KOMPAS.com - Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) memperingatkan adanya risiko inflasi pangan global yang dipicu oleh tiga hal sekaligus yakni gangguan pengiriman barang akibat ditutupnya selat Hormuz, biaya energi yang mahal, dan masalah iklim.
Melansir Down to Earth, Selasa (14/4/2026) meskipun harga pangan dunia sempat stabil pada bulan Maret menurut data FAO, tekanan diperkirakan mulai terasa pada bulan April dan akan menjadi semakin berat di bulan Mei.
FAO mengungkapkan bahwa saat ini para petani berada di posisi yang sulit untuk mengambil keputusan penting akibat gangguan di Selat Hormuz yang terus berlanjut.
Baca juga: Krisis Iklim dan Konflik Global Mengancam, Saatnya Indonesia Andalkan Pangan Lokal
Mereka berada di persimpangan, apakah harus mengubah cara tanam karena sulitnya mendapat pupuk atau menanam bahan baku bahan bakar (biofuel) demi mengejar harga minyak yang sedang mahal.
Sebagai informasi sekitar 20 hingga 45 persen bahan penting untuk pertanian dikirim melalui jalur laut lewat Selat Hormuz. Jika petani terpaksa menanam dengan bahan yang terbatas seperti pupuk yang kurang, hasil panen akan merosot tidak hanya di tahun ini dan 2027, tapi harga makanan di pasar juga akan tetap mahal selama beberapa tahun ke depan.
Sementara jika petani mengambil keputusan untuk menanam bahan baku bahan bakar (biofuel), stok pangan dunia pun tetap terancam berkurang.
"Waktu terus berjalan," ujar Kepala Ekonom FAO, Maximo Torero.
Ia juga memperingatkan bahwa negara-negara miskin paling terancam kesulitan mendapatkan pupuk dan energi yang harganya makin mahal.
Masalah ini diperparah oleh iklim yang tidak menentu, seperti fenomena El Niño, siklus musim hujan yang terganggu, dan perkiraan musim panas yang lebih menyengat. Semua hal ini bisa membuat hasil panen berkurang drastis.
Torero mengatakan bahwa berbeda dengan bencana alam atau El Niño, blokade di Selat Hormuz adalah masalah yang sebenarnya bisa dan harus diselesaikan oleh pemerintah.
Pasalnya jika pengiriman bahan-bahan penting untuk pertanian tidak segera berjalan normal, harga pangan bisa melonjak ke level yang "berbahaya", seperti yang terjadi saat masa pandemi COVID-19 lalu.
Selain itu, Torero menjelaskan bahwa jika kenaikan harga pangan terjadi, negara-negara akan terpaksa mengambil kebijakan untuk menekan harga pangan di dalam negeri.
Hal ini bisa memicu kenaikan suku bunga, yang ujung-ujungnya dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia melambat.
Baca juga: Produksi Pangan Harian Jadi Pemicu Utama Kerusakan Hutan
Menurut FAO, indeks harga pangan dunia yang mencatat perubahan harga bahan pokok yang diperdagangkan secara global naik 2,4 persen pada bulan Maret dibanding Februari. Jika dibandingkan dengan tahun lalu, harganya pun sudah lebih mahal 1 persen.
Ini adalah kenaikan harga selama dua bulan berturut-turut. Penyebab utamanya adalah tingginya biaya energi akibat ketegangan politik yang terjadi di Asia Barat.
FAO mendesak semua negara untuk meninjau kembali aturan penggunaan bahan bakar nabati (biofuel) dan, yang paling penting, jangan membatasi ekspor energi serta pupuk.
Jika konflik di Selat Hormuz tidak segera berakhir, langkah pencegahan harus segera diambil. Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan meminta lembaga dunia memberikan bantuan dana bagi negara-negara yang terancam kesulitan membeli pupuk, terutama karena mereka sudah mulai memasuki musim tanam.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya