Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Implementasi Program "Waste to Energy" Harus Kedepankan Prinsip Sustainability

Kompas.com, 5 Februari 2026, 17:50 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - Program Waste-to-Energy (WtE) yang akan dijalankan Danantara Indonesia dinilai bisa menjadi salah satu solusi dalam mengatasi permasalahan sampah nasional, khususnya sampah yang bersumber dari limbah pangan.

Meski demikian, implementasi program ini perlu dijalankan dengan mengedepankan prinsip keberlanjutan lingkungan serta manfaat nyata bagi masyarakat.

"Masalah sampah yang sudah lama dan terus meningkat ini memang harus dicarikan jalan keluar. Kami melihat program Waste-to-Energy bisa dijadikan salah satu solusi untuk mengatasi masalah sampah," kata Koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Said Abdullah, dalam keterangan resminya, Kamis, (5/2/2026).

Baca juga: Sampah Campur Aduk, Biaya Operasional Waste to Energy Membengkak

Merujuk data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), timbulan sampah nasional pada 2025 mencapai 56,6 juta ton.

Komposisi terbesar berasal dari limbah rumah tangga, terutama sisa makanan sebesar 40,79 persen dan plastik sebesar 19,95 persen.

Sementara itu, kajian food loss and waste (FLW) di Indonesia periode 2000–2019 mencatat timbulan sampah sebesar 115–184 kilogram per kapita per tahun.

Dari sisi rantai pasok, timbulan terbesar terjadi di tahap konsumsi. Jika diakumulasi, total FLW pada periode tersebut mencapai 23-48 juta ton per tahun.

Berdasarkan fakta yang ada, Said menilai perlu adanya edukasi yang harus dilakukan secara partisipatif kepada seluruh warga dan keluarga.

"Pendekatannya tidak hanya sekadar kampanye memilah sampah tapi mulai memberikan kesadaran bagaimana sampah itu menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan lingkungan," ujar dia.

Baca juga: Gerakan Zero Waste di IKN, Targetkan 60 Persen Daur Ulang Sampah pada 2035

Said mengatakan program WtE yang diinisiasi Danantara Indonesia perlu memikirkan bagaimana melibatkan partisipasi masyarakat. Pendekatan yang partisipatif menjadi kunci sukses program WtE dalam memberikan solusi permasalahan sampah. Dengan demikian kemanfaatan yang dihasilkan juga bisa dirasakan oleh masyarakat.

"Secara ideal, sebuah program itu harus bisa melibatkan banyak pihak. Paling tidak dalam proses awal, Danantara bisa memastikan adanya partisipasi publik secara terbuka bagi program Waste-to-Energy ini," kata Said.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau