Editor
JAKARTA, KOMPAS.com - PT Pertamina (Persero) menggandeng Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Kebumen untuk memberdayakan warga binaan melalui pengolahan limbah pelepah pisang menjadi serat alami bernilai ekonomi.
Kolaborasi ini dijalankan melalui Program Pertapreneur Aggregator (PAG) yang melibatkan UMKM binaan Pertamina, PT Agrominafiber Java Indonesia.
Program tersebut difokuskan pada peningkatan keterampilan dan kemandirian warga binaan dengan melibatkan mereka langsung dalam rantai produksi UMKM.
Baca juga: Kembangkan Energi Bersih, Pertamina NRE Gandeng Perusahaan China
Direktur PT Agrominafiber Java Indonesia, Novita, mengatakan pelepah pisang memiliki potensi besar sebagai bahan baku industri kerajinan dan material berkelanjutan yang diminati pasar, termasuk pasar ekspor.
“Melalui program ini, warga binaan dilibatkan langsung dalam proses produksi serat alami yang memiliki nilai ekonomi dan ramah lingkungan,” ujar Novita dalam keterangan tertulis, Senin (2/2/2026).
Sebagai tindak lanjut pelatihan awal, Agrominafiber telah menyalurkan sekitar satu ton bahan baku ke Rutan Kebumen dalam waktu satu minggu. Ke depan, perusahaan menargetkan sekitar 30 persen dari total kebutuhan bahan baku sebesar 15 ton dapat dipasok dari hasil produksi warga binaan.
Kolaborasi tersebut ditinjau langsung oleh Asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina dalam kunjungan ke Rutan Kebumen pada Senin (26/1/2026).
Kunjungan dilakukan untuk memastikan program berjalan sesuai standar, berkelanjutan, serta memberikan manfaat jangka panjang, baik dari sisi bisnis maupun dampak sosial.
Kepala Rutan Kelas IIB Kebumen, Pramu Sapta menyebut respons terhadap program ini tergolong positif meski baru berjalan kurang dari satu bulan. Menurut dia, perkembangan keterampilan warga binaan dan prospek kerja sama dinilai menjanjikan.
“Kami berharap program ini menjadi bekal keterampilan bagi warga binaan, tidak hanya selama menjalani masa pidana, tetapi juga ketika mereka kembali ke masyarakat,” ujar Pramu.
Hasil pelatihan awal menunjukkan warga binaan telah mampu memproduksi serat pelepah pisang dengan kualitas yang terus meningkat.
Target produksi ditetapkan sekitar tiga ton per bulan, dengan sekitar 60 persen produk telah memenuhi standar kualitas perusahaan dan sisanya masih dalam tahap penyempurnaan teknik.
Asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina, Bima, menilai sinergi antara UMKM binaan dan Rutan Kebumen berpotensi memperkuat kesinambungan pasokan bahan baku. Fokus pendampingan ke depan diarahkan pada peningkatan kualitas dan ketepatan waktu produksi.
Baca juga: Pertamina Salurkan Bantuan untukUrban Farming dan Pengelolaan Sampah Senilai Rp 6,5 Miliar
Sementara itu, Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan program ini merupakan bagian dari upaya Pertamina mendorong pengembangan UMKM berbasis agregasi yang tidak hanya berdaya saing secara bisnis, tetapi juga menghadirkan dampak sosial yang berkelanjutan.
“Melalui pendampingan intensif selama enam bulan ke depan, kami berharap kolaborasi ini dapat menjadi contoh pengembangan UMKM yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus sosial,” ujar Baron.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya