Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
CERITA LESTARI

Dari Bekas Tambang Jadi Hutan, Jejak Keberlanjutan PT Vale di Sorowako

Kompas.com, 20 Februari 2026, 14:05 WIB
Yakob Arfin T Sasongko,
Agung Dwi E

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Upaya reklamasi lahan pascatambang yang dimulai hampir dua dekade lalu oleh PT Vale Indonesia Tbk di kawasan Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan (Sulsel), kini menunjukkan hasil nyata.

Di kawasan konsesi pertambangan nikel tersebut, PT Vale mereklamasi lahan pascatambang lewat pendekatan keberlanjutan yang mencakup pemulihan hutan, konservasi spesies endemik, rehabilitasi pesisir, hingga pengelolaan limbah.

Salah satu jejaknya terlihat di Arboretum Bukit Himalaya, area pascatambang seluas sekitar 30 ha yang mulai direklamasi sejak 2005-2006.

Head of Sorowako Process Operations PT Vale Indonesia Tbk Iqbal Alfarobi mengatakan, kawasan tersebut dikembangkan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak.

“Arboretum Bukit Himalaya memang area pascatambang. Kami mulai reklamasi itu kira-kira di tahun sekitar 2005-2006,” ujar Iqbal sebagaimana dikutip dari program “Menjadi Indonesia” di YouTube Kompas.com, Senin (16/2/2026).

Ia menjelaskan, reklamasi dilakukan bekerja sama dengan dinas kehutanan serta akademisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Hasanuddin (Unhas). Kawasan tersebut juga diresmikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang kala itu dijabat Purnomo Yusgiantoro pada 2006.

Ragam flola dan fauna kini menjadikan Arboretum Bukit Himalaya sebagai habitat sebagai cermin keberhasilan terwujudnya suksesi alami. KOMPAS.com/Fikria Hidayat; Gitano Prayogo Ragam flola dan fauna kini menjadikan Arboretum Bukit Himalaya sebagai habitat sebagai cermin keberhasilan terwujudnya suksesi alami.

Setelah hampir 19 tahun, arboretum itu menunjukkan perkembangan signifikan. Tumbuhan dasar, seperti rumput-rumputan tumbuh, anakan pohon mulai muncul, dan pohon-pohon utama, telah menjulang tinggi.

Sejumlah flora khas Sulawesi juga mulai terlihat, seperti buah dengen (Dillenia serrata) dan belimbing bajo (Sarcotheca celebica) yang tumbuh di antara vegetasi reklamasi.

Fauna pun perlahan bermigrasi kembali ke kawasan tersebut. Beberapa satwa endemik yang terpantau antara lain adalah julang Sulawesi (Rhyticeros cassidix), kuskus Sulawesi (Ailurops ursinus), serta nuri Sulawesi (Tanygnathus sumatranus) yang memanfaatkan kanopi hutan sebagai habitat dan sumber pakan.

Pohon beringin di Arboretum Bukit Himalaya menjadi salah satu tanaman utama yang memadati ekosistem Arboretum Bukit Himalaya di Sorowako. KOMPAS.com/Fikria Hidayat; Gitano Prayogo Pohon beringin di Arboretum Bukit Himalaya menjadi salah satu tanaman utama yang memadati ekosistem Arboretum Bukit Himalaya di Sorowako.

“Salah satu parameter keberhasilan reklamasi itu adalah kemunculan tumbuhan-tumbuhan dasar seperti rumput-rumputan, kemudian ditemukan juga ada anakan-anakan dan pohon-pohon utama yang tinggi. Dan, kemudian juga kami sudah mulai menemukan adanya fauna yang sudah bermigrasi kembali ke area reklamasi tersebut,” kata Iqbal.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa secara ekologis, area reklamasi mulai berfungsi mendekati rona awalnya.

Perkembangan vegetasi dan fauna yang mulai kembali di Arboretum Himalaya menjadi penanda bahwa proses reklamasi tidak berhenti pada tahap penanaman awal. Seiring waktu, kawasan tersebut mulai menunjukkan dinamika ekosistem yang tumbuh secara alami.

Spv Reclamation & Rehabilitation PT Vale Indonesia Tbk Charles Andrianto menjelaskan, Arboretum Himalaya kini menjadi contoh suksesi alami bisa terjadi di lahan pascatambang.

Menurut dia, kehadiran rotan serta betao kuning yang tumbuh tanpa ditanam langsung menjadi indikator bahwa ekosistem mulai pulih.

“Kalau Arboretum Himalaya belum siap secara ekosistem, tentunya suksesi ini tidak akan terjadi. Maka dari itulah, kami yakin bahwa di area Arboretum Himalaya sudah siap dan sudah terjadi suksesi alami,” ujarnya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau