Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

4 Jenis Primata yang Terancam Punah di Indonesia, Ada Orangutan

Kompas.com, 31 Januari 2026, 10:51 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Terdapat empat jenis primata yang terancam punah di Indonesia. Primata tersebut masuk dalam kategori kritis atau sangat terancam punah berdasarkan laporan Primates in Peril periode tahun 2023-2025.

Apa saja primata tersebut? Simak selengkapnya.

Baca juga:

Daftar primata yang terancam punah di Indonesia

1. Orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis)

Orangutan tapanuli termasuk satwa yang terancam punah di Indonesia.DOK. SHUTTERSTOCK/NISANSALA Orangutan tapanuli termasuk satwa yang terancam punah di Indonesia.

Spesies kera besar yang telah dipisahkan dari orangutan sumatera (Pongo abelii) pada akhir tahun 2017 lalu ini berstatus Critically Endangered (kritis), merujuk pada daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Orangutan tapanuli berstatus kritis karena habitatnya terbatas hanya di ekosistem Batang Boru, Sumatera Selatan.

Hutan Batang Toru mencakup tiga kabupaten yaitu, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan. Luasan lanskap Batang Toru diperkirakan seluas 240.000 sampai 280.000 hektar, dan yang menjadi habitat orangutan tapanuli hanya sekitar 138.435 hektar atau sekitar 49 persen, serta terpisah dalam tiga blok habitat.

Berdasarkan Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), Orangutan tapanuli masuk ke dalam kategori Appendix I dan merupakan satwa dilindungi oleh pemerintah Indonesia.

Populasi Orangutan tapanuli diperkirakan berjumlah hanya 577-760 individu, merujuk dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Orangutan Pemerintah Indonesia 2019-2029.

Baca juga:

2. Simakobu (Simias concolor)

Simakobu termasuk primata yang terancam punah di Indonesia.tamannasionalsiberut.org Simakobu termasuk primata yang terancam punah di Indonesia.

Terdapat dua sub-jenis simakobu yang tersebar di empat pulau utama di Kepulauan Mentawai. Simias concolor concolor tersebar di Pulau Sipora, Pagai, dan pulau kecil sekitarnya, sedangkan itu, Simias concolor siberu yang hanya ada di Pulau Siberut.

Populasi primata endemik Kepulauan Mentawai ini menurun drastis hingga 75 persen sejak 1980. Saat ini, hanya tersisa berkisar 6.700–17.300 individu. Penurunan populasi Simakobu akibat deforestasi, degradasi habitat dan perburuan.

IUCN mengkategorikan satwa yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia itu dalam Critically Endangered (kritis) dan masuk ke dalam kategori Appendix I berdasarkan CITES.

3. Lutung sentarum (Presbytis chrysomelas)

Lutung sentarum, primata yang terancam punah di Indonesia. Lutung sentarum, primata yang terancam punah di Indonesia.

Primata dari kelompok monyet daun (Colobinae) ini dulunya tersebar luas di barat laut Borneo. Saat ini, lutung sentarum hanya bisa ditemukan di sekitar lima persen dari sebaran historisnya.

Habitat utama lutung sentarum berada di dataran rendah, hutan rawa, gambut, dan mangrove.

Mulanya, lutung sentarum dianggap sebagai sub-jenis dari kokah (Presbytis femoralis) atau simpai (Presbytis melalophos), sebelum akhirnya ditetapkan sebagai jenis tersendiri.

Lutung sentarum terdiri dari dua subjenis yaitu, Presbytis chrysomelas chrysomelas dan Presbytis chrysomelas cruciger, yang dibedakan mengacu pada sebaran dan pola warna tubuh.

Lutung sentarum hidup berkelompok kecil, bersifat diurnal, memakan dedaunan, dan lebih sering beraktivitas di pohon pada ketinggian empat sampai 20 meter.Saat ini populasi Lutung sentarum tersisa hanya 200-500 individu.

Keberadaan Lutung sentarum teridentifikasi di Taman Nasional Danau Sentarum pada 2019, meski awalnya diyakini hanya ada di Sarawak. IUCN memang mengkategorikan Lutung sentarum masuk ke dalam status Critically Endangered (kritis). Namun, Lutung sentarum belum masuk daftar satwa dilindungi Indonesia.

4. Tarsius sangihe (Tarsius sangirensis)

Tarsius termasuk primata yang terancam punah di Indonesia. Tarsius termasuk primata yang terancam punah di Indonesia.

Primata berukuran kecil yang hanya hidup di Pulau Sangihe ini merupakan satu dari 12 jenis tarsius yang ada di dunia.

Sebagai primata nokturnal karnivora, tarsius sangihe memangsa serangga dan menunjukkan morfologi khas, seperti mata besar, ekor panjang, dan kemampuan memutar kepala hampir 180 derajat.

Saat ini, populasi tarsius sangihe diperkirakan hanya sekitar 464 individu, sudah dikategorikan sebagai Endangered (terancam) oleh IUCN dan termasuk satwa dilindungi oleh pemerintah Indonesia.

Laporan daftar primata sangat terancam itu dipublikasikan oleh IUCN SSC Primate Specialist Group, International Primatological Society dan Re:wild, baru-baru ini.

Laporan tersebut memuat lebih dari 100 hasil penelitian pakar primata dan edisi ke-12 dari daftar yang dirilis setiap dua tahun ini, mengidentifikasi spesies primata paling membutuhkan tindakan konservasi.

Baca juga:

Apa peran primata dalam ekosistem?

Dua individu orangutan Tapanuli tampak sedang memakan petai di kawasan hutan Batang Toru, beberapa waktu lalu. Petai adalah salah satu dari 124 jenis pakan yang disukainya. Balai Litbang LHK Aek Nauli, Wanda Kuswanda Dua individu orangutan Tapanuli tampak sedang memakan petai di kawasan hutan Batang Toru, beberapa waktu lalu. Petai adalah salah satu dari 124 jenis pakan yang disukainya.

Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna menilai, primata berperan penting dalam ekosistem sebagai agen penyebar biji (seed disperser) utama.

Primata memastikan berlangsungnya regenerasi dan menjaga keragaman spesies di hutan hujan tropis.

Keberadaan primata bisa menjadi indikator kesehatan ekosistem. Melalui pola makan frugivora, primata menanam kembali hutan secara alami, mengendalikan populasi serangga, serta menunjang siklus hara tanah.

Menurut Dolly, saat ini keberadaan primata di Indonesia menghadapi ancaman serius yang mengarah pada kepunahan. Khususnya, disebabkan deforestasi masif, konversi lahan, perburuan, dan perdagangan satwa liar ilegal.

Fragmentasi hutan mengisolasi populasi di saat konflik manusia-primata meningkat karena berkurangnya ruang hidup.

Indonesia telah melakukan berbagai inisiatif untuk mewujudkan pelestarian primata dan habitatnya, seperti patroli perlindungan habitat, pusat rehabilitasi dan pelepasliaran, serta penyadartahuan dan edukasi.

Ia berharap peringatan Hari Primata Indonesia pada 30 Januari lalu dapat menjadi momentum kolaborasi multipihak dengan konsep pentahelix untuk mendukung program pelestarian maupun perlindungan primata beserta habitatnya.

Konsep tersebut menggabungkan peran akademisi, sektor bisnis, komunitas, pemerintah, dan media.

"Dengan melibatkan berbagai pihak, konsep pentahelix dapat digunakan untuk mencari pendekatan inovatif dan efektif guna meningkatkan pengembangan dan implementasi program pelestarian dan perlindungan primata beserta habitatnya di Indonesia. Tentu saja butuh koordinasi yang baik, juga komitmen tinggi, dari berbagai pihak sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing," ujar Dolly dalam keteragan tertulis, Jumat (30/1/2026).

Primata di Indonesia

Indonesia merupakan salah satu negara dengan keragaman jenis primata tertinggi di dunia merujuk pada Mammal Diversity Database tahun 2025. Indonesia memiliki 66 jenis atau setara dengan 12,8 persen dari primata yang ada di dunia.

Jumlah jenis primata di Indonesia menempati urutan ketiga setelah Brasil dan Madagaskar, yang tersebar di empat pulau besar yaitu, Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Sulawesi.

Berdasarkan daftar merah IUCN, dari 66 jenis primata Indonesia, terdapat 12 jenis berstatus Critically Endangered atau kritis, 25 jenis berstatus Endangered (terancam), 26 jenis berstatus Vulnerable (rentan), satu jenis berstatus Near Threatened (hampir terancam), serta dua jenis masih Data Deficient (informasi kurang).

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Era Trump, AS Hapus Referensi dan Sensor Data Krisis Iklim
Era Trump, AS Hapus Referensi dan Sensor Data Krisis Iklim
Pemerintah
26 Juta Hektar Hutan Indonesia Terancam Deforestasi Legal
26 Juta Hektar Hutan Indonesia Terancam Deforestasi Legal
LSM/Figur
AS Pimpin Lonjakan PLTG Baru untuk AI, Bisa Perparah Dampak Iklim
AS Pimpin Lonjakan PLTG Baru untuk AI, Bisa Perparah Dampak Iklim
Pemerintah
Penelitian Ungkap Risiko Perubahan Iklim Ubah Strategi Bisnis
Penelitian Ungkap Risiko Perubahan Iklim Ubah Strategi Bisnis
LSM/Figur
4 Jenis Primata yang Terancam Punah di Indonesia, Ada Orangutan
4 Jenis Primata yang Terancam Punah di Indonesia, Ada Orangutan
LSM/Figur
WHO Rilis Rekomendasi Makanan Sehat untuk Sekolah di Seluruh Dunia
WHO Rilis Rekomendasi Makanan Sehat untuk Sekolah di Seluruh Dunia
Pemerintah
Wadhwani Foundation Perluas Dampak Program Ketenagakerjaan di Indonesia
Wadhwani Foundation Perluas Dampak Program Ketenagakerjaan di Indonesia
LSM/Figur
UT School Gandeng Pemkab Sumbawa Barat dan AMNT, Siapkan SDM Tersertifikasi
UT School Gandeng Pemkab Sumbawa Barat dan AMNT, Siapkan SDM Tersertifikasi
Swasta
Cara Mengajak Orang Peduli Perubahan Iklim, Ini Temuan Studi Terbaru
Cara Mengajak Orang Peduli Perubahan Iklim, Ini Temuan Studi Terbaru
LSM/Figur
KLH Selidiki Longsor Cisarua, Dalami Dugaan Pelanggaran Lingkungan
KLH Selidiki Longsor Cisarua, Dalami Dugaan Pelanggaran Lingkungan
Pemerintah
Palmerah Yuk, Kampanye KG Media untuk Donasi Banjir dan Kurangi Sampah Fashion
Palmerah Yuk, Kampanye KG Media untuk Donasi Banjir dan Kurangi Sampah Fashion
Swasta
Elon Musk Ingin Bangun Pusat Data AI di Ruang Angkasa, Dinilai Lebih Efisien
Elon Musk Ingin Bangun Pusat Data AI di Ruang Angkasa, Dinilai Lebih Efisien
Swasta
Hari Primata Indonesia, Kenali Primata Apa Saja yang Dilindungi
Hari Primata Indonesia, Kenali Primata Apa Saja yang Dilindungi
Pemerintah
Migrasi Burung Rusia dan China ke Jawa Timur Bisa Terancam Dampak Krisis Iklim
Migrasi Burung Rusia dan China ke Jawa Timur Bisa Terancam Dampak Krisis Iklim
LSM/Figur
Plastik Biodegradable Bisa Kurangi Polusi, tapi Ada Dampak Tersembunyi
Plastik Biodegradable Bisa Kurangi Polusi, tapi Ada Dampak Tersembunyi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau