Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bahan Kimia Abadi PFOA Bisa Sebabkan Gangguan Kehamilan

Kompas.com, 31 Januari 2026, 18:41 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Asam perfluorooktanoat (PFOA), bahan kimia yang banyak dipakai dalam berbagai industri, disebut bisa mengganggu tahap awal kehamilan.

"Asam perfluorooktanoat (PFOA), salah satu bahan kimia pengganggu endokrin, menyebabkan penurunan kesuburan," tulis sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Reproductive and Developmental Medicine, Sabtu (31/1/2026).

Baca juga: 

Studi terbaru mengungkapkan potensi risiko kesuburan, dengan menargetkan momen ketika embrio harus menempel dengan rahim.

Dalam percobaan, tikus diberi PFOA melalui mulut selama awal kehamilan untuk melihat bagaimana senyawa tersebut memengaruhi produksi hormon ovarium dan kesiapan rahim melakukan implantasi, dilansir dari SciTechDaily.

Para peneliti dari Universitas Ilmu Kedokteran Iran menemukan bahwa paparan tersebut menyebabkan kadar progesteron lebih rendah, perubahan pada permukaan rahim, dan penurunan kadar sitokin dalam implantasi.

Studi itu menekankan pentingnya kombinasi tersebut, mengingat implantasi bergantung pada sinyal hormon yang terkoordinasi serta pesan imun antara embrio dan jaringan ibu.

Baca juga:

Bahan kimia abadi PFOA bisa mengganggu kehamilan

Bisa ditemukan di barang yang digunakan sehari-hari

Penelitian menemukan PFOA, yang termasuk bahan kimia abadi, menurunkan hormon progesteron dan mengganggu kesiapan rahim untuk kehamilan.freepik.com Penelitian menemukan PFOA, yang termasuk bahan kimia abadi, menurunkan hormon progesteron dan mengganggu kesiapan rahim untuk kehamilan.

PFOA merupakan senyawa sintesis yang dikategorikan sebagai "bahan kimia abadi". Sebab, bahan kimia tersebut terurai sangat lambat dan dapat menumpuk di dalam tubuh seiring waktu.

Senyawa ini dikaitkan dengan jalur paparan sehari-hari melalui barang-barang tertentu, seperti peralatan masak antilengket, kemasan makanan, dan air minum yang terkontaminasi.

Studi sebelumnya tentang PFAS telah mengaitkan paparan senyawa ini dengan gangguan siklus menstruasi, menopause dini, dan cadangan ovarium yang lebih rendah.

Dari momen tersebut, timbul pertanyaan tentang potensi gangguan PFAS terhadap implantasi masih kurang yang jelas.

Setelah memberikan dosis PFOA yang meningkat kepada tikus hamil, para peneliti mengukur kadar hormon, memeriksa struktur rahim, serta menilai aktivitas gen terkait reseptivitas endometrium. 

Langkah itu untuk melihat bagaimana bahan kimia tersebut bisa mengubah kondisi yang dibutuhkan agar embrio berhasil menempel.

Studi mengungkapkan bahwa paparan PFOA mengurangi kadar progesteron serum, hormon yang penting untuk mempersiapkan rahim untuk kehamilan. 

“Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa PFOA mengubah beberapa jalur kunci yang terlibat dalam reseptivitas endometrium. Dengan mengurangi produksi progesteron, menurunkan pembentukan pinopoda, dan menekan ekspresi IL-1β dan IL-6, PFOA menciptakan kondisi yang merugikan implantasi embrio," demikian kesimpulan dari studi tersebut.

Baca juga: Panas Ekstrem dan Kelembapan Bisa Berdampak pada Janin

Penelitian menemukan PFOA, yang termasuk bahan kimia abadi, menurunkan hormon progesteron dan mengganggu kesiapan rahim untuk kehamilan.Freepik/freepic.diller Penelitian menemukan PFOA, yang termasuk bahan kimia abadi, menurunkan hormon progesteron dan mengganggu kesiapan rahim untuk kehamilan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
LSM/Figur
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
LSM/Figur
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
LSM/Figur
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Swasta
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
LSM/Figur
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Swasta
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
LSM/Figur
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Pemerintah
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
BUMN
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Pemerintah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Pemerintah
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
BrandzView
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
Pemerintah
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Swasta
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau