Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Ungkap Pemicu Hilangnya Hiu Putih di Australia Selatan Tiba-tiba

Kompas.com, 23 Februari 2026, 22:19 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Fenomena hilangnya hiu putih (Carcharodon carcharias) secara tiba-tiba di Kepulauan Neptune, kepulauan di Australia Selatan diyakini akibat serangan paus pembunuh (Orcinus orca). Namun, studi terbaru Flinders University mengungkapkan penyebabnya lebih kompleks dari yang dijelaskan sebelumnya.

Para peneliti menyampaikan, ketidakhadiran hiu putih dalam jangka waktu yang panjang tidak selalu disebabkan oleh terusirnya populasi mereka karena paus pembunuh.

“Hasil studi kami menunjukkan bahwa paus pembunuh memang dapat memicu respons langsung dari hiu putih, tetapi mereka tidak selalu menjadi satu-satunya penjelasan ketika berbicara tentang hilangnya hiu dalam jangka panjang,” ungkap peneliti dari Flinders University dan Western Australian Cetacean Research Centre (CETREC), Isabela Reeves dilansir dari Scetech Daily, Senin (22/2/2026).

Baca juga: Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim

Para ilmuwan melaporkan absensi berkepanjangan juga dapat mencerminkan pola pergerakan alami hiu. Mereka meneliti data 12 tahun berdasarkan pelacakan akustik bersama dengan catatan penampakan saat pariwisata satwa liar.

Dalam studi baru yang dipublikasikan dalam jurnal Wildlife Research ini, para peneliti menggabungkan lebih dari satu dekade telemetri akustik dengan catatan penampakan dari pariwisata. Tujuannya, menentukan apakah hilangnya hiu pada 2015 itu tidak biasa atau merupakan bagian dari naik turunnya alami kehadiran hiu putih di Kepulauan Neptune.

“Sepanjang studi 12 tahun tersebut, kami mencatat enam ketidakhadiran berkepanjangan selama lebih dari 42 hari, dan hanya satu yang bertepatan dengan kehadiran paus pembunuh," jelas Reeves.

Tim peneliti menyimpulkan, hilangnya hiu putih dalam waktu lama dari Kepulauan Neptune, Australia Selatan, setelah peristiwa pemangsaan tahun 2015 kemungkinan tidak serta-merta disebabkan paus pembunuh.

Baca juga: Polusi Cahaya Kota Bisa Ganggu Sistem Biologis Hiu

“Ketidakhadiran terlama yang kami catat bahkan lebih lama daripada peristiwa tahun 2015 dan terjadi ketika tidak ada paus pembunuh yang terdeteksi sama sekali. Ini menunjukkan bahwa meskipun paus pembunuh dapat memicu kepergian jangka pendek secara langsung, mereka tidak selalu menjadi satu-satunya penyebab hilangnya hiu secara berkepanjangan dari lokasi asli," papar dia.

Paus Menyerang Hiu

Berdasarkan laporan pada 2 Februari 2015, sekitar enam paus pembunuh tampak menyerang dan membunuh seekor hiu putih dengan jarak 20 meter dari kapal selam kandang di Neptune Islands Group Marine Park.

Para pengamat menuturkan, tiga paus tampak menggiring hiu, membatasi pergerakannya. Sementara individu yang lain menghantamnya dengan kepala mereka. Hiu terpaksa menyelam ke permukaan air kemudian muncul di permukaan yang menandai bahwa serangan tersebut berhasil.

Dalam beberapa pekan berikutnya, hiu putih tidak terlihat di area ini selama sekitar dua bulan. Alhasil banyak pihak mengaitkan hilangnya hiu akibat serangan paus pembunuh, lalu membandingkannya dengan insiden serupa yang terdokumentasi di Afrika Selatan.

Penelitian dari Afrika Selatan, Meksiko, dan California menunjukkan ketidakhadiran hiu setelah pertemuan dengan paus pembunuh dapat berlangsung selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan dan bahkan dapat menyebabkan pengabaian jangka panjang terhadap lokasi tertentu.

Namun, sebagian besar penelitian sebelumnya terutama mengandalkan pengamatan permukaan, bukan data pelacakan jangka panjang.

Baca juga: Menanti 100 Tahun Pulihnya Populasi Hiu Paus, Ikan Terbesar Penghuni Nusantara

Penulis senior Profesor Charlie Huveneers, pemimpin Southern Shark Ecology Group, menjelaskan bahwa keberadaan hiu putih di lokasi agregasi bisa sangat bervariasi. Menurut studi, jeda panjang dalam kehadiran hiu terjadi bahkan ketika tidak ada bukti adanya aktivitas paus pembunuh atau kematian hiu.

“Walaupun peristiwa-peristiwa ini tampaknya menyebabkan kepergian segera, ketidakhadiran hiu putih dalam waktu lama di Kepulauan Neptune kemungkinan besar mencerminkan variabilitas alami dalam keberadaan hiu putih daripada respons perilaku terhadap paus pembunuh,” beber Huveneers.

Studi ini menyoroti pentingnya pemantauan jangka panjang untuk memahami pergerakan dan kesetiaan lokasi hiu putih, sekaligus menantang gagasan bahwa paus pembunuh selalu atau satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas ketidakhadiran hiu dalam waktu lama.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah
Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah
LSM/Figur
Menhut Pamerkan Potensi Perdagangan Karbon RI di Forum Internasional AS
Menhut Pamerkan Potensi Perdagangan Karbon RI di Forum Internasional AS
Pemerintah
Jutaan Anak Indonesia Terdampak Krisis Iklim, Perempuan Paling Rentan
Jutaan Anak Indonesia Terdampak Krisis Iklim, Perempuan Paling Rentan
Pemerintah
Data 60 Tahun Ungkap Ketidakjelasan Tugas Jadi Sumber Stres Utama Karyawan
Data 60 Tahun Ungkap Ketidakjelasan Tugas Jadi Sumber Stres Utama Karyawan
Pemerintah
Ilmuwan Peringkatkan Potensi Peningkatan Cuaca Ekstrem Sepanjang 2026
Ilmuwan Peringkatkan Potensi Peningkatan Cuaca Ekstrem Sepanjang 2026
Pemerintah
Petrofin Journalist Academy ke-5 Digelar, Dukung Anak Muda Optimalkan AI
Petrofin Journalist Academy ke-5 Digelar, Dukung Anak Muda Optimalkan AI
BUMN
Proyek Energi Terbarukan dengan Baterai di Eropa Naik 450 Persen pada 2030
Proyek Energi Terbarukan dengan Baterai di Eropa Naik 450 Persen pada 2030
Pemerintah
DEN: WFH Namun Jalanan Masih Macet, Artinya  Ada yang Salah
DEN: WFH Namun Jalanan Masih Macet, Artinya Ada yang Salah
Pemerintah
1 Dekade Elektrifikasi di China, Jejak Revolusi Senyap Menuju Masa Depan Hijau
1 Dekade Elektrifikasi di China, Jejak Revolusi Senyap Menuju Masa Depan Hijau
BUMN
Jalan Panjang Talenta Indonesia dan Upaya Bangun Generasi Siap Masa Depan di Asia Tenggara
Jalan Panjang Talenta Indonesia dan Upaya Bangun Generasi Siap Masa Depan di Asia Tenggara
BrandzView
Dilema AI: Diandalkan untuk Efisiensi, Diragukan untuk Ekspansi Bisnis
Dilema AI: Diandalkan untuk Efisiensi, Diragukan untuk Ekspansi Bisnis
Pemerintah
Hujan Diprediksi Masih Melanda Sejumlah Wilayah di Tengah Cuaca Panas
Hujan Diprediksi Masih Melanda Sejumlah Wilayah di Tengah Cuaca Panas
Pemerintah
India dan Pakistan Dilanda Gelombang Panas, Suhu Capai 50 Derajat
India dan Pakistan Dilanda Gelombang Panas, Suhu Capai 50 Derajat
Swasta
EL Nino dan IOD Tingkatkan Risiko Konflik Bersenjata
EL Nino dan IOD Tingkatkan Risiko Konflik Bersenjata
LSM/Figur
Manfaatkan Barang Bekas untuk Bersihkan Sampah, Siswi SMAN 40 Jakarta Bikin 'Sapu Teknologi'
Manfaatkan Barang Bekas untuk Bersihkan Sampah, Siswi SMAN 40 Jakarta Bikin "Sapu Teknologi"
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau