Penelitian menunjukkan kopepoda berukuran lebih besar cenderung mengandung lebih banyak mikroplastik dibandingkan yang berukuran lebih kecil. Masuknya mikroplastik ke tubuh kopepoda menjadi perhatian karena organisme ini merupakan sumber makanan utama bagi berbagai jenis ikan.
“Kopepoda dimakan ikan kecil, lalu ikan kecil dimakan ikan yang lebih besar, hingga akhirnya ikan tersebut dikonsumsi manusia. Artinya, mikroplastik berpotensi berpindah sepanjang rantai makanan hingga ke manusia,” ujarnya.
Corry menilai, studi mengenai mikroplastik di laut Indonesia masih perlu terus dikembangkan terutama di wilayah laut dalam. Sekitar 70 persen wilayah laut Indonesia memiliki kedalaman lebih dari 200 meter, sehingga penelitian di ekosistem tersebut masih relatif terbatas.
“Temuan bahwa mikroplastik sudah mencapai kedalaman lebih dari dua kilometer menunjukkan bahwa persoalan sampah plastik tidak hanya terjadi di pesisir. Ini sudah menjadi masalah bagi ekosistem laut secara keseluruhan,” papar Corry.
Corry berharap penelitiannya dapat menjadi dasar bagi studi lanjutan mengenai pergerakan mikroplastik di laut dalam serta dampaknya terhadap organisme laut dan rantai makanan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya