Penulis
Meski sama-sama mencatat penurunan emisi, arah kebijakan China dan India tetap berbeda dalam jangka menengah.
Dalam laporan tahunan batu bara yang dirilis International Energy Agency (IEA) pada Desember lalu, China diperkirakan akan mulai menurunkan penggunaan batu bara secara bertahap sepanjang dekade ini.
IEA menilai tren tersebut akan membantu emisi sektor pembangkit listrik China berada pada fase datar dalam beberapa tahun ke depan.
Namun kondisi di India masih lebih kompleks. IEA menyebut bahwa meski penambahan energi terbarukan memecahkan rekor dan pertumbuhan permintaan listrik relatif terkendali, India masih akan bergantung pada batu bara.
“Meskipun pembangkit listrik berbasis batu bara menurun pada 2025, peningkatan moderat konsumsi batu bara tetap diperkirakan terjadi,” tulis IEA.
Penyebabnya adalah kenaikan permintaan listrik yang terus berjalan seiring pertumbuhan ekonomi dan populasi.
Baca juga:
Untuk Amerika Serikat, IEA memproyeksikan arah yang berbeda. Meski pemerintahan Presiden Donald Trump memberikan insentif kebijakan bagi industri batu bara dan memperlambat penutupan pembangkit, faktor biaya tetap menjadi penekan utama.
IEA memperkirakan permintaan batu bara di Amerika Serikat akan turun sekitar enam persen hingga tahun 2030.
Biaya operasional yang tinggi membuat batu bara semakin sulit bersaing dengan sumber energi lain.
Situasi ini menunjukkan bahwa pasar energi global kini semakin dipengaruhi efisiensi dan harga, bukan hanya kebijakan politik.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya