan industri dengan kota. Karena para pekerja akan datang dari kota, dan inilah yang disebut UNIDO sebagai simbiosis industri-perkotaan," papar Smail.
Smail menilai, transisi industri hijau bergantung pada ketersediaan mineral kritis berupa tembaga, nikel, kobalt, dan litium.
Maka dari itu, Indonesia yang menjadi produsen nikel terbesar global berperan dalam mendukung upaya tersebut.
"Tentu saja, apa yang kami inginkan juga kita perlu beralih dari bahan bakar fosil," ucap dia.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya