Editor
KOMPAS.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung mengembangkan pengelolaan bioethanol melalui pendekatan multifeedstock atau penggunaan berbagai jenis bahan baku untuk energi terbarukan guna mengoptimalkan pengelolaan komoditas lokal.
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Provinsi Lampung Mulyadi Irsan menyatakan pemerintah daerah menaruh perhatian serius terhadap pengembangan bioetanol sebagai bagian dari pembentukan kemandirian energi nasional.
"Melalui teknologi ini dapat dilakukan percepatan transisi energi hijau, sekaligus mendukung kebijakan wajib pencampuran etanol pada bahan bakar bensin. Langkah ini sekaligus diarahkan untuk mengoptimalkan potensi komoditas pertanian lokal sebagai bahan baku energi terbarukan," ujar dia sebagaimana dikutip dari Antara, Senin (2/2/2026).
Baca juga: Pertagas Mulai Kembangkan Bisnis Baru, dari Bioethanol, Hidrogen, sampai CCUS
Menurut dia, Lampung memiliki keunggulan strategis untuk pengembangan bioetanol, yakni dari sisi geografis maupun ketersediaan bahan baku. Sebab sekitar 29 persen struktur ekonomi Lampung ditopang oleh sektor pertanian, dengan produksi jagung mencapai sekitar 2,7 juta ton per tahun, serta berkontribusi hingga 70 persen produksi nasional.
Provinsi Lampung merupakan gerbang Pulau Sumatra dan berdekatan langsung dengan pasar utama di Pulau Jawa. Sehingga potensi komoditas pertanian yang sangat besar dapat dioptimalkan untuk mendukung kebutuhan bahan baku bioethanol.
"Penerapan multifeedstock menjadi kunci agar produksi bioetanol tidak bergantung pada satu jenis komoditas. Teknologi ini memungkinkan pemanfaatan berbagai bahan baku seperti ubi kayu, tebu, nira, hingga biomassa lainnya secara fleksibel dan berkelanjutan," ucap dia.
Ia melanjutkan penerapan multifeedstock pun bisa menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi dan ketahanan pangan di mana produksi bioetanol tetap berjalan tanpa menekan satu komoditas tertentu.
Diketahui berdasarkan rencana Pertamina New dan Renewable Energy di tahap awal berfokus pada pembangunan demo plan bioetanol generasi kedua, yang direncanakan berlokasi di kawasan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran.
Pada tahap tersebut, bahan baku yang digunakan antara lain limbah biomassa kelapa sawit serta uji tanam sorgum sebagai bagian dari pengembangan teknologi lanjutan sebelum masuk ke skala komersial.
Kemudian telah adapula rencana investasi oleh Toyota melalui PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) dalam pengembangan ekosistem bioetanol di Indonesia salah satunya di Lampung.
Baca juga: Pertamina NRE Kembangkan Bioethanol Ramah Lingkungan untuk Dukung Swasembada Energi
Investasi itu sejalan dengan Astacita, khususnya dalam mendorong swasembada energi, ekonomi hijau, serta hilirisasi industri guna meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.
Berdasarkan Peta Jalan Strategi Hilirisasi Investasi Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Provinsi Lampung termasuk wilayah yang telah disiapkan sebagai sentra pengembangan industri bioetanol nasional, dengan dukungan bahan baku utama berupa tebu, singkong, dan sorgum.
Pengembangan industri bioetanol tersebut diproyeksikan tidak hanya memperkuat rantai pasok energi bersih nasional, tetapi juga membuka lapangan kerja baru serta meningkatkan kesejahteraan petani lokal di daerah penghasil bahan baku.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya