KOMPAS.com - Meta, pemilik Facebook, Instagram, dan WhatsApp bekerja sama dengan perusahaan teknologi nuklir TerraPower untuk membangun delapan reaktor nuklir canggih di Amerika Serikat.
Dilansir dari ESG Today, Senin (12/1/2026), fasilitas nuklir tersebut memanfaatkan teknologi Natrium milik TerraPower, yang mendukung kebutuhan energi Meta sekaligus sebagai sumber energi bebas karbon berkapasitas 2,4 gigawatt (GW).
Presiden dan CEO TerraPower, Chris Levesque mengatakan reaktor nuklir canggih harus digunakan untuk mengatasi lonjakan permintaan energi. Perusahaan tersebut tengah memulai pembangunan proyek nuklir canggih berskala komersial pertama di AS, yang diperkirakan selesai pada 2030 mendatang.
"Perjanjian dengan Meta ini dirancang untuk mendukung penyebaran cepat teknologi Natrium kami yang menyediakan daya yang andal, fleksibel, dan bebas karbon yang dibutuhkan negara kami," ujar Levesque.
Baca juga: PR Besar Temukan Cara Aman Buang Limbah Nuklir, Iodin-129 Bisa Bertahan 15 Juta Tahun
Sistem Natrium perusahaan dirancang agar terintegrasi ke dalam jaringan listrik dengan tingkat energi terbarukan yang bervariasi dan menggabungkan reaktor cepat natrium sebesar 345 megawatt (MW). Nantinya, sebagian besar pasokan energi disimpan di sistem penyimpanan energi garam cair lalu disalurkan ke dalam ke jaringan listrik.
Levesque menyebut, sistem penyimpanan internal setiap pembangkit juga meningkatkan pasokan energi hingga 500 MW selama lebih dari lima jam.
Berdasarkan perjanjian baru ini, Meta bakal menyediakan pendanaan untuk mendukung pengembangan pembangkit Natrium, dimulai dengan pengembangan awal dua unit Natrium baru. Selain itu, Meta menerima hak atas energi serta enam unit tambahan. Unit tambahan tersebut diperkirakan tiba paling cepat pada 2032.
“Meta berkomitmen untuk mendukung solusi energi inovatif yang dapat memberikan daya yang andal, terukur, dan bersih untuk operasi kami dan komunitas yang kami layani," ungkap Direktur Energi Global Meta, Urvi Parekh.
Baca juga: Respons Laporan ESDM soal Capaian Bauran EBT, IESR: Hanya Bertambah 1,3 GW
Pada akhir 2024, Meta mengumumkan peluncuran permintaan proposal atau request for proposal (RFP) untuk pengembang energi nuklir di AS guna menyediakan kapasitas nuklir baru, dengan target penambahan antara 1 hingga 4 GW pembangkit nuklir baru, yang pengirimannya akan dimulai awal 2030-an.
Sementara, di awal tahun lalu Meta bersama perusahaan-perusahaan termasuk raksasa teknologi seperti Amazon dan Google yang sepakat mendukung tujuan melipatgandakan kapasitas energi nuklir global hingga tiga kali lipat pada 2050.
"Perjanjian dengan TerraPower ini hasil dari proses RFP nuklir Meta, yang mengidentifikasi pengembang energi nuklir terkemuka untuk membantu kami memajukan tujuan energi kami, menandai langkah maju yang signifikan dalam memajukan teknologi nuklir generasi berikutnya," imbuh dia.
Pengumuman kerja sama itu merupakan langkah terbaru dari serangkaian tindakan Meta beralih ke tenaga nuklir guna mengatasi kebutuhan peningkatan produksi listrik yang cepat dalam mengakomodasi pertumbuhan kapasitas pusat data berbasis AI dan konsumsi daya.
Di samping itu, mengurangi dampak emisi dari operasional perusahaan.
Meta telah menetapkan target mencapai emisi nol bersih di seluruh rantai nilainya pada 2030, dan berupaya menggunakan 100 persen listrik di pusat data maupun kantornya dengan energi terbarukan.
Meski demikian, dalam Laporan Keberlanjutan tahun 2024 Meta menyatakan target Net Zero pada 2030 akan sulit ditempuh meski operasional perusahaannya telah mempertahankan emisi nol bersih.
"Tantangan untuk mencapai tujuan keberlanjutan kami, mengingat peningkatan permintaan energi dan sumber daya yang didorong oleh AI bukanlah hal yang unik bagi Meta," kata Meta dalam laporan itu.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya