KOMPAS.com - Beberapa wilayah di kawasan tropis akan menghangat lebih cepat atau secara drastis daripada perkiraan sebelumnya, seiring perkembangan krisis iklim, menurut studi dari Universitas Colorado Boulder.
"Wilayah tropis menjadi tempat tinggal bagi 40 persen populasi dunia, dan negara-negara di wilayah tropis tidak siap untuk beradaptasi dengan perubahan iklim di masa depan," tulis studi tersebut, dikutip dari laman Proceedings of the National Academy of Sciences, Selasa (3/2/2026).
Baca juga:
Dengan menggunakan sedimen danau dari Pegunungan Andes, Kolombia, studi menemukan bahwa bumi menghangat jutaan tahun lalu di bawah tingkat karbon dioksida (CO2) yang mirip kondisi saat ini.
Studi yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences itu menyebut, kawasan tropis memanas hampir dua kali lipat dibandingkan dengan lautan.
"Jika kita ingin mempelajari perubahan iklim untuk membantu masyarakat, kita perlu lebih memperhatikan perubahan regional agar penduduk setempat tahu apa yang harus mereka harapkan," ujar penulis utama studi, Lina Pérez-Angel, mahasiswa doktoral di Institut Penelitian Arktik dan Alpen (INSTAAR) dan Departemen Ilmu Geologi Universitas Colorado Boulder, dilansir dari Phys.org.
Kawasan dengan suhu sudah tinggi, peningkatan sekecil apa pun dapat mendorongnya melampaui ambang batas yang bisa ditoleransi manusia.Sekitar 2,5 hingga lima juta tahun lalu, bumi lebih hangat daripada saat ini. Mayoritas wilayah di Greenland masih bebas dari es.
Kala itu, rata-rata suhu global 2,5 hingga empat derajat celsius, dengan kadar karbon dioksida (CO2) mirip dengan kondisi saat ini.
Periode Pliosen itu disebut salah satu acuan terbaik untuk apa yang akan terjadi jika suhu bumi terus meningkat.
Untuk merekonstruksi iklim masa lalu bumi, para peneliti menggunakan inti sedimen sebagai saah satu alat utamanya.
Ketika perlahan terakumulasi lapis demi lapis, sedimen memerangkap sinyal kimia, fosil, dan mineral, yang mencerminkan suhu, curah hujan, serta kondisi atmosfer pada saat pengendapan.
Dengan mengebor dan mengekstrak kolom sedimen ini, para peneliti dapat menelusuri kembali iklim masa lalu.
Mayoritas pengetahuan tentang suhu purba bumi berasal dari dasar laut. Sebab, sedimen di laut terbentuk perlahan dan tetap tidak terganggu.
Sementara itu, perubahan bentang alam yang cepat akibat erosi, tanah longsor, pergeseran sungai, dan pembentukan gunung sering kali mengacaukan sedimen yang lebih tua di darat. Imbasnya, catatan berkelanjutan sulit didapatkan.
Kawasan dengan suhu sudah tinggi, peningkatan sekecil apa pun dapat mendorongnya melampaui ambang batas yang bisa ditoleransi manusia.Pada tahun 1988, tim peneliti dari Belanda dan Kolombia mengambil inti sedimen sepanjang sekitar 580 meter (1.902 kaki) dari cekungan Bogotá, tempat Pérez-Angel dibesarkan.
Terbentuk jutaan tahun yang lalu, cekungan Bogotá telah menyimpan sedimen secara terus menerus dan sebagian besar tidak terganggu sejak akhir Pliosen.
Pérez-Angel dan tim peneliti menganalisis jenis lemak dalam bakteri yang diawetkan di dalam inti batuan untuk merekonstruksi catatan suhu dari Pliosen hingga Pleistosen, atau Zaman Es.
Hasilnya, wilayah daratan Andes tropis ini sekitar 3,7 derajat celsius lebih hangat daripada saat ini.
Sementara itu, permukaan laut tropis hanya 1,9 derajat celsius lebih hangat dibandingkan saat ini.
Kondisi tersebut berarti bahwa suhu daratan di kawasan tropis berubah sekitar 1,6 hingga hampir 2,0 kali lebih tinggi ketimbang suhu lautnya.
Samudera Pasifik mengalami kondisi El Niño yang hampir permanen selama akhir Pliosen, yang pada gilirannya semakin memanaskan pegunungan Andes tropis.
Fenomena El Niño modern telah menyebabkan pemanasan dan kekeringan yang signifikan di Andes utara.
Studi memperingatkan bahwa daerah tersebut bisa mengalami pemanasan tambahan, dengan El Niño yang berpotensi terjadi lebih sering akibat krisis iklim.
"Jika Anda membandingkan catatan suhu selama beberapa dekade terakhir dengan apa yang diprediksi oleh model iklim beberapa dekade lalu, Anda akan melihat bahwa semua data dunia nyata berada di ujung atas prediksi tersebut. Hal ini sebagian disebabkan oleh banyaknya mekanisme umpan balik di alam, dan melampaui ambang batas tertentu dapat memicu serangkaian peristiwa beruntun yang memperkuat perubahan," tutur penulis senior sekaligus peneliti di INSTAAR, Julio Sepúlveda.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya