Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Konflik AS-Israel Vs Iran Jadi Alarm Transisi Energi di Indonesia, Mengapa?

Kompas.com, 4 Maret 2026, 09:52 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kenaikan harga minyak global, yang dipicu ekskalasi serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran, dinilai akan memperberat beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia.

‎"Kita tidak tahu akan seberapa lama rentang perangnya. Kalau naik terus, sudah pasti nanti kita harus hitung subsidinya akan membengkak besar. Nah, di situ sebenarnya menjadi bukti kebutuhan kita untuk transisi energi," ujar Direktur Eksekutif Yayasan Kesejahteraan Berkelanjutan Indonesia (SUSTAIN), Tata Mustasya, Selasa (3/3/2026).

Baca juga:

Konflik AS-Israel vs Iran dan ketergantungan energi fosil

Perang bisa jadi pemicu transisi energi di Indonesia

‎Jika masih mengandalkan energi fosil, Indonesia disebut akan terus terombang-ambing fluktuasi harga.

Energi fosil, seperti minyak bumi dan gas, termasuk tradable goods atau barang yang telah biasa diperdagangkan di pasar luar negeri, yang harganya berpotensi naik atau turun.

‎Namun, sebagai produsen, Indonesia masih untung untuk baru bara, karena memakai domestic market obligation (DMO), dengan harga 70 dollar AS atau sekitar Rp 1,18 juta per ton. Sementara itu, harga batu bara global 100 dollar AS atau setara Rp 1,69 juta per ton.

Menurut Tata, kenaikan harga minyak global akibat ketegangan di wilayah tersebut semestinya menjadi pemicu bagi pemerintah Indonesia untuk serius melakukan transisi energi.

Ia memperingatkan, krisis seperti itu memang pasti terjadi dan energi fosil suatu saat nanti akan habis.

Jika tidak siap, cepat atau lambat Indonesia akan menekan harga minyak global yang melambung dengan terus meningkatkan subsidinya.

Baca juga:

Nasib transisi energi di Indonesia 10 tahun ke depan

Konflik AS-Israel vs Iran picu kenaikan harga minyak global. Ahli nilai subsidi BBM Indonesia bisa Bengkak dan dorong urgensi transisi energi.Dok. SHUTTERSTOCK Konflik AS-Israel vs Iran picu kenaikan harga minyak global. Ahli nilai subsidi BBM Indonesia bisa Bengkak dan dorong urgensi transisi energi.

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memiliki banyak "ambisi" dengan berbagai proyek berskala besarnya. Salah satunya, target pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW).

Kendati demikian, strategi implementasi PLTS 100 GW, serta skema pendanaan dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN)-nya dinilai masih belum jelas.

"Nah, saya sudah diskusi sama banyak pihak, itu yang jelas belum ada arahnya mau ke mana. Jadi, implementasinya belum jelas. Kalau enggak ada dana APBN sih enggak masalah, bisa dilepas ke pasar atau ke publik, seperti solar panel (PLTS atap). Nah, (program PLTS 100 GW) belum ada rencana yang jelas," tutur Tata.

Hingga saat ini, belum ada kemajuan dalam bauran energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Di sisi lain, pemasangan PLTS atap untuk rumah tangga disebut dipersulit dengan berbagai aturan. Padahal, semestinya justru perlu diberikan insentif untuk mendorong peningkatan bauran EBT.

Menurut Tata, program PLTS 100 GW akan susah terlaksana sehingga solusinya sebaiknya melibatkan partisipasi publik. Apalagi, saat ini dari sektor rumah tangga dan industri justru mengantre untuk memasang PLTS.

"Saya juga memasang, dipersulit. Kalau ada insentifnya, kita bisa maju pelan-pelan, karena kalau (dengan program berskala besar yang mengandalkan) APBN susah ya sekarang," ucapnya.

Selain itu, pendanaan untuk EBT semestinya bisa diperoleh dari pungutan ekspor batu bara. Sebagian pungutan ekspor batu bara dapat dialihkan untuk pembiayaan EBT.

Namun, rencana penerapan pungutan ekspor batu bara sebesar satu sampai lima persen per ton untuk membiayai transisi energi mulai awal Januari 2026 batal diterapkan.

"Itu hampir diterapkan. Tapi, enggak jadi karena tekanan pengusah-pengusaha. Saya kemarin ketemu salah satu direktur, ya dia ketawa-ketawa aja. Jadi, kira-kira itu bukan di level menteri lagi, di presiden sekarang. Tadinya kan janjinya 1 Januari (2026)," ujar Tata.

Jika pola kebijakan saat ini terus berlanjut, dalam 10 tahun ke depan, Indonesia masih berat untuk melakukan transisi energi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau