Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Longsor Cisarua, Pakar Sebut Alih Fungsi Lahan Bukan Penyebab Utama

Kompas.com, 26 Januari 2026, 17:21 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber Antara

KOMPAS.com - Alih fungsi lahan disebut bukan faktor utama penyebab longsor Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Longsor tersebut terjadi pada Sabtu (24/1/2026) dini hari.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan, hasil kajian awal menunjukkan bahwa longsor lebih dipicu kondisi alam berupa morfologi lereng yang sangat curam serta curah hujan ekstrem yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Baca juga:

"Faktor alih fungsi lahan memang berpengaruh, tetapi kita melihat sumbernya. Sumbernya ini di morfologi yang sangat curam. Kita bisa melihat bahwa di samping curam tanahnya, juga sangat gembur," kata Penyelidik Bumi Ahli Utama Badan Geologi, Anjar Heriwaseso, dilansir dari Antara, Senin (26/1/2026).

Longsor Cisarua, tak cuma disebabkan alih fungsi lahan

Kemiringan lokasi dan material tanah turut berperan

Menurut Badan Geologi, kondisi lereng di lokasi kejadian memiliki perbedaan morfologi yang sangat signifikan.

Di bagian atas lereng, kemiringan mencapai 30 hingga 40 derajat. Sementara itu, di bagian bawah, kemiringan menurun menjadi 20 hingga 30 derajat.

Perbedaan tersebut membuat massa tanah bergerak ke arah lembah saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi.

Kondisi tersebut membuat tekanan gravitasi semakin besar. Ketika tanah kehilangan kekuatannya maka longsor menjadi sulit dihindari.

Selain faktor kemiringan lereng, material tanah juga berperan besar. Badan Geologi menemukan bahwa tanah di kawasan tersebut tersusun dari endapan vulkanik yang sangat tebal. Ketebalan tanah diperkirakan lebih dari 15 meter.

Tanah vulkanik memiliki sifat gembur dan mudah menyerap air. Saat hujan deras turun terus menerus, air akan mengisi pori-pori tanah hingga terjadi penjenuhan. Pada kondisi ini, kekuatan tanah menurun drastis.

"Tanah vulkanik yang tebal ini mengalami penjenuhan akibat curah hujan tinggi sehingga kekuatan tanah melemah dan mudah terbawa ke bagian lereng bawah," ucap Anjar.

Baca juga:

Sistem drainase alami turut disorot

Penyelidik Bumi Ahli Utama Badan Geologi Anjar Heriwaseso saat diwawancarai ANTARA di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada Senin (26/1/2026). Dok. ANTARA/Ilham Nugraha Penyelidik Bumi Ahli Utama Badan Geologi Anjar Heriwaseso saat diwawancarai ANTARA di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada Senin (26/1/2026).

Badan Geologi juga menyoroti peran sistem drainase alami di lokasi kejadian. Air hujan yang terkumpul mengalir melalui jalur drainase sempit di lembah. Jalur ini menjadi lintasan utama material longsoran.

Kondisi lembah yang sempit membuat aliran tanah dan batuan meluncur dengan kecepatan tinggi. Material tidak hanya bergerak pendek, tapi juga mampu menempuh jarak yang cukup jauh.

"Kondisi lembah yang sempit mempercepat aliran material. Saat mencapai area yang lebih landai, material kemudian menyebar mengikuti jalur sungai yang sudah ada," tutur Anjar. 

Dalam kajian awal tersebut, Badan Geologi mengategorikan longsor Cisarua sebagai aliran bahan rombakan.

Tipe longsor ini merupakan pergerakan campuran tanah dan batuan. Material yang dominan berbutir halus membuat longsoran mampu bergerak lebih jauh dibanding longsor biasa.

Tidak hanya itu, salah satu pemicu peristiwa ini adalah curah hujan ekstrem. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan di kawasan tersebut mencapai lebih dari 200 milimeter per hari.

"Sumber utama longsoran berada di morfologi yang sangat curam dengan tanah yang gembur. Pemicu hujan ekstrem yang berdasarkan data BMKG mencapai lebih dari 200 milimeter per hari, sehingga risiko longsor menjadi sangat tinggi," jelas Anjar. 

Baca juga:

Badan Geologi menyampaikan, kondisi cuaca ekstrem akibat hujan lebat berhari-hari memiliki peran besar dalam meningkatkan risiko bencana. Air hujan tidak hanya menambah beban tanah, tapi juga melemahkan ikatan antarpartikel tanah.

Sebagai langkah lanjutan, Badan Geologi akan melakukan delineasi atau pemetaan zona rawan longsor. Pemetaan ini bertujuan untuk menentukan wilayah yang aman dan wilayah yang berbahaya.

Hasil kajian tersebut nantinya akan diserahkan kepada pemerintah daerah. Data ini akan menjadi dasar penting dalam penataan ruang serta upaya mitigasi bencana ke depannya.

"Area yang sudah terlanda longsor tidak direkomendasikan untuk dihuni kembali dan perlu direlokasi. Untuk wilayah sekitar, akan ditentukan berdasarkan hasil delineasi potensi longsor susulan," tutur Anjar.

Sebagai informasi, data sementara longsor Cisarua dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jawa Barat per Minggu (25/1/2026) menunjukkan, ada 10 orang meninggal dunia dan 82 orang lainnya masih dalam pencarian, dilaporkan oleh Kompas.comSenin (26/1/2026).

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau