Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lahan Gambut Asia Tenggara Jadi Sumber Emisi Gas Rumah Kaca Signifikan

Kompas.com, 31 Januari 2026, 21:20 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Lahan gambut di Indonesia, Malaysia, dan wilayah Asia Tenggara lainnya melepaskan lebih banyak emisi gas rumah kaca (GRK) daripada menyerapnya, menurut studi terbaru.

Bahkan, dalam keadaan alami yang tergenang air, hutan rawa gambut berkontribusi terhadap krisis iklim, dengan melepaskan lebih banyak emisi GRK, seperti karbon dioksida (CO2) dan metana (CH4), daripada sebaliknya.

Baca juga:

"Lahan gambut tropis telah diakui sebagai sumber emisi karbon yang signifikan, dan emisi ini telah diperkirakan untuk wilayah tersebut menggunakan laju dekomposisi gambut yang konstan untuk setiap penggunaan lahan," tulis para peneliti, dilansir dari AGU Advances, Jumat (31/1/2026).

Lahan gambut di Asia Tenggara lepaskan lebih banyak emisi

Emisi GRK hampir berlipat ganda dengan mengeringkan hutan rawa gambut

Studi dari Universitas Hokkaido dengan metode baru di Sumatera, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya pada periode tahun 2011-2020 itu membantah perkiraan sebelumnya. 

Hal ini diperparah intervensi manusia dan krisis iklim yang meningkatkan emisi GRK yang dilepaskan lahan gambut.

Berdasarkan data dari studi selama satu dekade, emisi GRK hampir berlipat ganda dengan hanya mengeringkan hutan rawa gambut.

Bahkan, jika mengubahnya menjadi lahan pertanian, bisa menghasilkan emisi GRK lebih dari enam kali lipat.

Emisi GRK dari lahan gambut di wilayah penelitian Asia Tenggara setara dengan sekitar 30 persen dari emisi tahunan Jepang, dikutip dari Phys.org.

Krisis iklim semakin memperparah permasalahan, dengan kekeringan yang dipicu El Niño meningkatkan emisi GRK lebih jauh lagi.

Dampaknya, produksi emisi GRK secara tahunan di seluruh lahan gambut di wilayah penelitian Asia Tenggara ini meningkat sekitar 16 persen.

Baca juga:

Curah hujan tinggi bisa berdampak pada lahan gambut

Lanskap di tengah hutan desa rawa gambut di Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, pada Senin (27/10/2025). Lahan gambut di Asia Tenggara melepas lebih banyak emisi gas rumah kaca, bahkan saat masih tergenang air.Kompas.com/Manda Firmansyah Lanskap di tengah hutan desa rawa gambut di Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, pada Senin (27/10/2025). Lahan gambut di Asia Tenggara melepas lebih banyak emisi gas rumah kaca, bahkan saat masih tergenang air.

Ke depannya, model iklim memprediksi, curah hujan di wilayah penelitian Asia Tenggara ini akan meningkat pada pertengahan abad ke-21.

Kenaikan curah hujan dapat meningkatkan permukaan air tanah, yang di lahan gambut dapat memperlambat dekomposisi gambut dan mengurangi emisi GRK dalam kondisi tertentu.

Meski hanya mencakup sekitar tiga persen dari permukaan daratan bumi, PBB menyebut, lahan gambut menyimpan karbon lebih dari dua kali lipat dibandingkan gabungan seluruh hutan di dunia.

Maka dari itu, pengelolaan ekosistem gambut dan pola hujan yang berkembang akan menentukan dampaknya terhadap sistem iklim global masa depan.

Baca juga: Usai BRGM Dibubarkan, 26.000 Hektar Gambut Terbakar, Siapa Kini yang Bertanggung Jawab?

Lahan gambut telah terbentuk selama ribuan tahun ketika tanaman tumbuh di hutan rawa gambut tropis yang lebat, kemudian mati dan perlahan membusuk dalam kondisi tergenang air maupun rendah oksigen.

Imbasnya, banyak karbon tersimpan di dalam tanah daripada dilepaskan ke atmosfer.

Curah hujan yang tinggi membuat lanskap ini tergenang air hampir sepanjang tahun, memungkinkan lapisan vegetasi mati menumpuk dan secara bertahap terkompresi menjadi gambut padat yang kaya karbon.

Dalam beberapa dekade terakhir, banyak lahan gambut di wilayah penelitian Asia Tenggara ini telah dikeringkan dan diubah menjadi lahan pertanian.

"Pengeringan lahan gambut ini menurunkan permukaan air tanah sehingga gambut yang kaya karbon terpapar udara. Hal ini mempercepat dekomposisi gambut dan melepaskan CO2 ke atmosfer tetapi mengurangi emisi metana. Lahan gambut tropis telah menarik perhatian sebagai sumber emisi CO2 yang signifikan, tapi masih banyak ketidakpastian,"ujar penulis utama, Profesor Takashi Hirano dari Fakultas Penelitian Pertanian di Universitas Hokkaido.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau