Penulis
KOMPAS.com - Di tengah aktivitas industri ekstraktif, Kalimantan Timur disebut bisa mempertahankan tutupan hutan hingga 62 persen dari total wilayah daratan.
Kepala Bidang Perencanaan dan Pemanfaatan Hutan Dinas Kehutanan Kalimantan Timur, Susilo Pranoto, menyampaikan bahwa luas wilayah Kalimantan Timur mencapai sekitar 12,69 juta hektar. Dari luasan tersebut, tutupan hutan tetap dijaga jauh di atas standar nasional.
Baca juga:
"Total luas wilayah Kaltim itu sekitar 12,69 juta hektare dan kami konsisten menjaga tutupan hutan jauh di atas standar nasional yang minimal 30 persen," kata Susilo, dilansir dari Antara, Senin (19/1/2026).
Upaya menjaga lingkungan disebut terlihat dari sebaran hutan di berbagai kabupaten. Tidak hanya luasnya yang dipertahankan, tetapi juga kondisi hutannya.
Kabupaten Mahakam Ulu dinilai sebagai contoh terbaik dalam konservasi hutan. Wilayah ini memiliki tutupan hutan primer dan sekunder hingga mencapai 80 persen. Angka tersebut menunjukkan kawasan ini masih relatif alami dan minim gangguan.
Sementara itu, daerah dengan aktivitas industri padat juga tetap berupaya menjaga hutan. Kutai Barat dan Kutai Kartanegara disebut masih mampu mempertahankan tutupan hutan di kisaran 50 persen.
Pengawasan ketat menjadi kunci utama. Pemerintah daerah disebut melakukan pengendalian pemanfaatan kawasan hutan agar tidak terjadi pembukaan lahan berlebihan.
Baca juga:
Upaya Kalimantan Timur menjaga hutan mendapat pengakuan global. Pemerintah provinsi menerima dana kompensasi karbon dari Bank Dunia.
Provinsi ini memperoleh dana insentif penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 110 juta dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 1,85 triliun). Dana tersebut diberikan karena Kalimantan Timur dinilai berhasil menjaga hutan tetap berdiri dan tidak ditebang.
"Sebagian dana tersebut kini telah dicairkan dan digunakan kembali untuk membiayai berbagai program lingkungan hidup yang melibatkan masyarakat di tingkat tapak," tutur Susilo.
Hutan di Taman Nasional Kutai, Kalimantan Timur.Akademisi Universitas Mulawarman, Ibrahim, menilai bahwa mempertahankan hutan yang masih ada adalah pilihan paling realistis. Menurutnya, reklamasi lahan pasca-tambang memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi.
Ia menegaskan bahwa memulihkan hutan hujan tropis yang sudah rusak hampir tidak mungkin dilakukan secara penuh.
"Tanaman hasil revegetasi di lahan bekas tambang sering kali hanya memberikan efek hijau secara visual namun tidak memiliki fungsi ekologis yang utuh seperti hutan perawan," kata Ibrahim.
Banyak tanaman di lahan reklamasi tidak tumbuh optimal, sebagian bahkan mati. Akar tanaman sering membentur lapisan tanah liat keras dan batuan penutup, sedangkan struktur alami tanah sudah berubah akibat aktivitas tambang.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya