KOMPAS.com - World Health Organization (WHO) merilis rekomendasi terbaru terkait penyediaan makanan sehat dan bergizi di sekolah-sekolah di seluruh dunia.
Rekomendasi ini ditujukan untuk membentuk kebiasaan makan sehat sejak dini sekaligus mengurangi kesenjangan kesehatan dan gizi pada anak.
WHO menilai sekolah menjadi lingkungan strategis karena anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya di sana. Lingkungan sekolah, termasuk jenis makanan yang tersedia, dinilai memiliki pengaruh jangka panjang terhadap pola makan, kesehatan, dan kesejahteraan anak hingga dewasa.
Baca juga: Guru Besar UGM: RI Mestinya Pajaki Minuman Berpemanis dan Beri Subsidi Makanan Sehat
“Makanan yang dikonsumsi anak-anak di sekolah, serta lingkungan yang membentuk apa yang mereka makan, dapat memberikan dampak yang mendalam pada pembelajaran mereka dan memiliki konsekuensi seumur hidup bagi kesehatan dan kesejahteraan,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, dikutip dari laman resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Selasa (27/1/2026).
WHO menyoroti kondisi di sekitar sekolah yang masih dipenuhi makanan tinggi lemak jenuh, asam lemak trans, gula bebas, dan garam.
Pola konsumsi tersebut dinilai tidak sejalan dengan pedoman diet nasional di banyak negara dan berkontribusi pada berbagai bentuk malnutrisi, kelebihan berat badan, serta meningkatnya penyakit tidak menular yang berkaitan dengan pola makan.
Rekomendasi WHO ini bertujuan meningkatkan ketersediaan, pembelian, dan konsumsi makanan serta minuman yang mendukung pola makan sehat di lingkungan sekolah. Sebaliknya, WHO juga mendorong pembatasan dan pengurangan konsumsi makanan dan minuman yang tidak sehat.
Dalam pedoman tersebut, WHO menegaskan bahwa makanan dan minuman yang disediakan, disajikan, dijual, atau dikonsumsi di sekolah harus aman, bergizi, dan mendukung tujuan kesehatan masyarakat nasional, serta sejalan dengan pemenuhan hak anak.
Baca juga: 15 Makanan Sehat untuk Penderita Migrain yang Bantu Redakan Gejalanya
Pedoman ini berlaku untuk seluruh jenjang pendidikan, mulai dari pra-sekolah, sekolah dasar, hingga sekolah menengah, baik negeri maupun swasta.
Namun, WHO tidak mengatur secara rinci mekanisme penerapan dan pemantauan kebijakan tersebut, melainkan memberikan kerangka dan rekomendasi langkah yang dapat diambil oleh masing-masing negara.
WHO mengusulkan tiga strategi utama intervensi gizi di sekolah. Pertama, penyediaan makanan langsung bagi siswa di sekolah.
Kedua, penerapan standar gizi yang mengatur kualitas makanan yang tersedia. Ketiga, penerapan intervensi dorongan atau nudging interventions untuk mempromosikan perilaku makan sehat.
Melalui strategi tersebut, WHO merekomendasikan peningkatan ketersediaan makanan sehat di dalam dan sekitar sekolah, seperti makanan rendah lemak, pengurangan kandungan energi makanan sekolah, serta penghapusan camilan yang tidak sehat.
Salah satu rekomendasi yang disorot adalah penerapan nudging interventions, yakni perubahan pada kemasan, penempatan, atau ukuran porsi makanan untuk mendorong anak memilih makanan yang lebih sehat.
Contohnya, menempatkan susu murni di posisi yang lebih mudah terlihat dibandingkan susu cokelat, menyajikan buah dalam bentuk potongan, serta meningkatkan daya tarik buah dan sayuran melalui kemasan atau tampilan yang lebih menarik.
Baca juga: 28 Siswa SD di Cipatat Bandung Barat Dilarikan ke Puskesmas, Diduga Keracunan Jajanan Sekolah
Selain itu, WHO juga menyarankan pengelolaan kantin sekolah agar mendorong pilihan makanan sehat. Salah satu caranya adalah dengan memberi label menu sederhana, seperti kategori “harian”, “sesekali”, atau “pertimbangkan untuk beralih”, sehingga siswa dan orang tua dapat memahami kualitas gizi makanan tanpa harus membaca label nutrisi yang kompleks.
WHO berharap rekomendasi ini dapat membantu negara-negara menciptakan lingkungan sekolah yang mendukung pola makan sehat, sekaligus menjadi investasi jangka panjang bagi kesehatan generasi mendatang.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya