KOMPAS.com - Serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran sejak Sabtu (28/2/2026) memicu lonjakan harga minyak global. Namun, ekskalasi konflik tersebut dinilai tidak akan mempercepat transisi energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia.
Penilaian tersebut berdasarkan penggunaan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) di Indonesia sudah sedikit, atau sekitar lima sampai 10 persen. Sementara itu, energi fosil di Indonesia didominasi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara.
Baca juga:
Pakar energi dari Universitas Padjajaran (Unpad), Yayan Satyakti menganggap, lonjakan harga saham batu bara di tengah eskalasi konflik AS dan Israel versus Iran hanya sentiman teknikal.
"Kalau secara fundamentalnya, enggak. Agak-agak kurang begitu relevan ya. Kalau kita (Indonesia) transisi energi itu langsung masuk ke PLTU batu bara. (Lonjakan harga saham batu bara) Itu hanya sentimen terhadap pasar saham," ujar Yayan kepada Kompas.com, Senin (2/3/2026).
Di sisi lain, faktor keberhasilan transisi energi ke EBT di Indonesia lebih banyak dipengaruhi investasi, bukan tekanan dari kenaikan harga minyak global.
Permasalahan pembiayaan transisi energi ke EBT di Indonesia diperparah dana Just Energy Transtition Partnership (JETP), yang mana sampai sekarang disebut masih belum turun.
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia dianggap lebih "menyukai" model peningkatan substitusi bahan bakar fosil dengan bakar bakar nabati melalui program biofuel yaitu program biodiesel dan bioetanol.
"Nah, ini yang digalangkan sekarang," tutur Yayan.
Sementara itu, transisi ke EBT, seperti tenaga surya, air, angin, dan panas bumi, di Indonesia saat ini masih belum terlalu signifikan.
Indonesia tidak mempunyai modal untuk transisi energi ke EBT dalam skala besar. Transisi energi ke EBT di Indonesia membutuhkan waktu minimal empat sampai lima tahun.
Apalagi, kebijakan Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto cenderung ke arah energi fosil.
Baca juga:
Cerobong asap dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Cirebon-1 terlihat dari permukiman warga di Desa Citemu, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Minggu (11/1/2026). Serangan AS dan Israel ke Iran sejak Sabtu (28/2/2026) memicu lonjakan harga minyak global. Lantas, apa hal itu picu transisi energi di Indonesia?Menurut Yayan, yang bisa dilakukan Indonesia saat ini mungkin memensiunkan dini PLTU batu bara Cirebon-1 dan menggantinya dengan PLTU Ombilin yang terletak di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat.
Transisi energi ke EBT di Indonesia lebih ke arah permasalahan struktural dan tidak dapat terjadi dalam jangka pendek yang dipicu kenaikan harga minyak global.
Hal itu berbeda dengan kondisi di Eropa yang sudah bagus sistem pembangkit dan pasar listrik untuk EBT.
Infrastruktur untuk pembangkit listrik dari EBT di Eropa sudah siap dan negara-negaranya hanya perlu memanfaatkannya. Sebaliknya, Indonesia tidak memiliki semua keunggulan Eropa itu.
"Kalau Indonesia kan kita enggak punya market system atau energy system and storage, kita kan masih belum ada. Ekosistemnya enggak mendukung. Jadi, kita tetap pakai fosil, yaitu pakai PLTU," ucap Yayan.
Relevansi transisi energi ke EBT memang ada jika ditarik dari kenaikan harga batu bara global akibat penutupan Selat Hormuz.
Kenaikan harga batu bara seiring dengan ketegangan geopolitik di wilayah tersebut menguatkan relevansi transisi energi ke EBT bagi negara-negara terdampak dengan kebutuhan konsumsi yang tinggi.
"Iya (meningkatkan relevansi transisi energi ke EBT). Nah, kemungkinan adanya ini (kenaikan harga minyak global), Tiongkok (sebagai negara importir dengan konsumsi minyak yang meningkat) memasoknya dari Rusia yang (mengirimnya) melalui Selat Hormuz. Jadi, kemungkinan harga batu bara itu akan naik. Nah, ini yang berpengaruh dari harga batu bara akibat adanya eskalasi harga minyak itu yang mempengaruhi terhadap saham-saham perusahaan batu bara," terang Yayan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya