Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengenal "Kelana", Program Edukasi Penyelamatan Lahan Basah Berkelanjutan

Kompas.com, 5 Februari 2026, 16:20 WIB
Yohanes Enggar Harususilo

Penulis

KOMPAS.com – Memperingati Hari Lahan Basah Internasional, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) dan APP Group mengajak generasi muda mengenal lebih dekat pengelolaan ekosistem gambut berkelanjutan.

Edukasi pengelolaan ekosistem gambut ini merupakan bagian dari kegiatan Kelana (Kenali Lingkungan Bareng Anak Muda) yang ini dilaksanakan di area operasional PT Wira Karya Sakti (WKS) Distrik VII.

Kelana merupakan program inisiasi KLH/BPLH yang dirancang sebagai platform edukasi lingkungan bagi generasi muda, dengan melibatkan dunia usaha sebagai mitra kolaboratif.

Pada pelaksanaan di Jambi, PT WKS berperan sebagai tuan rumah kegiatan, sekaligus membuka akses pembelajaran lapangan bagi peserta.

Puluhan pelajar SMA perwakilan dari beberapa daerah di Indonesia mengikuti rangkaian diskusi interaktif dan field trip yang berfokus pada perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut, mulai dari aspek hidrologi, pencegahan kebakaran, hingga pemanfaatan ekonomi yang selaras dengan prinsip keberlanjutan.

Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut KLH/BPLH, Edy Nugroho Santoso, menegaskan bahwa Kelana menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas edukasi ekosistem gambut kepada generasi muda melalui pendekatan kolaboratif.

“Pada peringatan Hari Lahan Basah Sedunia ini, kami bekerja sama dengan PT WKS untuk memberikan edukasi kepada generasi muda mengenai ekosistem gambut," ujar Edi.

"Gambut membutuhkan perhatian dari berbagai kalangan karena memiliki fungsi ekologis sekaligus potensi ekonomi. Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa memelihara gambut dapat berjalan seiring dengan manfaat ekonomi,” tambahnya.

Dia menambahkan, selain gambut, peserta juga diperkenalkan pada keterkaitan fungsi ekosistem mangrove sebagai bagian dari lahan basah, terutama dalam konteks keanekaragaman hayati, penyimpanan karbon, dan fungsi hidrologis.

“Baik gambut maupun mangrove memiliki peran strategis dalam mitigasi perubahan iklim, meskipun berada pada lanskap yang berbeda,” jelasnya.

Baca juga: Lahan Gambut Asia Tenggara Jadi Sumber Emisi Gas Rumah Kaca Signifikan

Pemilihan lokasi kegiatan di Distrik VII PT WKS, lanjut Edy, didasarkan pada praktik pengelolaan hidrologis gambut yang telah berjalan dengan baik, serta adanya pemberdayaan masyarakat di sekitar area konsesi, yang sejalan dengan arah kebijakan KLH dalam mendorong kolaborasi pemerintah dan dunia usaha.

Kelana merupakan program inisiasi KLH/BPLH yang dirancang sebagai platform edukasi lingkungan bagi generasi muda, dengan melibatkan dunia usaha sebagai mitra kolaboratif.DOK. APP GROUP Kelana merupakan program inisiasi KLH/BPLH yang dirancang sebagai platform edukasi lingkungan bagi generasi muda, dengan melibatkan dunia usaha sebagai mitra kolaboratif.

Sementara itu, Deputy Director of Corporate Strategic & Relations APP Group, Iwan Setiawan, menyampaikan, keterlibatan APP Group dalam Kelana merupakan bentuk dukungan terhadap program edukasi lingkungan yang diinisiasi pemerintah.

“Melalui program Kelana, kami mendukung upaya KLH untuk mengajak generasi muda melihat langsung bagaimana pengelolaan lahan gambut dilakukan secara bertanggung jawab," jelas Iwan.

"Anak-anak muda diperkenalkan pada metode pengelolaan gambut di area budidaya yang tetap memberikan manfaat ekonomi, sekaligus menjaga fungsi lingkungannya,” lanjutnya.

Ia menambahkan, pengalaman langsung di lapangan diharapkan dapat membangun pemahaman yang utuh dan mendorong peserta untuk menyebarkan narasi positif mengenai pengelolaan gambut yang benar dan berkelanjutan.

Princessa Erilca Ratu, salah satu peserta Kelana dari SMA Negeri 1 Manado, mengaku mendapatkan pembelajaran yang berkesan karena dapat melihat dan merasakan langsung pemanfaatan lahan basah.

“Kami sangat senang karena bisa merasakan langsung madu dari lahan basah dan belajar bagaimana ekosistem gambut dikelola hingga memiliki nilai ekonomi," ungkap Ratu.

"Dari kegiatan ini, saya jadi semakin sadar bahwa lahan basah itu dekat dengan kehidupan kita dan perlu dijaga bersama demi masa depan yang berkelanjutan,” tambahnya.

Apresiasi serupa disampaikan Sophie Kirana, Puteri Indonesia Lingkungan, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut. Dia menilai Kelana memberikan pemahaman yang komprehensif bagi generasi muda mengenai pentingnya ekosistem gambut.

“Kami belajar bahwa gambut bukan sekadar lahan kosong, tetapi memiliki peran besar bagi lingkungan. Harapannya, semakin banyak anak muda yang sadar dan ikut menjaga kelestarian gambut sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan,” ujarnya.

Baca juga: Kenaikan Permukaan Air Ubah Lahan Gambut Jadi Alat Lawan Krisis Iklim

Rangkaian kegiatan Kelana di PT WKS meliputi pemaparan pengelolaan tata air gambut, peninjauan pembangunan sekat kanal, praktik pengeboran gambut, pengenalan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (MPA), pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) madu, kegiatan penanaman, serta kunjungan ke situation room untuk memahami sistem pemantauan dan kesiapsiagaan di lapangan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Pemerintah
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Pemerintah
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
Pemerintah
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Pemerintah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Pemerintah
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
Pemerintah
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Swasta
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
Pemerintah
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Pemerintah
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Swasta
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
Pemerintah
Potensi Bioetanol Limbah  Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau