Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim Bikin Negara Tropis Menghangat Lebih Cepat

Kompas.com, 4 Februari 2026, 21:12 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Beberapa wilayah di kawasan tropis akan menghangat lebih cepat atau secara drastis daripada perkiraan sebelumnya, seiring perkembangan krisis iklim, menurut studi dari Universitas Colorado Boulder.

"Wilayah tropis menjadi tempat tinggal bagi 40 persen populasi dunia, dan negara-negara di wilayah tropis tidak siap untuk beradaptasi dengan perubahan iklim di masa depan," tulis studi tersebut, dikutip dari laman Proceedings of the National Academy of Sciences, Selasa (3/2/2026).

Baca juga:

Dengan menggunakan sedimen danau dari Pegunungan Andes, Kolombia, studi menemukan bahwa bumi menghangat jutaan tahun lalu di bawah tingkat karbon dioksida (CO2) yang mirip kondisi saat ini.

Studi yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences itu menyebut, kawasan tropis memanas hampir dua kali lipat dibandingkan dengan lautan.

"Jika kita ingin mempelajari perubahan iklim untuk membantu masyarakat, kita perlu lebih memperhatikan perubahan regional agar penduduk setempat tahu apa yang harus mereka harapkan," ujar penulis utama studi, Lina Pérez-Angel, mahasiswa doktoral di Institut Penelitian Arktik dan Alpen (INSTAAR) dan Departemen Ilmu Geologi Universitas Colorado Boulder, dilansir dari Phys.org. 

Kawasan tropis akan menghangat lebih cepat dari perkiraan

Meneliti arsip iklim dari sedimen

Kawasan dengan suhu sudah tinggi, peningkatan sekecil apa pun dapat mendorongnya melampaui ambang batas yang bisa ditoleransi manusia.Dok. Freepik/lifeforstock Kawasan dengan suhu sudah tinggi, peningkatan sekecil apa pun dapat mendorongnya melampaui ambang batas yang bisa ditoleransi manusia.

Sekitar 2,5 hingga lima juta tahun lalu, bumi lebih hangat daripada saat ini. Mayoritas wilayah di Greenland masih bebas dari es.

Kala itu, rata-rata suhu global 2,5 hingga empat derajat celsius, dengan kadar karbon dioksida (CO2) mirip dengan kondisi saat ini.

Periode Pliosen itu disebut salah satu acuan terbaik untuk apa yang akan terjadi jika suhu bumi terus meningkat.

Untuk merekonstruksi iklim masa lalu bumi, para peneliti menggunakan inti sedimen sebagai saah satu alat utamanya.

Ketika perlahan terakumulasi lapis demi lapis, sedimen memerangkap sinyal kimia, fosil, dan mineral, yang mencerminkan suhu, curah hujan, serta kondisi atmosfer pada saat pengendapan.

Dengan mengebor dan mengekstrak kolom sedimen ini, para peneliti dapat menelusuri kembali iklim masa lalu.

Mayoritas pengetahuan tentang suhu purba bumi berasal dari dasar laut. Sebab, sedimen di laut terbentuk perlahan dan tetap tidak terganggu.

Sementara itu, perubahan bentang alam yang cepat akibat erosi, tanah longsor, pergeseran sungai, dan pembentukan gunung sering kali mengacaukan sedimen yang lebih tua di darat. Imbasnya, catatan berkelanjutan sulit didapatkan.

Kawasan dengan suhu sudah tinggi, peningkatan sekecil apa pun dapat mendorongnya melampaui ambang batas yang bisa ditoleransi manusia.Pexels/Pixabay Kawasan dengan suhu sudah tinggi, peningkatan sekecil apa pun dapat mendorongnya melampaui ambang batas yang bisa ditoleransi manusia.

Pada tahun 1988, tim peneliti dari Belanda dan Kolombia mengambil inti sedimen sepanjang sekitar 580 meter (1.902 kaki) dari cekungan Bogotá, tempat Pérez-Angel dibesarkan.

Terbentuk jutaan tahun yang lalu, cekungan Bogotá telah menyimpan sedimen secara terus menerus dan sebagian besar tidak terganggu sejak akhir Pliosen.

Pérez-Angel dan tim peneliti menganalisis jenis lemak dalam bakteri yang diawetkan di dalam inti batuan untuk merekonstruksi catatan suhu dari Pliosen hingga Pleistosen, atau Zaman Es.

Hasilnya, wilayah daratan Andes tropis ini sekitar 3,7 derajat celsius lebih hangat daripada saat ini.

Sementara itu, permukaan laut tropis hanya 1,9 derajat celsius lebih hangat dibandingkan saat ini.

Kondisi tersebut berarti bahwa suhu daratan di kawasan tropis berubah sekitar 1,6 hingga hampir 2,0 kali lebih tinggi ketimbang suhu lautnya.

Samudera Pasifik mengalami kondisi El Niño yang hampir permanen selama akhir Pliosen, yang pada gilirannya semakin memanaskan pegunungan Andes tropis.

Fenomena El Niño modern telah menyebabkan pemanasan dan kekeringan yang signifikan di Andes utara.

Studi memperingatkan bahwa daerah tersebut bisa mengalami pemanasan tambahan, dengan El Niño yang berpotensi terjadi lebih sering akibat krisis iklim.

"Jika Anda membandingkan catatan suhu selama beberapa dekade terakhir dengan apa yang diprediksi oleh model iklim beberapa dekade lalu, Anda akan melihat bahwa semua data dunia nyata berada di ujung atas prediksi tersebut. Hal ini sebagian disebabkan oleh banyaknya mekanisme umpan balik di alam, dan melampaui ambang batas tertentu dapat memicu serangkaian peristiwa beruntun yang memperkuat perubahan," tutur penulis senior sekaligus peneliti di INSTAAR, Julio Sepúlveda.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Swasta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
LSM/Figur
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau