Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

KLH Selidiki Longsor Cisarua, Dalami Dugaan Pelanggaran Lingkungan

Kompas.com, 30 Januari 2026, 19:20 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyelidiki penyebab longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq minta pendalaman terkait dugaan pelanggaran lingkungan yang memperparah dampak longsor di wilayah tersebut.

Menurut Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLH, Rasio Ridho Sani, pihaknya telah mengerahkan tim pengawas dan penyidik ke lapangan untuk mengumpulkan bahan keterangan guna mengidentifikasi pihak-pihak yang abai terhadap aturan lingkungan hidup.

Baca juga: 

“Kami juga melakukan pengawasan dan akan mengambil langkah-langkah penegakan hukum terhadap para pihak yang melakukan pelanggaran lingkungan hidup,” ujar Rasio dalam keterangannya, Jumat (30/1/2026).

KLH selidiki penyebab longsor Cisarua

Bakal gandeng tim ahli ITB untuk bedah lanskap dan faktor pemicu bencana

Operasi pencarian korban longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat memasuki hari ketujuh, Jumat (30/1/2026). Kementerian Lingkungan Hidup Selidiki penyebab longsor Cisarua dan dalami dugaan pelanggaran lingkungan yang memperparah dampak bencana.KOMPAS.com/BAGUS PUJI PANUNTUN Operasi pencarian korban longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat memasuki hari ketujuh, Jumat (30/1/2026). Kementerian Lingkungan Hidup Selidiki penyebab longsor Cisarua dan dalami dugaan pelanggaran lingkungan yang memperparah dampak bencana.

KLH memitigasi risiko bencana serupa dengan memperluas jangkauan pengawasan serta kajian lingkungan di berbagai Daerah Aliran Sungai (DAS) prioritas nasional.

“Kami bekerja untuk memastikan dan mencegah dampak dari bencana hidrometeorologi di berbagai wilayah yang rawan. Tim kami terus bekerja di lapangan untuk melakukan kajian lingkungan secara cepat melalui rapid assessment, guna memastikan dan mencegah dampak dari bencana hidrometeorologi,” jelas Rasio.

Nantinya, KLH bakal merevisi Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) sekaligus menata ulang tata ruang di wilayah-wilayah yang secara geografis berisiko terhadap bencana.

Pemerintah turut menggandeng tim ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk membedah lanskap serta faktor pemicu bencana secara komprehensif.

Baca juga:

Ahli Hidrometeorologi ITB, Imam Achmad Sadisun, menyampaikan bahwa kerja sama ini telah dirintis sejak tahap awal guna memastikan validitas data lapangan.

Dengan begitu, bisa menghasilkan proyeksi yang akurat mengenai kerentanan wilayah hulu terhadap curah hujan ekstrem maupun pergeseran tanah.

“Tentunya ITB sebagai salah satu institusi yang memiliki banyak tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu, mudah-mudahan ke depan dapat berkolaborasi lebih lanjut dengan KLH,” kata Imam.

Langkah strategis pengkajian lingkungan dan penegakan hukum ini bakal dilakukan di berbagai wilayah hulu DAS prioritas di Jawa antara lain DAS Citarum, DAS Ciliwung, DAS Serayu, hingga DAS Kali Bekasi.

Di luar Jawa, pengawasan serupa digelar di DAS Ayung, Bali untuk menjaga stabilitas ekosistem pariwisata serta lingkungan. Pengawasan lingkungan akan difokuskan sepenuhnya pada kegiatan dan unit usaha yang beroperasi di wilayah hulu, agar sesuai daya dukung dan daya tampung lingkungan.

Korban longsor Cisarua

Lanskap lokasi longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, Selasa (27/1/2026). Kementerian Lingkungan Hidup Selidiki penyebab longsor Cisarua dan dalami dugaan pelanggaran lingkungan yang memperparah dampak bencana.KOMPAS.com/BAGUS PUJI PANUNTUN Lanskap lokasi longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, Selasa (27/1/2026). Kementerian Lingkungan Hidup Selidiki penyebab longsor Cisarua dan dalami dugaan pelanggaran lingkungan yang memperparah dampak bencana.

Diberitakan sebelumnya, operasi pencarian korban longsor Cisarua memasuki hari ketujuh sejak bencana terjadi pada Sabtu (24/1/2026).

Setidaknya, ada 55 jenazah yang ditemukan petugas di lokasi kejadian, dengan sebanyak 41 di antaranya telah teridentifikasi per Kamis (29/1/2026).

Untuk mempercepat proses evakuasi, tim SAR gabungan menambah dua unit alat berat guna membuka material longsoran yang menimbun sedikitnya 30 rumah di tiga kampung yaitu Babakan, Pasirkuning, dan Pasirkuda.

Direktur Operasi Basarnas Laksamana Pertama TNI, Y. Bramantyo N, mengatakan, seluruh personel telah dikonsolidasikan sejak pagi untuk memastikan kesiapan operasi di seluruh sektor pencarian.

Baca juga:

Cuaca menjadi faktor krusial yang memengaruhi efektivitas pencarian setelah pada hari-hari sebelumnya hujan kerap menghambat pergerakan tim dan alat berat.

“Hari ini merupakan hari ketujuh pelaksanaan operasi penanganan longsor di Kecamatan Cisarua. Sejak pagi seluruh personel sudah kami konsolidasikan,” kata Bramantyo, dilaporkan oleh Kompas.com, Jumat (30/1/2026).

Guna mendukung operasi di lapangan, Basarnas mendatangkan dua unit ekskavator PC 200 yang akan digunakan untuk membuka dan menggeser material longsor di titik-titik yang dinilai strategis. Tim SAR memperkirakan masih ada 25 korban yang tertimbun longsor Cisarua.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Peringati Kemenangan Lawan Nazi, Rusia Tanam Mangrove di Jakarta
Peringati Kemenangan Lawan Nazi, Rusia Tanam Mangrove di Jakarta
LSM/Figur
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau