Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Serangga Jadi Korban Invasi Spesies Asing, Populasi Bisa Menurun

Kompas.com, 18 Januari 2026, 17:42 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

KOMPAS.com - Serangga sering dianggap sebagai pengganggu, misalnya tawon kaki kuning (yellow-legged hornet) dan kepik harlequin. Namun, sesungguhnya serangga turut menjadi korban dari invasi spesies asing.

Dipimpin oleh UK Center for Ecology & Hydrology (UKCEH), sebuah studi dinilai sebagai analisis global pertama yang secara khusus meneliti dampak spesies asing invasif terhadap serangga darat.

Baca juga:

"Serangga berperan penting dalam fungsi ekosistem, tapi menghadapi berbagai ancaman, dengan spesies asing invasif kemungkinan menjadi salah satu ancaman terparah," tulis studi yang terbit di jurnal Nature Communications, dilansir dari Nature, Minggu (18/1/2026).

"Seiring dengan terus berkurangnya populasi serangga, terdapat kebutuhan yang semakin mendesak untuk mensintesis bukti mengenai dampak spesies asing invasif terhadap serangga karena penelitian secara historis lebih fokus pada serangga sebagai penyerang daripada sebagai korban."

Sebagai informasi, spesies asing (alien species) atau spesies invasif merupakan hewan, mikroba, penyakit, atau tumbuhan non-asli yang bersifat hama.  

Hama-hama ini tidak asli di wilayah di mana mereka menimbulkan masalah dan dianggap "invasif'' karena mereka menyerang dan membentuk populasi di wilayah baru, dikutip dari laman UC Riverside, Center of Invasive Species Research

Beberapa contoh spesies invasif, antara lain kumbang bercula panjang asia (asian long-horned beetle) dan kutu kasur (bed bug). 

Baca juga:

Serangga ternyata korban invasi spesies asing

Serangga alami penurunan besar di seluruh dunia

Ilustrasi kepik. Studi menunjukkan, serangga tidak hanya penyerbu, tapi juga korban invasi spesies asing yang mengancam ekosistem dunia.PIXABAY/RON VAN DEN BERG Ilustrasi kepik. Studi menunjukkan, serangga tidak hanya penyerbu, tapi juga korban invasi spesies asing yang mengancam ekosistem dunia.

Berdasarkan analisis global yang melibatkan data dari enam benua, spesies asing invasif terbukti menurunkan jumlah serangga secara signifikan.

"Di sini kami melakukan meta-analisis global yang mencakup 318 ukuran dampak dari 52 studi, mengevaluasi dampak spesies asing invasif terhadap ordo serangga darat (Coleoptera, Hemiptera, Hymenoptera, dan Orthoptera), serta menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi dampak-dampak tersebut," tulis studi tersebut. 

Rata-rata kelimpahan serangga darat turun hingga 31 persen. Jumlah jenis serangga juga berkurang sekitar 21 persen, dilansir dari Phys.org.

Penurunan ini terjadi karena beberapa faktor. Hewan invasif sering bersaing langsung dengan serangga lokal, dengan sebagian memangsa serangga dan sebagian lagi mengambil sumber makanan mereka.

Di sisi lain, tumbuhan invasif menggantikan tanaman asli yang menjadi sumber pakan serangga. Akibatnya, banyak serangga kehilangan tempat hidup dan sumber energi.

Penelitian ini mengungkap bahwa tidak semua serangga terdampak dengan tingkat yang sama. Beberapa kelompok mengalami penurunan jauh lebih besar.

Kelompok Hemiptera atau serangga sejati seperti kepik mengalami penurunan paling tinggi. Jumlahnya rata-rata turun hingga 58 persen.

Sementara itu, kelompok Hymenoptera yang mencakup lebah, semut, tawon, dan lebah gergaji turun sekitar 37 persen. Padahal kelompok ini memiliki peran besar dalam penyerbukan dan keseimbangan ekosistem.

Kelompok Orthoptera seperti belalang dan jangkrik menurun sekitar 27 persen, lalu kumbang dari kelompok Coleoptera mengalami penurunan sekitar 12 persen.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Peneliti Ciptakan Energi Listrik dari Urin, Berpotensi Jadi EBT Baru
Peneliti Ciptakan Energi Listrik dari Urin, Berpotensi Jadi EBT Baru
LSM/Figur
Studi Sebut Polusi Udara Bisa Tingkatkan Risiko Alzheimer pada Lansia
Studi Sebut Polusi Udara Bisa Tingkatkan Risiko Alzheimer pada Lansia
LSM/Figur
1 Hektar Hutan Tropis Hasilkan 2,4 Juta Liter Hujan Tiap Tahun
1 Hektar Hutan Tropis Hasilkan 2,4 Juta Liter Hujan Tiap Tahun
LSM/Figur
AI Bikin Jaringan 5G Lebih Hemat Energi, Bantu Capai Target ESG
AI Bikin Jaringan 5G Lebih Hemat Energi, Bantu Capai Target ESG
LSM/Figur
Angka Kematian Ibu Meningkat Drastis di Wilayah Konflik dan Rentan
Angka Kematian Ibu Meningkat Drastis di Wilayah Konflik dan Rentan
Pemerintah
Profesional Muda Ingin Industri Periklanan Melek Literasi Iklim
Profesional Muda Ingin Industri Periklanan Melek Literasi Iklim
LSM/Figur
Jelang Ramadhan, Listrik di Aceh Masih Padam dan Warga Harus Jalan Kaki demi Bantuan
Jelang Ramadhan, Listrik di Aceh Masih Padam dan Warga Harus Jalan Kaki demi Bantuan
LSM/Figur
Pemerintah Buka Akses Pembiayaan untuk Pelaku Ekonomi Kreatif
Pemerintah Buka Akses Pembiayaan untuk Pelaku Ekonomi Kreatif
Pemerintah
24 Perusahaan Ikut Tender Pembangunan Fasilitas 'Waste to Energy' Danantara
24 Perusahaan Ikut Tender Pembangunan Fasilitas "Waste to Energy" Danantara
Pemerintah
AI Diklaim Cegah Kerusakan Iklim, Benarkah?
AI Diklaim Cegah Kerusakan Iklim, Benarkah?
LSM/Figur
Polusi Nitrogen Ganggu Penyerapan Karbon dan Ritme Respirasi Hutan
Polusi Nitrogen Ganggu Penyerapan Karbon dan Ritme Respirasi Hutan
LSM/Figur
Siswa MAN 1 Kendari Olah Limbah Kulit Udang dan Kepiting Jadi Kemasan Ramah Lingkungan
Siswa MAN 1 Kendari Olah Limbah Kulit Udang dan Kepiting Jadi Kemasan Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Jakarta Utara Harus Jadi Model Pengelolaan Sampah Nasional, Ini Alasannya
Jakarta Utara Harus Jadi Model Pengelolaan Sampah Nasional, Ini Alasannya
Pemerintah
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Pemerintah
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau