Penulis
KOMPAS.com - Alih fungsi lahan disebut bukan faktor utama penyebab longsor Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Longsor tersebut terjadi pada Sabtu (24/1/2026) dini hari.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan, hasil kajian awal menunjukkan bahwa longsor lebih dipicu kondisi alam berupa morfologi lereng yang sangat curam serta curah hujan ekstrem yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Baca juga:
"Faktor alih fungsi lahan memang berpengaruh, tetapi kita melihat sumbernya. Sumbernya ini di morfologi yang sangat curam. Kita bisa melihat bahwa di samping curam tanahnya, juga sangat gembur," kata Penyelidik Bumi Ahli Utama Badan Geologi, Anjar Heriwaseso, dilansir dari Antara, Senin (26/1/2026).
Menurut Badan Geologi, kondisi lereng di lokasi kejadian memiliki perbedaan morfologi yang sangat signifikan.
Di bagian atas lereng, kemiringan mencapai 30 hingga 40 derajat. Sementara itu, di bagian bawah, kemiringan menurun menjadi 20 hingga 30 derajat.
Perbedaan tersebut membuat massa tanah bergerak ke arah lembah saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi.
Kondisi tersebut membuat tekanan gravitasi semakin besar. Ketika tanah kehilangan kekuatannya maka longsor menjadi sulit dihindari.
Selain faktor kemiringan lereng, material tanah juga berperan besar. Badan Geologi menemukan bahwa tanah di kawasan tersebut tersusun dari endapan vulkanik yang sangat tebal. Ketebalan tanah diperkirakan lebih dari 15 meter.
Tanah vulkanik memiliki sifat gembur dan mudah menyerap air. Saat hujan deras turun terus menerus, air akan mengisi pori-pori tanah hingga terjadi penjenuhan. Pada kondisi ini, kekuatan tanah menurun drastis.
"Tanah vulkanik yang tebal ini mengalami penjenuhan akibat curah hujan tinggi sehingga kekuatan tanah melemah dan mudah terbawa ke bagian lereng bawah," ucap Anjar.
Baca juga:
Penyelidik Bumi Ahli Utama Badan Geologi Anjar Heriwaseso saat diwawancarai ANTARA di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada Senin (26/1/2026). Badan Geologi juga menyoroti peran sistem drainase alami di lokasi kejadian. Air hujan yang terkumpul mengalir melalui jalur drainase sempit di lembah. Jalur ini menjadi lintasan utama material longsoran.
Kondisi lembah yang sempit membuat aliran tanah dan batuan meluncur dengan kecepatan tinggi. Material tidak hanya bergerak pendek, tapi juga mampu menempuh jarak yang cukup jauh.
"Kondisi lembah yang sempit mempercepat aliran material. Saat mencapai area yang lebih landai, material kemudian menyebar mengikuti jalur sungai yang sudah ada," tutur Anjar.
Dalam kajian awal tersebut, Badan Geologi mengategorikan longsor Cisarua sebagai aliran bahan rombakan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya