Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Serangan AS-Israel ke Iran Ancam Transisi Energi dan Emisi Global

Kompas.com, 3 Maret 2026, 14:03 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber AFP

JAKARTA, KOMPAS.com - Serangan Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran membuat jaringan energi kian rentan akibat eskalasi penggunaan energi fosil, yang pada akhirnya mengancam percepatan transisi energi baru terbarukan (EBT).

Dosen Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, Mahawan Karuniasa menjelaskan, hal ini dikarenakan perang AS dan Iran menyebabkan hancurnya pangkalan militer, gedung perkantoran, gedung militer, fasilitas persenjataan, hingga bandara.

"Jaringan energi akan semakin rentan kalau dikaitkan dengan energi fosil ya, yang memang harapannya kita secara global bertransisi ke energi bersih justru dengan adanya perang ini malah memperkuat ketergantungan kepada infrastruktur energi fosil," ujar Mahawan saat dihubungi Kompas.com, Selasa (3/3/2026).

Menurut dia, kerusakan infrastruktur akibat konflik bersenjata memaksa negara-negara terdampak mengalihkan anggaran yang semula dirancang untuk investasi jangka panjang energi bersih, menjadi belanja jangka pendek guna memulihkan fasilitas energi fosil.

Serangan AS-Israel ke Iran jadi ancaman transisi energi

Emisi global melonjak akibat penggunaan energi fosil

Asap membubung dari Bandara Internasional Erbil, yang dihuni pasukan koalisi Amerika Serikat di Irak, di tengah pertempuran AS-Israel dengan Iran pada Minggu (1/3/2026). Serangan AS-Israel ke Iran disebut meningkatkan penggunaan energi fosil, yang memengaruhi transisi energi dan menyebabkan emisi global naik.AFP/SHVAN HARKI Asap membubung dari Bandara Internasional Erbil, yang dihuni pasukan koalisi Amerika Serikat di Irak, di tengah pertempuran AS-Israel dengan Iran pada Minggu (1/3/2026). Serangan AS-Israel ke Iran disebut meningkatkan penggunaan energi fosil, yang memengaruhi transisi energi dan menyebabkan emisi global naik.

Kondisi serupa pernah terjadi ketika fasilitas minyak Saudi Aramco menjadi sasaran serangan. Mahawan turut menyoroti terancamnya stabilitas jaringan energi global di Selat Hormuz.

"Bisa diperkirakan antara 20-30 persen minyak dan gas dunia mengalami gangguan dan ini tentu berimplikasi pada kestabilan pasokan," jelas Mahawan.

"Kemudian, harga energi naik tajam sehingga selain mengembalikan infrastruktur energi, tentu saja uang yang dialirkan untuk pemenuhan kebutuhan energi fosil justru semakin meningkat," imbuh dia.

Ledakan akibat perang juga memicu debu, pencemaran udara, serta risiko kebocoran minyak dan gas jika instalasi energi menjadi sasaran. Dampaknya, mencemari tanah, air darat, dan laut. Masyarakat sekitarnya juga bisa terpapar radiasi.

Mahawan menyebut, perang juga memicu lonjakan emisi global karena penggunaan energi fosil.

"Dampak kesehatan masyarakat yang tentu saja memperburuk, dan ini membutuhkan biaya bagi masing-masing negara yang terdampak. Tentu terjadi krisis ekonomi sosial karena harga BBM-nya bisa naik, transportasi naik, harga pangan karena infrastruktur hancur maka transportasi bisa menjadi lebih mahal, stok berkurang, suplai berkurang," jelas dia.

Konflik bersenjata pun mendorong ketidakstabilan sosial dan gelombang migrasi, ketika masyarakat terpaksa mengungsi ke wilayah atau negara lain demi mencari keamanan.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
LSM/Figur
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
LSM/Figur
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
LSM/Figur
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Swasta
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
LSM/Figur
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Swasta
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
LSM/Figur
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Pemerintah
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
BUMN
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Pemerintah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Pemerintah
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
BrandzView
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
Pemerintah
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Swasta
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau