KOMPAS.com - Eropa menandatangani pakta energi bersih dalam pertemuan puncak di Hamburg, Senin (26/1/2026), termasuk terkait tenaga angin lepas pantai.
Draft kesepakatan tersebut akan ditandatangani di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Laut Utara oleh Inggris, Belgia, Denmark, Perancis, Jerman, Islandia, Irlandia, Luksemburg, Belanda, dan Norwegia.
Baca juga:
"Dengan merencanakan perluasan, jaringan listrik, dan industri secara bersamaan serta menerapkannya lintas batas, kita menciptakan energi bersih dan terjangkau, memperkuat basis industri kita, dan meningkatkan kedaulatan strategis Eropa," tutur Menteri Ekonomi Jerman, Katherina Reiche, dilansir dari Reuters, Senin (26/1/2026).
Eropa berjanji untuk menghasilkan 100 gigawatt (GW) tenaga angin lepas pantai melalui proyek bersama berskala besar.
Kesepakatan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) ini tercapai beberapa hari usai Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dinilai semakin sering mengkritik energi hijau.
Kesepakatan tersebut juga mencerminkan pemerintahan negara-negara Eropa barat dan utara tetap berkomitmen pada tenaga angin sebagai cara untuk meningkatkan keamanan energi di kawasan tersebut.
"Kami membela kepentingan nasional kami dengan mendorong energi bersih, yang dapat membebaskan Inggris dari ketergantungan pada bahan bakar fosil dan memberi kami kedaulatan dan kelimpahan energi," ujar Menteri Energi Inggris, Ed Miliband.
Eropa sepakat memperluas tenaga angin lepas pantai hingga 100 GW untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.Selain itu, Inggris juga akan menandatangani perjanjian lain dengan kelompok-kelompok kecil negara peserta untuk mempromosikan pengembangan proyek lintas batas yang lebih efisien.
Dalam perjanjian itu, Inggris juga mempromosikan pengembangan infrastruktur untuk menciptakan ladang angin di laut yang terhubung langsung ke lebih dari satu negara.
Di lelang terbarunya, Inggris mencetak rekor jumlah kapasitas tenaga listrk lepas pantai yang diamankannya. Proyek-proyek dengan total kapasitas 8,4 GW itu diberikan kontrak pada awal Januari 2026.
Diketahui, pemerintahan negara-negara Eropa barat dan utara telah menyepakati tujuan untuk lebih memperluas PLTB pada 2023 lalu.
Mereka meningkatkan kapasitas energi angin lepas pantai sebesar 300 GW tahun 2050. Kesepakatan itu menyusul invasi Rusia ke Ukraina yang menguatkan kekhawatiran tentang ketergantungan Eropa pada gas dari Rusia.
Baca juga:
Eropa sepakat memperluas tenaga angin lepas pantai hingga 100 GW untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.Tahun 2025, tenaga angin dan surya untuk pertama kalinya menghasilkan listrik lebih banyak daripada bahan bakar fosil di Uni Eropa.
Menurut laporan terbaru dari lembaga Ember, meski terjadi penurunan tenaga listrik dan kenaikan pemakaian gas, energi terbarukan menghasilkan hampir setengah dari listrik Uni Eropa tahun lalu.
Tenaga angin dan surya menjadi ujung tombak bertumbuhan energi terbarukan, dengan menyumbang rekor 30 persen dari listrik Uni Eropa dan hanya mengungguli bahan bakar fosil sebesar satu persen.
Namun, jaringan listrik Uni Eropa yang sudah usang masih menghambat kemajuan transisi energi.
Kendati secara keseluruhan tenaga angin dan surya menghasilkan listrik lebih banyak ketimbang bahan bakar fosil di Uni Eropa, hal itu hanya berlaku untuk 14 dari 27 negara anggota secara individual.
Belanda, Kroasia, Estonia, Bulgaria, Yunani, Irlandia, Slovenia, Latvia, Romania, Slowakia, Italia, Ceko, Polandia, Siprus, dan Malta untuk pertama kainya menghasilkan lebih banyak listrik dari energi terbarukan dibandingkan bahan bakar fosil.
Sementara itu, Yunani, Bulgaria, dan Slovenia sangat dekat untuk mencapai titik kritis berkat pertumbuhan yang kuat dalam pembangkitan energi surya.
Baca juga:
Bahkan, Swedia sudah lama memimpin upaya pengembangan energi terbarukan, menghasilkan lebih banyak listrik dari tenaga surya dan angin daripada bahan bakar fosil sejak tahun 2010.
Disusul kemudian, Luksemburg pada 2017, serta Finlandia dan Lituania pada tahun 2022.
Portugal, Spanyol, Austria, Perancis, dan Belgia menghasilkan listrik lebih banyak dari tenaga angin dan surya pada 2023.
Sementara itu, Hongaria dan Jerman melampaui ambang batas tersebut pada tahun 2024.
“Momen penting ini menunjukkan betapa cepatnya Uni Eropa bergerak menuju sistem energi yang didukung oleh tenaga angin dan surya. Karena ketergantungan pada bahan bakar fosil memicu ketidakstabilan di panggung global, taruhan untuk beralih ke energi bersih menjadi lebih jelas dari sebelumnya," ujar penulis laporan, Dr. Beatrice Petrovich, dilansir dari Euro News.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya