Penulis
Tipe longsor ini merupakan pergerakan campuran tanah dan batuan. Material yang dominan berbutir halus membuat longsoran mampu bergerak lebih jauh dibanding longsor biasa.
Tidak hanya itu, salah satu pemicu peristiwa ini adalah curah hujan ekstrem. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan di kawasan tersebut mencapai lebih dari 200 milimeter per hari.
"Sumber utama longsoran berada di morfologi yang sangat curam dengan tanah yang gembur. Pemicu hujan ekstrem yang berdasarkan data BMKG mencapai lebih dari 200 milimeter per hari, sehingga risiko longsor menjadi sangat tinggi," jelas Anjar.
Baca juga:
Badan Geologi menyampaikan, kondisi cuaca ekstrem akibat hujan lebat berhari-hari memiliki peran besar dalam meningkatkan risiko bencana. Air hujan tidak hanya menambah beban tanah, tapi juga melemahkan ikatan antarpartikel tanah.
Sebagai langkah lanjutan, Badan Geologi akan melakukan delineasi atau pemetaan zona rawan longsor. Pemetaan ini bertujuan untuk menentukan wilayah yang aman dan wilayah yang berbahaya.
Hasil kajian tersebut nantinya akan diserahkan kepada pemerintah daerah. Data ini akan menjadi dasar penting dalam penataan ruang serta upaya mitigasi bencana ke depannya.
"Area yang sudah terlanda longsor tidak direkomendasikan untuk dihuni kembali dan perlu direlokasi. Untuk wilayah sekitar, akan ditentukan berdasarkan hasil delineasi potensi longsor susulan," tutur Anjar.
Sebagai informasi, data sementara longsor Cisarua dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jawa Barat per Minggu (25/1/2026) menunjukkan, ada 10 orang meninggal dunia dan 82 orang lainnya masih dalam pencarian, dilaporkan oleh Kompas.com, Senin (26/1/2026).
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya