Editor
JAKARTA, KOMPAS.com - Program Waste-to-Energy (WtE) yang akan dijalankan Danantara Indonesia dinilai bisa menjadi salah satu solusi dalam mengatasi permasalahan sampah nasional, khususnya sampah yang bersumber dari limbah pangan.
Meski demikian, implementasi program ini perlu dijalankan dengan mengedepankan prinsip keberlanjutan lingkungan serta manfaat nyata bagi masyarakat.
"Masalah sampah yang sudah lama dan terus meningkat ini memang harus dicarikan jalan keluar. Kami melihat program Waste-to-Energy bisa dijadikan salah satu solusi untuk mengatasi masalah sampah," kata Koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Said Abdullah, dalam keterangan resminya, Kamis, (5/2/2026).
Baca juga: Sampah Campur Aduk, Biaya Operasional Waste to Energy Membengkak
Merujuk data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), timbulan sampah nasional pada 2025 mencapai 56,6 juta ton.
Komposisi terbesar berasal dari limbah rumah tangga, terutama sisa makanan sebesar 40,79 persen dan plastik sebesar 19,95 persen.
Sementara itu, kajian food loss and waste (FLW) di Indonesia periode 2000–2019 mencatat timbulan sampah sebesar 115–184 kilogram per kapita per tahun.
Dari sisi rantai pasok, timbulan terbesar terjadi di tahap konsumsi. Jika diakumulasi, total FLW pada periode tersebut mencapai 23-48 juta ton per tahun.
Berdasarkan fakta yang ada, Said menilai perlu adanya edukasi yang harus dilakukan secara partisipatif kepada seluruh warga dan keluarga.
"Pendekatannya tidak hanya sekadar kampanye memilah sampah tapi mulai memberikan kesadaran bagaimana sampah itu menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan lingkungan," ujar dia.
Baca juga: Gerakan Zero Waste di IKN, Targetkan 60 Persen Daur Ulang Sampah pada 2035
Said mengatakan program WtE yang diinisiasi Danantara Indonesia perlu memikirkan bagaimana melibatkan partisipasi masyarakat. Pendekatan yang partisipatif menjadi kunci sukses program WtE dalam memberikan solusi permasalahan sampah. Dengan demikian kemanfaatan yang dihasilkan juga bisa dirasakan oleh masyarakat.
"Secara ideal, sebuah program itu harus bisa melibatkan banyak pihak. Paling tidak dalam proses awal, Danantara bisa memastikan adanya partisipasi publik secara terbuka bagi program Waste-to-Energy ini," kata Said.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya