Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dosen Unej Teliti Tanaman Zaman Prasejarah di Geopark Ijen

Kompas.com, 16 April 2026, 13:55 WIB
Add on Google
Bambang P. Jatmiko

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Dosen Program Studi Biologi Fakultas MIPA Universitas Jember (Unej) meneliti tanaman zaman prasejarah di Geopark Ijen, khususnya wilayah Erek-erek Geoforest di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur yang memiliki kekayaan sumber daya alam luar biasa.

Tumbuhan paku dari marga Cyathea tergolong tanaman zaman prasejarah karena diperkirakan sudah ada di bumi sejak 65 juta tahun yang lalu dan tanaman tersebut ada di wilayah Erek-erek Geoforest Banyuwangi.

"Kami menemukan ada dua jenis paku pohon di wilayah Erek-erek Geoforest, yakni Cyathea contaminas dan Cyathea orientalis," kata salah satu dosen yang juga peneliti Fakultas MIPA Unej Prof. Hari Sulistyowati di Jember, dikutip dari Antara, Kamis (16/4/2026).

Baca juga: Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial

Menurut dia tanaman paku pohon tumbuh subur di Erek-erek Geoforest yang berada di ketinggian antara 1.600 hingga 1.700 meter di atas permukaan laut (mdpl) yang masuk dalam kawasan Perhutani Wilayah Barat Banyuwangi.

"Bahkan tim kami menemukan banyak paku pohon yang tingginya mencapai enam hingga 10 meter seperti pohon kelapa. Kondisi itu dimungkinkan karena lingkungan Erek-erek Geoforest yang masih alami, kelembaban tinggi, kanopi pohon yang rapat dan limpahan sumber air," tuturnya.

Ia mengatakan kelestarian hutan di wilayah Erek-erek juga karena kondisi topografinya karena wilayah itu seperti dibentengi oleh bentang alam Gunung Rante.

"Kami menduga bahwa bentang alam itu yang melindungi wilayah Erek-erek dari letusan Gunung Ijen purba pada masa lalu. Tak heran jika kondisinya masih terjaga, masih seperti ribuan tahun lalu," katanya.

Hari bersama timnya ketika memulai riset di Erek-erek Geoforest merasa takjub dengan kondisi alamnya, seperti sedang masuk ke hutan di era dinosaurus.

"Keberadaan paku pohon yang masuk tumbuhan purba beserta lingkungan pendukungnya itu tentu saja menarik untuk dikaji. Saat ini para ahli Biologi FMIPA Unej terus meneliti," ujarnya.

Baca juga: Kenalan dengan Tanaman Baru yang Daunnya Mirip Lidah Kucing, Ditemukan di Tapanuli

Seperti yang dilakukan oleh dua dosen, Fuad Bahrul Ulum dan Dwi Setyati, yang berusaha mendeskripsikan dan meneliti morfologi paku pohon, mulai dari tinggi batang, warna sisik, bentuk spora hingga bagaimana perkembangbiakannya.

"Diharapkan hasil penelitian akan menambah khazanah pengetahuan mengenai tumbuhan paku pohon yang merupakan fosil hidup karena bentuknya yang hampir tidak berubah sejak zaman prasejarah," katanya.

Penelitian Lain

Dosen Unej juga meneliti kekayaan sumber daya alam lainnya di Erek-erek Geoforest, mulai dari lingkungan, tanaman hingga hewan yang ada, karena memang sungguh luar biasa sehingga bisa menjadi sumber pengetahuan dan peluang riset lanjutan.

Tidak heran jika kemudian wilayah Erek-erek Geoforest tergolong High Conservation Value (HCV) atau Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi (KBKT). KBKT adalah konsep identifikasi nilai biologis, ekologis, sosial, atau budaya yang sangat signifikan di suatu wilayah.

Baca juga: Geopark Ijen Hadapi Revalidasi UNESCO, Banyuwangi Target Green Card”

KBKT digunakan untuk melindungi keanekaragaman hayati, jasa ekosistem, dan kebutuhan masyarakat. Begitu pentingnya sehingga semua pihak harus turut menjaga kelestariannya.

"Oleh karena itu kondisi Erek-erek Geoforest harus dijaga bersama, sebab harta yang tak ternilai bagi wilayah Tapal Kuda,” ujarnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Waste4Change: Produksi Sampah Nasional Per Hari Setara 12 Candi Borobudur
Waste4Change: Produksi Sampah Nasional Per Hari Setara 12 Candi Borobudur
LSM/Figur
Pangkas Emisi, Perusahaan Logistik Global Beralih ke Avtur Ramah Lingkungan
Pangkas Emisi, Perusahaan Logistik Global Beralih ke Avtur Ramah Lingkungan
Swasta
Gas Metana di Atmosfer Melonjak Dalam 4 Tahun, Tertinggi pada 2021
Gas Metana di Atmosfer Melonjak Dalam 4 Tahun, Tertinggi pada 2021
LSM/Figur
Minim Aksi Iklim, Pendapatan Rata-Rata Masyarakat Dunia Diprediksi Turun 15 Persen
Minim Aksi Iklim, Pendapatan Rata-Rata Masyarakat Dunia Diprediksi Turun 15 Persen
Pemerintah
ISO Perbarui Standar Utama Manajemen Lingkungan
ISO Perbarui Standar Utama Manajemen Lingkungan
Swasta
Dosen Unej Teliti Tanaman Zaman Prasejarah di Geopark Ijen
Dosen Unej Teliti Tanaman Zaman Prasejarah di Geopark Ijen
LSM/Figur
Krisis Selat Hormuz, FAO Ingatkan Bahaya Inflasi Pangan Global
Krisis Selat Hormuz, FAO Ingatkan Bahaya Inflasi Pangan Global
Pemerintah
KKP Tak Tenggelamkan Kapal Asing Ilegal Seperti Era Susi Pudjiastuti, tapi Diberikan ke Nelayan
KKP Tak Tenggelamkan Kapal Asing Ilegal Seperti Era Susi Pudjiastuti, tapi Diberikan ke Nelayan
Pemerintah
Pakar IPB Beberkan Cara Berantas Lonjakan Populasi Ikan Sapu-sapu
Pakar IPB Beberkan Cara Berantas Lonjakan Populasi Ikan Sapu-sapu
Pemerintah
Kepatuhan Minum Tablet Tambah Darah di Kalangan Remaja Rendah, Ngantuk Saat Jam Pelajaran
Kepatuhan Minum Tablet Tambah Darah di Kalangan Remaja Rendah, Ngantuk Saat Jam Pelajaran
LSM/Figur
Kemenhut Terbitkan Aturan Baru Perdagangan Karbon, Disebut Lebih Jelas dan Terarah
Kemenhut Terbitkan Aturan Baru Perdagangan Karbon, Disebut Lebih Jelas dan Terarah
Pemerintah
Remaja Paham Stunting tapi Lebih Suka Seblak ketimbang Sayur-Buah
Remaja Paham Stunting tapi Lebih Suka Seblak ketimbang Sayur-Buah
LSM/Figur
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
LSM/Figur
Sandiaga Uno: Indonesia Punya Prospek Cerah di Ekonomi Hijau
Sandiaga Uno: Indonesia Punya Prospek Cerah di Ekonomi Hijau
Pemerintah
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau