KOMPAS.com - Perusahaan teknologi besar seperti Amazon, Meta, Google, dan Microsoft mendominasi pembelian energi bersih di tingkat korporasi global sepanjang 2025.
Dilansir dari ESG Today, Senin (23/2/2026), keempat perusahaan itu berkontribusi pada 49 persen dari total volume perjanjian pembelian listrik bersih (power purchase agreement/PPA) secara global.
Tujuannya, untuk memenuhi kebutuhan energi dari infrastruktur kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang kini makin berkembang pesat.
Sementara itu, menurut laporan terbaru BloombergNEF (BNEF) perusahaan lainnya justru mengurangi aktivitas pembelian secara signifikan sepanjang tahun tersebut.
Baca juga: Meta Gandeng TerraPower Bangun 8 Reaktor Nuklir Canggih di AS
“Pembeli energi bersih korporasi saat ini bergerak dengan dua kecepatan yang berbeda. Pembeli teknologi besar mulai masuk ke transaksi yang lebih besar dan teknologi perintis, sementara perusahaan yang lebih kecil menghadapi realitas pasar listrik,” ungkap Analis Energi Korporasi BNEF sekaligus penulis utama laporan, Nayel Brihi.
“Beberapa pembeli di pasar yang lebih baru bahkan masih dalam tahap mengenal konsep perjanjian pembelian hasil produksi,” imbuh dia.
Berdasarkan laporan BNEF 1H 2026 Corporate Energy Market Outlook, volume global PPA energi bersih korporasi turun 10 persen menjadi 55,9 gigawatt (GW) pada tahun lalu. Brihi mencatat, penurunan itu pertama kali terjadi, setelah delapan tahun berturut-turut mengalami pertumbuhan.
Baca juga: Amazon Luncurkan Layanan Investasi Kredit Karbon, Apa Itu?
Kendati demikian, 2025 tetap menjadi tahun dengan volume transaksi pembelian energi bersih tertinggi kedua sepanjang sejarah. Angkanya dua kali lipat lebih banyak dibandingkan tahun 2020.
Selain itu, setiap kawasan utama mencatatkan volume setidaknya setara atau lebih tinggi daripada 2023.
Laporan tersebut menemukan, Meta mengungguli Amazon sebagai pembeli energi bersih korporasi terbesar, dengan kontrak 10,24 GW pada 2025, tepat di atas Amazon yang mencapai 10,22 GW.
“Secara regional, aktivitas PPA Meta sebagian besar terfokus di Amerika Serikat, sementara Amazon menjadi pembeli energi bersih korporasi paling aktif di Eropa dan Asia Pasifik,” ucap dia.
Laporan juga mencatat adanya pergeseran signifikan perusahaan teknologi raksasa ke energi nuklir, yang menyumbang hampir seperempat atau 23 persen dari aktivitas PPA Meta dan Amazon.
Perbedaan aktivitas pembelian energi bersih antara perusahaan teknologi besar dengan pembeli korporasi lainnya terlihat paling jelas di Amerika Serikat. Di negara ini, aktivitas PPA mencapai rekor 29,5 GW dalam setahun.
Akan tetapi, jumlah pembelinya turun daripada tahun sebelumnya, menjadi hanya 33 pembeli. Brihi menyampaikan, kondisi tersebut diakibatkan ketidakpastian tarif serta kebijakan pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang menghentikan secara bertahap insentif pajak.
Sehingga, menahan aktivitas perusahaan-perusahaan yang lebih kecil. Laporan itu juga menunjukkan adanya pergeseran dari transaksi berbasis satu teknologi menuju solusi yang menawarkan pasokan beban dasar.
Pengembang yang terlibat dalam kontrak listrik berdaya pasti seperti proyek surya yang terintegrasi dengan penyimpanan energi, hibrida surya dan angin, atau PPA nuklir, mencakup tujuh dari 10 penjual terbesar selama tahun 2025.
Baca juga: Kembangkan Energi Bersih, Pertamina NRE Gandeng Perusahaan China
Produk yang menyerupai baseload menyumbang aktivitas sebesar 5,2 GW sepanjang tahun.
Dari sisi geografis, sepanjang 2025 Amerika Utara menjadi satu-satunya kawasan yang mencatat pertumbuhan dengan volume PPA energi bersih meningkat tipis menjadi 32,1 GW dari 31,9 GW pada tahun sebelumnya.
Sebaliknya, aktivitas di kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika turun 13 persen menjadi 17 GW, seiring harga listrik negatif di Eropa yang menggerus nilai proyek surya serta angin.
Volume di Asia Pasifik juga turun 36 persen, terutama akibat perlambatan di India dan Korea Selatan. Jepang menjadi pengecualian dengan mencatat rekor aktivitas sebesar 1,1 GW.
“Agar pasar kembali tumbuh, kita perlu melihat opsi pasokan listrik bersih dan andal, seperti proyek surya yang terintegrasi dengan penyimpanan energi, dapat terealisasi dalam skala besar dan dengan harga yang kompetitif,” jelas Brihi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya