Editor
JAKARTA, KOMPAS.com - Grab Indonesia meluncurkan Panduan Transisi Kemasan Berkelanjutan (Sustainable Packaging Playbook) bagi mitra merchant GrabFood sebagai upaya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai di layanan pesan-antar makanan.
Panduan yang dikembangkan bersama World Resources Institute (WRI) Indonesia dan Bestari Sustainability ini diperkenalkan dalam acara Teras Perwira di Jakarta, Rabu (29/1/2026).
Inisiatif tersebut sejalan dengan komitmen Grab untuk mencapai target Zero Packaging Waste in Nature atau Nol Sampah Kemasan di Alam pada 2040.
Baca juga: Mangrove Jadi Perangkap Sampah Plastik, Apa Dampaknya?
Chief Executive Officer Grab Indonesia Neneng Goenadi mengatakan, transisi kemasan berkelanjutan dilakukan secara bertahap dan inklusif agar dapat diadopsi oleh seluruh mitra usaha, termasuk pelaku UMKM.
“Grab berkomitmen untuk terus mendorong dan mendampingi Mitra Merchant dalam memahami serta bertransisi menggunakan kemasan yang lebih berkelanjutan,” ujar Neneng dalam keterangan resmi, Senin (23/2/2026).
Peluncuran panduan ini dilakukan di tengah meningkatnya penggunaan kemasan plastik sekali pakai akibat pertumbuhan layanan pesan-antar makanan dan belanja daring.
Berdasarkan Analisis Studi Bestari (2025), satu pesanan berpotensi menghasilkan sekitar 50 gram plastik sekali pakai. Jika diakumulasi dari 100 restoran atau toko, jumlah tersebut dapat mencapai sekitar 85.000 kilogram sampah plastik per tahun.
Langkah ini juga mendukung target pemerintah melalui Permen LHK Nomor 75 Tahun 2019 yang menargetkan pelarangan total penggunaan plastik sekali pakai seperti styrofoam, kantong plastik, sedotan, dan alat makan plastik pada 2030.
Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular Kementerian Lingkungan Hidup RI Agus Rusly turut hadir dalam peluncuran tersebut.
Grab menyebut fase awal implementasi akan difokuskan pada sosialisasi, edukasi, serta uji coba bersama sejumlah mitra merchant.
Salah satu mitra merchant, Sinta dari Wing Emperor, mengaku telah merasakan manfaat setelah beralih menggunakan kemasan daur ulang. Menurutnya, respons pelanggan positif dan kualitas produk tetap terjaga.
Selain panduan bagi merchant, Grab juga membuka partisipasi masyarakat melalui inisiatif GrabExpress Recycle, yang memungkinkan pengguna mengirimkan sampah kemasan seperti botol plastik dan kardus ke bank sampah atau lokasi daur ulang terdekat.
Baca juga: Sampah Plastik Tanggung Jawab Konsumen Atau Produsen?
Grab menyatakan akan terus mengembangkan inisiatif keberlanjutan melalui kolaborasi dengan pelaku usaha, penyedia solusi kemasan, pemerintah, dan komunitas guna memastikan pengurangan sampah plastik dilakukan secara terukur dan berkelanjutan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya